ISLAMKU TUH DI SINI

ISLAMKU TUH DI SINI
Penulis
SAIFUL ARIF
Alumni TSC KPK RI 2017

Belahan bumi pertiwi bagai jambrut mutiara yang terbentang di atas garis khatulistiwa. Gema ripha loh jinawi toto tentrem kerto raharjo adalah slogan sempurna buat Indonesia tercinta. Lautan yang luas terbentang dengan sumber daya lautnya yang melimpah seolah menjadi aksesoris yang mempercantik keindahan nusantara. Tanah hitam nan subur menambah aromah terapi bagi berbagai jenis tanaman di atasnya. Masyarakat yang santun dengan aneka budaya dan bahasa yang mewarnai sisi-sisi kehidupan masyarakatnya. Terdapat lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa di Indonesia. atau tepatnya 1.340 suku bangsa menurut sensus BPS tahun 2010. Suku Jawa adalah kelompok suku terbesar di Indonesia dengan jumlah mencapai 41% dari total populasi.
Berbagai macam agama tumbuh subur di tanah pertiwi, diantaranya adalah agama Islam yang telah dibawah dan di sebar luaskan oleh 9 para wali yang tersebar di tanah Jawa. Berbagai macam budaya tumbuh dan berkembang, tetapi tidak menghalangi para wali untuk mensyi'arkan agama islam. Diantara para wali yang sangat sukses dalam menyampaikan dakwa islamnya adalah sunan Kalijaga (Raden Said). Dalam penyampain dakwa islamnya beliau mempunyai metode khusus bahkan bisa dikatakan lain dari para wali yang lainnya. Pendekatan yang beliau gunakan adalah cultur (budaya) setempat. Sebab beliau yakin bahwa agama yang datang pertama dan dianut oleh masyarakat jawa watktu itu diantaranya adalah Hindu. Gaya dan corak hidup mereka tidak terlepas dengan sistem aturan agama hindu. Maka sunan Kalijaga menggunaan tradisi masyarakat setempat sebagai media dakwanya. Tradisi yang tidak perlu ditinggalkan tetapi perlu diberikan nilai-nilai islami. Mulai mengucapkan syahadat dulu dan membaca bacaan basmallah dan mengakhiri bacaan hamdallah saat selesai melakukan sesuatu seperti selamatan (yang diisi dengan bacaan sholawat nabi) dan ruwatan.
Sunan Kalijaga, seorang anak pejabat yang menyebarkan Islam dengan model kebudayaan yang mampu beradaptasi dengan nilai lokal. Melalui kearifan lokal berbentuk pembangunan masjid Agung Demak, kesenian wayang bernuansa Islami dan tembang/lagu Ilir-ilir, dakwah Sunan Kalijaga mampu mendapatkan hati dan tempat terbaik di kalangan pengikutnya. Ini membuktikan bahwa proses Islam Nusantara yang menggabungkan kebudayaan lokal dan Islam sudah berlangsung sejak dulu sebagaimana sukses dipraktekan Sunan Kalijaga.
Islam sebagai sebuah agama mengatur kehidupan manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Untuk mencapai kesejahteraan itu, manusia diberikan akal pikiran dan wahyu yang berfungsi membimbing manusia dalam perjalanan hidupnya (Azyumardi Azra: 1998). Islam adalah agama yang diturunkan Allah SWT kepada manusia melalui perantara Nabi Muhammad SAW. Tujuan dakwah Islam bersifat universal, bukan monopoli suku, daerah atau bangsa tertentu sehingga kehadiran Islam menembus sekat geografis antar negara. Islam juga disebut sebagai dinnul islam (agama perdamaian).
Dengan mencermati penjelasan di atas bahwa sangat jelas jika islam di Indonesia itu sangat berbeda dengan islam di negara-negara arab. Islam di Indonesia mempunyai ciri islam yang menyatu dalam budaya membentuk pola pemahaman baru tanpa meninggalkan unsur syar'i yang termaktub di dalamnya. Beberapa bulan ini memang kita sempat dihebohkan dengan istilah "Islam Nusantara", walau konsep ini sebenarnya sudah sangat lama ada di bumi nusantara yaitu islam yang dikenalkan oleh para wali 9 tersebut. Dalam perjalanannya di Indonesia, ajaran Islam sudah terbukti mampu mewarnai, mempengaruhi dan mengubah budaya lokal dengan penuh kedamaian dan toleransi. Para ulama sejak dulu mengajarkan Islam sebagai agama yang anti kekerasan. Penyebaran Islam ditempuh dengan dialog penuh kebaikan, dakwah penuh keberkahan, dengan penduduk setempat dan akulturasi kebudayaan lokal dengan ajaran Islam. Secara perlahan Islam mengikis kepercayaan yang bersifat mistis dan tahayul digantikan gagasan rasional dan penuh kesucian. Dengan berbagai kelebihan itu, Islam di Nusantara dapat berkembang pesat dan diterima masyarakat secara luas.
Para kelompok kaum garis keras (sumbu pendek) mencermati islam dengan metode mereka sendiri yang ngawur dan terkesan menggunakan sistim pemaksaan. Makna di dalam al qur'an dan hadist ditelan secara leterleg tanpa ada penafsiran khusus dengan menggunakan pendekatan secara arif bijaksana. Orang dengan metode tersebut akan sangat mungkin melakukan gerakan radikal. Radikalisme adalah paham atau ideologi yang menuntut perubahan dan pembaruan sistem sosial dan politik dengan cara kekerasan. Secara bahasa kata Radikalisme berasal dari bahasa Latin, yaitu kata “radix” yang artinya akar. Radikalisme sering dikaitkan dengan gerakan kelompok-kelompok ekstrim dalam suatu agama tertentu. Ini sudah sering terjadi di negara kita, dan sangat membahayakan jika tidak dilakukan tindakan preventive oleh pemerintah dan para tokoh ulama. Kasus bom bunuh diri yang baru-baru ini terjadi di kota Surabaya di sebagaian gereja adalah bentuk ketidakpahaman mereka akan arti sebuah keberagaman. Pemaksaan kehendak pendapat dan berkenyakinan bahwa dengan membunuh diri dan juga orang non muslim lain adalah jihat. Sungguh pemahaman aqidah yang melenceng dan jauh dari rahmatan lil alamin.
Beberapa organisasi keagamann di indonesia antara lain Nahdlatul ulama (NU) sangat mengecam bentuk apapun sebagai iplementasi dari radikalisme. Berbagai opini dan pendapat dari berbagai kalangan pun bermunculan. Ada yang berpendapat bahwa maraknya aksi radikalisme agama timbul akibat lemahnya dan tidak seriusnya pemerintah dalam menangani kasus radikalisme yang semakin berkembang akhir-akhir ini. Kinerja Badan Intelejen Negara (BIN) pun kembali dipertanyakan sebab dianggap lambat merespon aktivitas kawanan teroris sehingga kasus perusakan dan peledakan bom dapat terjadi. Pendapat yang mengejutkan namun cukup logis mengatakan bahwa isu radikalisme diciptakan dan dipelihara oleh pihak tertentu sebagai bagian dari desain besar untuk meraih dan mengamankan kepentingan politik tertentu (Said Aqil Siroj: 2011). Litbang Kompas edisi Senin 9 Mei 2011 mengadakan dialog tentang Jalan Memupus Radikalisme mengadakan jajak pendapat dengan mengajukan pertanyaan "Menurut Anda, hal apa yang paling mendorong berkembangnya radikal bernuansa agama di Indonesia?". Hasilnya ialah; Pertama, Lemahnya penegakan hukum mencapai 28,0%; Kedua, Rendahnya tingkat pendidikan dan lapangan kerja mencapai 25,2 %; Ketiga, Lemahnya pemahaman ideologi Pancasila mencapai 14,6%; Keempat, Kurangnya dialog antar umat beragama mencapai 13,9%; Kelima, Kurangnya pemahaman agama mencapai 4,9%; Keenam, Ketidakpuasan terhadap pemerintah mencapai 2,3%; Ketujuh, Kesenjangan ekonomi mencapai 1,6%; Kedelapan, Lainnya mencapai 3,1%; Kesembilan, Tidak tahu/tidak jawab mencapai 6,4%.
Radikalisme ini bentuk virus yang membahayakan keutuhan kehidupan bangsa dan bernegara karena setiap invidu hanya mampu menerima pendapat pribadi bukan yang lain. Jadi jelas islam yang dipaksakan seperti ini tidak akan mendapatkan tempat di hati masyarakatnya bahkan hanya rasa ketakutan luar biasa. Islamku tuh di sini yaitu di Indonesia adalah islam yang sangat menghargai cinta perbedaan dan perdamaian. islam indonesia tuh islam yang berbudaya yang menjunnjung tinggi nilai kemanusiaan (hablum minannas) dengan menempatkan nilai toleransi budaya yang tinggi. Sangat mustahil jika indonesia akan disamakan dengan budaya bangsa arab dan akan terjadi kontradiktif di masyarakat. Sebab artefak kita sejak jaman nenek moyang adalah sangat kental dan kompleksitasnya tinggi dengan berbagai budaya setempat. Islam Indonesia adalah Islam Nusantara dan islamku tu di sini dalam dekapan ibu pertiwi dari sabang hingga merauke yang akan mampu menciptakan baldatun toyyibatun warobbul ghofur yaitu negara yang subur tanahnya, selaras kehidupan rakyatnya dan terjaga keamanannya serta kuat aqidahnya. Amin

PENDIDIKAN KARAKTER DENGAN KONSEP RUMAHKU SYURGAKKU

MENANAMKAN PENDIDIKAN KARAKTER ANAK
DENGAN KONSEP KELUARGAKU SYURGAKU

Gb. Keluarga Harmonis

A.    Latar Belakang
Pentingnya memberikan pendidikan informal bagi generasi penerus (anak) sangat menentukan keberhasilan pembangunan karakter sikap dan mental anak. Kemampuan dan kesabaran orang tua adalah kata kunci dimulainya sebuah penanaman karakter. Berawal dari keluargalah masa depan sebuah negara di pertaruhkan. Jika keluarga mampu membentuk karakter dan akhlakul karimah yang baik, maka bisa dipastikan bangsa akan mempunyai sosok pemimpin yang amanah, fathonah, tabligh, dan sidik seperti akhlak seorang nabi. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa penanaman pendidikan karakter ini sungguh menjadi pekerjaan yang tidak gampang diselesaikan begitu saja untuk mencapai hasil yang maksimal. Perlu beberapa komponen yang terlibat dan saling bersinergi untuk merapatkan barisan dalam mensukseskan program pendidikan karakter tersebut.
Keluarga adalah payung disaat hujan bagi anak, sahabat disaat kesepian dan bahkan lampu penerang disaat kegelapan. Anak sebelum memasuki dunia formal tentu ada pembelajaran dan pembiasaan-pembiasaan dalam pembentukan sikap yang baik dan positif di lingkungan informal (keluarga). Fenomena selama ini yang sering dijumpai adalah banyaknya konflik internal antara anak dengan orang tua yang mengakibatkan terjadinya gap dan missed communications. Larinya anak-anak dalam dunia gelap tentu sebagai implikasi dari hubungan yang tidak harmonis antara kedua belah pihak. Kasus narkoba yang terjadi tentunya bukan dianggap kejadian biasa tetapi sudah menjadi kejadian "darurat narkoba". Karena jika kita ingin melihat negara ini maju serta adil dan makmur dengan pemimpin yang amanah maka lihatlah bagaimana keadaan, kualitas serta karakter generasi mudanya sekarang ini.
Tidak gampang memang dan butuh keyakinan, energi besar serta kesabaran yang tinggi jika ingin mendapatkan hasil pemuda sebagai sosok pemimpin negara atau minimal sebagai pemimpin keluarga di masa yang akan datang. Keluarga adalah satuan unit terkecil yang terdiri dari berbagai macam komponen dan saling terkait satu dengan yang lainnya secara hirarkis. Oleh sebab itu dari sini pendidikan secara simultan itu dimulai dan apabila dalam penanaman fondasi mental juga spiritual kuat, maka bangunan apapun yang akan didirikan akan lebih mudah dan gampang serta menghasilkan bangunan yang tegak dan kokoh.
Komunikasi yang dibangun dikeluarga secara kondusif, antara anak, orang tua juga lingkungan keluarga adalah faktor penunjang yang utama. Masalah dan gangguan dari luar yang merupakan faktor eksternal akan mudah diselesaikan dengan baik. Realitas yang ada sekarang dari hasil survai di lingkungan dan lembaga pendidikan adalah karakter anak yang semakin jauh dari sifat sosial dan akhlakul karimah mulai terkikis. Salah satu faktornya yaitu perkembangan teknologi yang semakin pesat tanpa ada fungsi kontrol pada diri anak secara maksimal. Sehingga menjadikan pribadi yang ego tanpa mau bersosialisasi dengan yang lainnya. Teknologi-teknologi seperti Hand phone (HP) atau lebih dikenal oleh orang barat dengan mobile telah menciptakan sistim yang berdampak pada sikap anak yang tidak mau tahu dengan orang lain. Teknlogi ini telah menghipnotis anak dengan baik tanpa ada filterisasi dari lingkungan keluarga. Jika ini dibiarkan secara continue tentu yang rugi adalah orang tua. Menghasilkan generasi yang pintar dan cerdas karena ada metodologi pembelajaran secara langsung, tetapi rendah nilai berkarakter dalam sikap dan sosial masyarakat yang baik.
Banyak anak yang bisa berinteraksi dengan keluarga secara baik, hal ini tentu mereka menganggap bahwa keluarga adalah segalanya. Seperti disinggung di atas orang tua mampu menjadi sahabat, menjadi payung dan juga menjadi penerang disaat anak membutuhkan kasih sayang. Keharmonisan tercipta sebagai bentuk manifest hubungan link kecil terjalin secra sempurna. Sehingga pengaruh teknologi apapun yang akan dipakai, semuanya hanya sebagai nilai pembantu saja bukan sesuatu yang utama. Kita tidak bisa memungkiri masa digitalisasi di era milenium seperti sekarang ini penuh dengan tantangan juga peluang. Namun kita harus bisa belajar (sebagai orang tua) menghadapi tantangan dari dampak negatif sebuah percepatan teknologi. Jika kondisi ini ditanggap sebagai peluang dalam mengantarkan generasi muda yang cerdas dan martabat. Maka perkembangan teknologi akan mewarnai dan menghiasi pribadi anak-anak kita lebih bermanfaat lagi. Tidak bisa perkembangan teknologi kita bendung dengan sekuat tenaga agar tidak mendatangi, menghiasi kehidupan anak-anak. Namun perkembangan ini sebagai nilai peluang untuk mempercepat nilai informasi pada diri anak. Dampingan orang tua pada anak-anak akan memberikan stimulus untuk lebih mengarah pada pemanfaatan tenologi untuk menuju pada hal-hal positif dan berdaya guna maupun saing tinggi sehingga dapat menciptakan produk atau hasil demi kemaslahatan umat manusia.

B.     Pendidikan Karakter
Pendidikan ini secara otomatis terus dicover oleh keluarga yang merupakan awal dari penanaman karakter kepada anak. Pendidikan karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Tujuan pendidikan karakter adalah untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik. Penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character education)  dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja. kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas, oleh karena itu betapa pentingnya pendidikkan karakter. Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing), sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga komponen ini dapat dinyatakan bahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan.
Di era seperti sekarang ini tugas berat bagi orang tua sebagai tonggak pendidikan awal dan dasar di keluarga. Tidak mungkin keberhasilan dalam pendidikan tanpa ada campur tangan dari keluarga dan masyarakat secara sinergi. Terbitnya Permendikbud no 30 th 2017 tentang pelibatan keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan. Dengan adanya payung hukum ini tidak ada alasan bagi kita untuk tidak ikut campur dalam pembangunan karakter anak bangsa sebagai amanah UUD 1945 alinea ketiga.

C.    Teknologi Sebagai Media Pembelajaran Tambahan
Sebagai orang tua sangat penting bahkan menjadi suatu keharusan bisa mengarahkan anaknya ke dunia kesuksesan yang sebenarnya. Memberikan pemahaman dalam keluarganya untuk bisa dimanfaatkan secara positif untuk menambah pengetahuan lain yang tidak didapatkan di lingkungan formalnya. Pemahaman-pemahaman manfaat positif tentang teknologi seperti teknologi android kepada sang buah hati adalah bentuk iplementasi pendidikan di dalam lingkungan keluarga. Menjadikan alat tersebut sebagai media pembelajaran online dengan memberikan dan mencarikan nilai-nilai positif bagi sang buah hati. Misalnya teknologi Whatsapp (WA) sebagi forum belajar bersama-sama antar sahabat dengan satu sekolah yang sama pula. WA sekarang dikembangkan menjadi kelas online oleh guru yang kreatif cerdas dan berpikir. Selama ini konten WA hampir sama dengan konten facebook (FB) yang berisi tentang narsis, hujatan kebencian antar teman dan hal-hal yang bersifat negatif. Tetapi kemudian WA disulap menjadi bentuk kelas online dimana sang guru bisa menempatkan materi pembelajaran secara langsung dan bersama-sama. Kemampuan dan kreatifitas orang tua sungguh sangat diperlukan demi mendampingi sang anak menuju insan peduli dan memahami fanfaat secara langsung teknologi dalam sisi positif.

D.    Keluargaku Syurgaku
Keluarga adalah tempat bernaung seorang anak dalam keadaan apa pun. Tugas keluarga dan pemerintah membentuk pendidikan dasar dan fundamental ini harus secara kontinu dan simultan. Adapun pendidikan tersebut adalah ada 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu , Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta tanah air, Menghargai prestasi, Bersahabat/komunikatif,Cinta Damai, Gemar membaca, Peduli lingkungan, Peduli social, Tanggung jawab. Semua bisa berawal dari keluarga terutama seorang ibu dan ditindaklanjuti di lingkungan pendidikan formal. Semuanya tidak akan berhasil jika tidak ada rasa persatuan dan kesatuan diantara konponen-komponen keluarga. Keluarga yang sakinah merupakan satu indikator penting untuk mewujudkan generasi mendatang lebih berkarakter lagi dengan mental yang kuat dan pribadi yang arif bijaksanan.
Keluarga sakinah adalah potret kehidupan berumah tangga ideal yang ada dalam Islam. Dalam keluarga sakinah ini fungsi dari sebuah keluarga dibangun dari hubungan suami isteri melalui sebuah pernikahan yang sesuai dengan syariat agama untuk membangun kehidupan yang bahagia, tenang serta saling memenuhi hak dan kewajiban dalam kehidupan berumah tangga yang terjadi atas dasar perasaan cinta dan kasih sayang, sesuai perintah Allah SWT. Dalam perkembangan selanjutnya akan mendapatkan keturunan yang berkualitas pula terutama berakhlakul karimah. Keluarga sakinah yang merupakan miniatur seperti syurga sangat mungkin akan mampu menjalin komunikasi yang baik antara komponen keluarga untuk menyatukan misi dan visi keluarga tersebut. Juga tidak menutup kemungkinan bahwa peran aktif keluarga untuk melanjutkan cita-cita pemerintah tersebut akan segera terealisasi dan ditindak lanjuti di pendidikan formal (TK, SD, SMP, SMA dan PT).

E.     Kesimpulan
Tidak ada kesuksesan anak tanpa dimulai dari fungsi dan peran keluarga. Keluarga merupakan pilar penting untuk membentuk generasi pemimpin yang bermartabat. Tindak lanjut yang diteruskan di pendidikan formal tentang pembentukan ketrampilan dan mental anak merupakan tindak lanjut dari pendidikan informal di keluarga. Simultan dan kontinu pembangunan karakter anak merupakan jawaban dari tindak lanjut program pemerintah yang sekarang menjadi tugas bersama-sama. Oleh karena itu marilah sebagai orang tua, guru juga masyarakat memberikan lingkungan yang kondusif kepada anak-anak agar mereka mempunyai ruang nyaman dalam pencarian jati diri sebagai makhluk sosial.
Jangan menyelesaikan maslah anak dengan kekerasan apalagi tekanan-tekanan psikologi yang negatif. Tentu akan menjadikan pola pikir anak anarkis dan kurang peka terhadap sosial masyarakat. Rasa bijak dalam penyelesaikan kasus anak merupakan tindakan yang positif sebagai bentuk pencegahan kenakalan remaja yang semakin hari semakin tidak terkontrol. Jawaban di lingkungan keluarga dan keikutsertaan atau andil yang maksimal dengan didasari kesabaran tiada henti akan mampu sekaligus mencetak  generasi bangsa lebih baik dan berkualitas.
#sahabatkeluarga                                                                 

LAMPU REMKU

LAMPU REMKU
Penulis
SAIFUL ARIF
Guru MTs. Sunan Ampel Kraton


sumber : http://www.sakamautoservice.com

Keruwetan jalan raya di negeriku seolah menjadi warna warni dan potret kesibukan setiap hari. Hilir mudik kendaran adalah sebuah keharmonisasian dalam mentaati peraturan lalu lintas. Berbagai macam kendaraan dengan ragam aksesoris sebagai bentuk upaya dalam mempercantik kendaraan pribadinya. Namun diantara aksesoris yang paling penting adalah lampu rem. Laju kendaraan cepat atau lambat bisa dikabarkan dari kondisi lampu tersebut. Bahkan lampu rem ini adalah bentuk kongkrit yang saling mengabarkan masing-masing keadaan yaitu lambat atau cepat. Jika lampu rem menyala merah terang itu berarti keadaannya sedang melambat dan pengguna lainnya harus berhati-hati.
Memang bukan tanpa alasan pada setiap simpangan jalan raya oleh pihak dinas marga selalu memberikan traffic light (TL). Ini adalah bentuk pembatasan hak dan kewajiban bagi pengguna jalan yang lain agar dalam menggunakan lampu rem bisa secara bijak. Keadaan lampu TL ini juga adalah bahasa simbol yang harus dipahami bagi semua pengguna jalan yaitu hampir sama persisnya dengan keadaan lampu rem. Ketika lampu TL berwarna kuning, itu sama saja mengabarkan bahwa lampu rem saya wajib berwarna merah sebagai tanda berhenti atau justru siap-siap berangkat. Manfaat lampu rem ini sungguh luar biasa dapat menciptakan budaya tertib dan mempunyai jiwa sambung roso antar sesama.
Pada kenyataan sekarang fungsi lampu rem sudah mulai tidak menunjukan arti yang sesungguhnya, mulai dari warna merah berubah menjadi warna putih. Ini tentu akan mempengaruhi bahkan membingungkan pengguna jalan lain dibelakangnya. Jika keadaan lampu rem diinjak maka sinar warna putih akan menyilaukan mata pengguna jalan di belakang, jika tidak hati-hati bisa terjadi kecelakaan. Rasa tenggang rasa sudah mulai hilang dan sirnah seolah dimakan budaya-budaya kanibal dari bangsa lain. Manusia sudah tidak berpikir logis dan jernih lagi, tetapi yang penting menarik hati. Padahal rem dan lampunya adalah sebuah fungsi kontrol agar selalu menjaga harmonisasi juga rasa toleran antar yang lain. Lampu rem ini juga sebagai manifest yang merupakan bentuk informasi kabar apa mengenai keadaanmu dari pengguna kendaraan lain.
Jika kita mau belajar toleransi dari lampu rem tentu banyak hal yang bisa kita petik dan dimanfaatkan dalam kehidupan di masyarakat yaitu saling mengabarkan masing-masing keadaan dirinya juga saling waspada dalam melakukan tindakan. Selain itu sebagai kontrol kecepatan agar selalu berhati-hati  terhadap bahaya yang mengancam terhadap diri juga orang lain. Ibarat dalam kehidupan, rem diartikan nilai keilmuan manusia yang akan selalu memberikan keamanan dan kenyamanan dari bahaya otoriter. Dengan ilmu keadaan diri mampu kita kontrol dengan baik dan mudah. Fungsi toleransi adalah bentuk manifest dari implementasi illmu yang rahmatan lilalamin. Rem ini juga mampu bertindak sebagai penyelamatan dari jurang atau lubang di jalan yang bakal membuat terperosok bagi pengguna yang lainnya.
Realitas sekarang sering terjadi percecokan atau pertengkaran hanya gara-gara rem yang tak terkontrol dengan baik dan sempurna. Saling tikung kanan dan tikung kiri di jalan raya sering kita jumpai, bahkan pelanggaran marka jalan yang sangat membahayaan pengguna lain. Fenomena lain yang masih sering kita jumpai penerobosan lampu merah di jalan perempatan itu semua karena tidak mengkondisikan lampu rem menyala dengan sempurna artinya memperlambat laju jalan kendaraan. Walhasil sering terjadi tabrakan yang berujung kematian hanya karena tak mampu mengontrol dan memahami fungsi sesungguhnya rem pada kendaraan kita. Begitulah jika dalam hidup ini sikap saling menghargai dan menyelaraskan semua kepentingan tidak lagi di utamakan, maka nilai keharmonisan akan tercoreng. Mendahulukan ego dari pada kepentingan orang lain adalah cerminan dari suramnya keilmuan seseorang dalam membuat sistim kontrol hidup. Pertikaian secara horisontal kadang tiada terelakan lagi hanya karena rem iman dan rem keilmuan terlalu dangkal.
Sebagai manusia umum apalagi seorang pendidik tentu fungsi rem ini harus benar-benar pakem dan kuat dalam melakukan kendali penyampaian keilmuan pada seoarang murid. Dengan kesabaran rem ini maka ilmu akan mudah tersampaikan dan bermanfaat bagi orang lain apalagi siswa. Keteduhan-keteduhan yang merupakan buah dari toleransi adalah keikhlasan dalam beribadah. Menjadikan rahmatan lilalamin adalah bentuk tujuan secara universal dalam sendi-sendi kehidupan manusia sebagai perwakilan kholifah di atas muka bumi ini. Kondisi lampu rem ini juga akan memberikan kenyakinan lain bagi pihak yang dibelakang untuk mengambil tindakan selanjutnya. Sebab lampu rem kendaraan kita tidak mungkin akan membohongi orang lain. Nyala lampunya saja sudah dapat memberikan kabar atau informasi bagaimana sesunguhnya kkeadaan kita.
Maka jika kita tarik benang merah tentang arti kiasan ini adalah sebagai manusia yang berilmu (berlampu rem) tentu akan memberikan gambaran (perspektif) bagi pihak lain. Karena pancaran dari ilmu itu sendiri merupakan bentuk aura positif  yang bisa dipancarkan dari raut wajah dan siap dalam kehidupan. Ilmu itu pun sudah dapat memberika kabar pada orang lain bahwa apa yang harus dia lakukan pada tahap berikutnya. Sayidina Ali ra pernah ditanya oleh para kaum Khawarisun tentang pentingnya ilmu jika dibandingkan dengan harta materi. Dengan tegas sayidina Ali ra menjawab "ilmu" karena jika ilmu kita berikan pada orang lain maka akan semakin bertambah, sementara harta akan berkurang. Ilmu akan mampu menjaga kita dari jurang kehancuran (rem sepeda) tetapi harta justeru kita yang akan menjaga. Begitu pentingnya ilmu dalam hidup kita bahan sama urgennya jika dibanding dengan lampu rem pada kendaraan kita. Maka dari itu menjaga diri dan memahami keadaan orang lain dengan lampu rem sangatlah penting karena itu adalah bentu kabar orang lain. Menjaga diri dalam menjalani hidup dengan ilmu yang melahirkan siap toleransi antar sesama adalah bentuk manfaatnya sebuah ilmu kita. Hidup akkan adem dan tenang tida merasa ketautan akan adanya bahaya yang sewaktu-waktu bisa mengancap kita. Belajar bertolleransi hidup dengan belajar pada fungsi lampu rem kita adalah bentuk siap bijak dan peka pada suatu bentuk fenomena dalam menjalin harmonisasian antar sesama.

DAHSYATNYA RAMADAN

DAHSYATNYA RAMADAN
DALAM MEMPERKUAT 9 NILAI ANTI KORUPSI

Penulis
SAIFUL ARIF
Guru MTs. Sunan Ampel Kraton



Kasus demi kasus yang melibatkan sebagian pejabat negara baik di pusat maupun di daerah tentang tindakan korupsi, seolah tidak mau berhenti dan semakin memperpanjang daftar pelanggaran yang merugikan negara ini. Berbagai muatan dan liputan di berbagai media cetak atau elektronik menjadi warna hitam moralitas pejabat di bumi pertiwi. Belum sempat hilang bagaimana seorang pemimpin anggota DPR RI menjadi tersangka kasus korupsi e-KTP yang merugikan triliyunan uang negara. Bahkan dalam acara Anti Coruption Teacher Super Camp (TSC) dikatakan bahwa KPK sangat kelelahan dalam menyelesaikan operasi tangkap tangan (OTT) bagi pejabat korup hingga sekarang tegas M. Laode Syarif wakil ketua KPK. Rupanya tindakan korupsi ini seolah teroganisir dan banyak kepentingan di dalamnya. Tetapi apapun itu KORUPSI adalah sebuah tindakan yang sangat merugikan orang lain bahkan negara.
Korupsi dalam artian sebenarnya adalah suatu tindakan secara sadar atau tidak sadar dengan melanggar aturan mengambil dan mempergunakan barang milik negara secara sengaja atau tidak disengaja. Namun, masih banyak kasus korupsi yang tidak sebenarnya dalam artian tidak merugikan negara secara langsung tetapi lebih bersifat individu maupun kelompok kecil. Mungkin ilustrasi ini bisa kita coba gambarkan adalah seorang pendidik. Di kalangan lingkungan pendidikan sangat sering bahkan menjadi budaya kasus korupsi waktu, baik kedatangan terlambat atau enggan masuk ruang kelas. Di dalam QS An-Nisa' 4:29 Allah berfirman:

يا أيها الذين آمنوا لا تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل إلا أن تكون تجارة عن تراض منكم
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu


Dalam pernyataan di atas sangat tegas dan jelas sebagai seorang muslim sangat dilarang keras oleh Allah melakukan tindakan pengambilan hak-hak orang lain. Menurut Ibnu Mas'ud dan Ali bin Abi Talib, makna suht adalah suap atau gratifikasi (korupsi). Dalam riwayat lain korupsi ini ditegaskan dengan berbagai macam bahasa dan istilah sebagaimana dalam riwayat hadits sahih riwayat Imam Lima Nabi bersabda

لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم الراشي والمرتشي والرائش يعني الذي يمشي بينهما
Artinya: Rasulullah melaknat penyuap dan penerima suap dan yang terlibat di dalamnya

Dasar inilah yang harus menjadian fondasi kita sebagai seorang pendidik juga sebagai muslim sejati harus semaksimal mungkin menjadi "rahmatan lil Alamin" yaitu insan yang memberikan manfaat bagi orang lain. Jelas dalam kenyataan di lapangan masih banyak saudara-saudara kita masih kurang amanah sebagai seorang pendidik atau menjadi seorang pejabat (abdi masyarakat). Beberapa faktor yang berpengaruh memang sangat banyak sekali diantaranya yaitu semakin dangkal nilai iman mereka. Belum sadar dan bahkan belum pernah menyadari jika perbuatan korupsi mereka sangat merugikan banyak pihak. Di berbagai lembaga madrasah yang nota bene adalah penggerak integritas anti korupsi justeru sering terjadi pelanggaran-pelanggaran. Bentuk prilaku demikian akan mencoreng dunia lembaga, apalagi berbasis nilai-nilai islam. Kesadaran dari pemangku pendidikan dan pelaku pendidikan kurang berani tegas menegakan supremasi hukum dalam artian yang sebenar-benarnya. Jika persoalan ini dilakukan oleh para pendidik tentu saja yang menjadi korban adalah siswa, tetapi jika yang melakukan adalah pejabat negara tentu dampaknya akan lebih besar lagi.
Hasil gambar untuk tulisan Allah SWT arab
Dengan hadirnya bulan suci romadhon, tentu akan menjadi titik point penting melakukan flash back dan refleksi untuk menjadikan kinerja lebih bagus lagi. Bulan suci Romadhon adalah hari penuh dengan rasa tanggung jawab dan juga nilai jujur yang menjadi pilar utama dalam menjalankan ibadah puasa. Ibadah puasa ini adalah ibadah sirri yang merupakan ibadah rahasia. Nilai ini akan terpatri dalam sanubari sebagai nilai ikhlas dan tanggung jawab. Bulan Ramadhan begitu istimewa, pintu surga dibuka lebar-lebar, neraka ditutup pintunya rapat-rapat, bahkan syaitan pun dibelenggu kuat-kuat. Pahala orang puasa juga sangat menarik, tidak ada batasnya, karena Allah      sendiri yang menghisabnya. Dengan keistimewaan tersebut semestinya menggerakan hati kita untuk melangkahkan kaki berbondong-bondong mengambil berkah bulan ramadhan. Menurut Riyasdi Pendidikan anti korupsi adalah perpaduan antara pendidikan nilai dan pendidikan karakter, sebuah karakter yang dibangun di atas landasan kejujuran, integritas dan keluhuran. Secara garis besar 9 nilai anti korupsi di sebutkan  Jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani, adil.

Hasil gambar untuk tulisan Allah SWT arab
Nilai kejujuran sangat penting dalam fondasi menegakan integritas dalam sisi kehidupan manusia. Puasa ramadhan sangat memberikan pembelajaran bagi kita semua bagaimana nilai kejujuran itu tertanam secara tak langsung. puasa adalah ibadah yang mementingkan nilai-nilai kejujuran. Orang bisa saja minum air saat berwudhu atau berbuka ketika di luar pengawasan orang lain. Hanya lewat setetes air saja, orang lain tidak akan tahu kalau dia sudah berbuka. Kejujuran inilah sikap pembeda. Puasa melatih kejujuran seseorang. Lewat puasa, akan terbentuk sikap muraqabah dalam diri seorang Muslim. Muraqabah ialah satu sikap di mana seorang Muslim selalu merasa di bawah pengawasan Allah. Walau dia tidak bisa melihat Allah. Tetapi dia yakin bahwa Allah akan selalu mengawasinya.

Sikap peduli akan sangat terasa dibulan suci ramadhan ini. 
Hasil gambar untuk tulisan Allah SWT arabHasil gambar untuk tulisan Allah SWT arab
Merasakan lapar dan haus merupakan hal yang sangat substansi bagi orang yang menjalankan. Munculnya rasa peduli pada sesama manusia ketika tertimpa musibah. Bulan ini juga sangat memupuk kepekaan antar sesama pula terutama siikap saling tolong menolong. Jika ini kemudian membekas dalam diri masing-masing seorang muslim maka pada bulan-bulan berikutnya akan menjadikan sebuah implementasi dari hasil pelatihan bulan ramadhan.

Puasa dapat membentuk karakter hidup sederhana. Di zaman yang penuh hedonisme dan semua serba diukur dengan materi, puasa dapat mendidik anak untuk menyadari bahwa manusia jangan terlalu mencintai materi. Bahkan suatu saat dan waktu tertentu manusia harus bisa hidup tanpa materi. Waktu yang dimaksud adalah sebuah kematian. Banyak hikmah yang di hasilkan dari proses ibadah puasa kesabaran sejati yang bisa digambarkan saat menunggu berbuka dan tidak akan mungkin makan minum sebelum waktunya. Rasa tanggung jawab sebagai seorang muslim dalam menjalankan ibadah puasa adalah bentuk perintah sang maha Esa yang tidak dapat di tolak tanpa ada udur syar'i yang bisa diterima akal dan bersifat darurat seperti sakit parah, musyafir, usia lanjut dan ibu hamil yang dikhawatirkan membahayakan pada janinnnya.
Jadi, sangat jelas bahwa ibadah puasa ramadhan bisa membentuk karakter seseorang yang lebih baik dan ini yang disebut sebagai keajaiban dan kedahsyatan bulan suci tersebut. Puasa adalah sarana pendidikan bagi pembentukan akhlak manusia. Bulan puasa sering juga di sebut madrasah al-shaum (sekolah puasa). Karena pada bulan tersebut seorang muslim ditempa dalam latihan-latihan spiritual (riadhah) dengan menjalankan wajib puasa dan sunah-sunah puasa seperti memperbanyak baca Al Quran, sholat/doa dzikir dsb. Inti pokok pertalian antara puasa dan pendidikan adalah pada tujuannya yaitu: takwa yang dapat menciptakan kedahsyatan dalam pembentukan karakter yang merupakan cerminan dari implementasi 9 nila anti korupsi.
Buat para sahabat alumni Program Pasca sarjana S-2 Universitas Kanjuruhan, sekarang dapat menikmati video kenangan saat acara wisuda di hotel purnama Batu, Klik disini silahkan unduh sendiri. jika tidak bisa pakai bantuan IDM (internet dowlad manager) pasti dijamin ok
Check Google Page Rank
Berikan Pendapat Anda tentang WI Berikan komentar positif dan santun demi pengembangan selanjutnya, untuk partisipasi anda semua saya ucapkan Terimakasih