Ada mata yang tak terlihat oleh wajah. Ada
pandangan yang tak lahir dari bola mata, dan ada cahaya yang hanya bisa
ditangkap oleh hati yang telah dibersihkan. Bukan semua orang yang hidup, benar
benar melihat. Sebagian hanya menatap bentuk, tapi tak pernah menyentuh makna.
Sebagian hanya melihat dunia tapi tak pernah menyadari dari mana ia datang dan
ke mana ia diarahkan. Ilmu memandang dengan mata batin bukan untuk melihat yang gaib tapi
untuk menyadari yang selama ini sudah hadir namun kita abaikan.
-
Rasa Peduli pada semua Makhluk
Negara dan masyarakat akan sangatterjaga eksistensinya sebagai kholifah di dunia jika masing-masing individu mempunyai sikap peduli yang tinggi...
-
Berani Jujur Hebat
Kejujuran adalah harta yang tak ternilai harganya, mahal dan istimewa . Sehingga tidak banyak orang yang memilikinya...
-
Fokus Pada Sasaran
Untuk memperoleh hasil maksimal kita harus benar-benar focus pada satu tujuan tanpa sebuah keraguan – smart warta ilmu, cerdas berintegritas...
TAK SEMUA BISA TERLIHAT OLEH MATA
BELAJAR UNTUK MELEPASKAN AGAR BISA DIRASAKAN
KEKUATAN DIAM
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dunia yang kita tinggali saat ini telah menjadi tempat
yang sangat bising. Di mana setiap orang merasa harus berteriak agar didengar
dan menonjolkan diri agar dianggap ada. Namun di balik keriuhan ini terdapat
sebuah rahasia besar yang hanya dipahami oleh orang orang pilihan. Sebuah
rahasia yang mampu mengubah kelemahan menjadi kekuatan tak tertandingi. Diam
yang mereka lakukan bukanlah tanda ketidakmampuan, melainkan sebuah bentuk
perlawanan paling elegan terhadap nafsu dan kesombongan. Ada sebuah janji besar
dari langit, yang hanya diberikan kepada mereka yang mampu menahan lisannya
dari perkataan yang tidak berguna.
Mari kita selami lebih dalam mengapa berhenti bicara justru
akan membuka pintu-pintu keajaiban yang selama ini tertutup rapat dalam hidup anda.
Hakikat diam sebagai bentuk ibadah tertinggi. Lidah manusia adalah anggota
tubuh yang paling ringan gerakannya, namun paling besar dampaknya dalam
menentukan arah nasib seseorang di akhirat kelak. Banyak orang mengira bahwa
ibadah hanya terbatas pada ruku, sujud dan sedekah. Padahal menahan lisan dari
hal yang sia-sia adalah inti dari ketakwaan yang sejati. Keinginan untuk selalu
berkomentar dan mencampuri urusan orang lain, seringkali menjadi penghalang
bagi cahaya iman untuk masuk ke dalam kalbu yang paling dalam. Ketika seseorang
memilih untuk tidak berucap ia sebenarnya sedang memberikan ruang bagi jiwanya
untuk melakukan perjalanan menuju sang pencipta tanpa gangguan kebisingan
duniawi. Rasulullah muhammad sallallahu alaihi wasallam telah memberikan
petunjuk yang sangat terang bahwa keselamatan manusia sangat bergantung pada
kemampuannya menjaga apa yang ada di antara dua rahangnya.
Diam dalam konteks ini bukan berarti pasif melainkan
sebuah aktivitas spiritual yang aktif untuk menyaring setiap getaran suara yang
hendak keluar. Menjaga lisan merupakan tanda bahwa seseorang telah mencapai
tingkat kedewasaan iman yang sangat matang. Karena ia menyadari setiap kata
akan dimintai pertanggungjawaban dalam setiap huruf yang terucap. Ada malaikat
yang mencatat dengan sangat teliti tanpa ada satupun yang terlewatkan dalam
kitab catatan amal. Keheningan yang sengaja diciptakan oleh seorang mukmin akan
menjadi perisai yang melindunginya dari api neraka yang seringkali dipicu oleh
lidah yang tidak bertulang. Banyak ulama terdahulu menghabiskan waktu bertahun
tahun hanya untuk melatih diri agar tidak berbicara kecuali dalam hal yang
benar. Benar mendatangkan ridho allah subhanahuwataala. Mereka memahami bahwa
lisan yang liar dapat menghanguskan pahala kebaikan yang telah dikumpulkan
dengan susah payah selama bertahun tahun dalam sekejap saja. Dengan memilih
diam seorang hamba sedang menunjukkan rasa hormatnya yang paling dalam kepada
keagungan allah yang maha mendengar.
CERITA PILU DIBALIK KESUKSESAN SEORANG CRISTINA
RAHASIA ILMU HAKIKAT
Mengapa ilmu hakikat jarang dipahami? Sebab ia menuntut kejujuran yang sangat dalam. Kejujuran
untuk mengakui bahwa kita tidak memiliki apa-apa selain ketergantungan mutlak
kepada Allah. Maka sebelum engkau melangkah lebih jauh, dengarkan bisikan lembut
ini di dalam hatimu. Ilmu hakikat tidak membuatmu lebih tinggi dari orang lain,
justru membuatmu semakin merunduk. Ia tidak mengangkat derajatmu di mata
manusia, tetapi menghapus keinginan untuk dinilai oleh manusia. Ia tidak
memberimu gelar tetapi mencabut semua kebutuhan akan pengakuan. Jika di dalam
dirimu masih ada rasa ingin terlihat istimewa, maka hakikat masih menutup
pintunya. Tetapi, jika di dalam dirimu hanya ada kerinduan untuk mengenal allah
apa adanya. Tanpa ingin dipuji, tanpa ingin dianggap suc, tanpa ingin disebut
alim. Maka sesungguhnya engkau telah berdiri di depan gerbang yang selama ini
tidak diajarkan di dunia. Karena ia hanya bisa ditemukan oleh mereka yang
berani menanggalkan dunia dari hatinya.
Ada
satu dinding yang paling tebal antara manusia dan tuhannya, dinding itu bernama
aku. Ia tidak terlihat tetapi pengaruhnya menguasai seluruh hidup. Ia menyusup
ke dalam ibadah, menyamar dalam kebaikan, bersembunyi di balik amal. Bahkan
berani berdiri di tengah doa selama aku masih berdiri kokoh. Selama itu pula
ilmu hakikat hanya akan menjadi cerita bukan pengalaman banyak orang merasa
dekat dengan allah. Tetapi tanpa sadar masih membawa dirinya sendiri sebagai
pusat. Ia beribadah agar tenang, berzikir agar kuat, berdoa agar berhasil.
Semua masih berputar pada kepentingan aku. Padahal hakikat bukan tentang apa
yang kita dapat, melainkan tentang apa yang kita lepaskan. Semakin kuat engkau
mempertahankan dirimu semakin jauh engkau dari rahasia kehadiran-nya. Retaknya
dinding keakuan biasanya dimulai dari luka dari kegagalan yang tak bisa
dijelaskan dari kehilangan yang tak bisa ditawar dari kekecewaan yang tak bisa
dihindari. Saat semua sandaran runtuh, saat semua rencana hancur. Saat semua
harapan duniawi tak lagi mampu menopang batin. Di situlah hakikat mulai
berbisik bukan dengan suara keras tetapi dengan kesunyian yang menampar.
#nasters@y2026



