Berikan Pendapat Anda tentang WI Berikan komentar positif dan santun demi pengembangan konten yang lebih menarik serta lebih faktual dengan berita ilmu yang bermanfaat bagi kita semua pada tahap selanjutnya, untuk partisipasi anda semua saya ucapkan Terimakasih
  • Rasa Peduli pada semua Makhluk

    Negara dan masyarakat akan sangatterjaga eksistensinya sebagai kholifah di dunia jika masing-masing individu mempunyai sikap peduli yang tinggi...

  • Berani Jujur Hebat

    Kejujuran adalah harta yang tak ternilai harganya, mahal dan istimewa . Sehingga tidak banyak orang yang memilikinya...

  • Fokus Pada Sasaran

    Untuk memperoleh hasil maksimal kita harus benar-benar focus pada satu tujuan tanpa sebuah keraguan – smart warta ilmu, cerdas berintegritas...

Uji Komparasi Hasil Ujian Matematika PLDV: Efektivitas Alat Peraga vs Metode Ceramah di MTs. Sunan Ampel Kraton

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA TERHADAP HASIL BELAJAR PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL (PLDV) KELAS 9 MTs. SUNAN AMPEL KRATON: UJI KOMPARASI STATISTIK PARAMETRIK SPSS


Penulis: SAIFUL ARIF Peneliti Pendidikan Matematika MTs. Sunan Ampel Kraton
ABSTRAK Penelitian kuantitatif ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan efektivitas yang signifikan antara metode pengajaran ekspositori (ceramah konvensional) dan metode pembelajaran berbasis alat peraga konkrit terhadap hasil ujian Matematika pokok bahasan Persamaan Linear Dua Variabel (PLDV) pada siswa kelas 9 MTs. Sunan Ampel Kraton. Data berupa nilai ujian akhir dari 15 sampel siswa yang diuji dalam dua kondisi pembelajaran (Metode Ceramah / Data 1 dan Metode Alat Peraga / Data 2). Pengujian statistik menggunakan Software IBM SPSS Statistics dengan serangkaian uji asumsi prasyarat (Uji Normalitas Shapiro-Wilk dan Uji Homogenitas Levene) serta uji statistik komparasi (Independent Samples t-test dan Paired Samples t-test). Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa nilai rata-rata hasil belajar menggunakan alat peraga matematika (M = 69,20; SD = 11,96) secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan metode ceramah konvensional (M = 54,87; SD = 18,97). Uji hipotesis komparasi Independent Samples t-test menghasilkan nilai t(28) = -2,476 dengan nilai p = 0,0196 (p < 0,05), serta Paired Samples t-test menghasilkan nilai t(14) = -4,024 dengan nilai p = 0,00125 (p < 0,01). Dengan demikian, Hipotesis Nol (H0) ditolak dan Hipotesis Kerja (Ha) diterima, yang membuktikan secara empiris bahwa pemanfaatan alat peraga matematika memberikan kontribusi positif yang signifikan secara statistik dalam meningkatkan pemahaman konsep dan hasil ujian PLDV siswa kelas 9 MTs. Sunan Ampel Kraton.

Kata Kunci: Uji Komparasi, SPSS, Alat Peraga Matematika, Metode Ceramah, Persamaan Linear Dua Variabel (PLDV), MTs. Sunan Ampel Kraton.
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah

Matematika sering kali dipandang sebagai salah satu mata pelajaran yang paling menantang dan abstrak oleh sebagian besar peserta didik di jenjang Sekolah Menengah Pertama / Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs). Sifat dasar matematika yang deduktif, rasional, dan penuh dengan simbol-simbol formal menuntut tingkat abstraksi berpikir yang tinggi. Salah satu materi esensial dalam kurikulum matematika Kelas 9 MTs adalah Persamaan Linear Dua Variabel (PLDV).

Materi PLDV mencakup pembentukan model matematika dari masalah sehari-hari, penentuan himpunan penyelesaian dengan metode grafik, substitusi, eliminasi, maupun gabungan. Kendala utama yang dialami oleh siswa kelas 9 MTs. Sunan Ampel Kraton dalam mempelajari PLDV adalah kesulitan memvisualisasikan konsep variabel, koefisien, konstanta, serta interpretasi geometris dari titik potong dua garis lurus dalam sistem persamaan linear.

Secara konvensional, proses pembelajaran matematika di tingkat madrasah masih didominasi oleh metode ceramah (ekspositori). Pada metode ini, guru bertindak sebagai pusat informasi (teacher-centered) yang menjelaskan konsep secara verbal di papan tulis, memberikan rumus jadi, dan dilanjutkan dengan latihan soal. Meskipun metode ceramah efisien dalam menyampaikan materi secara luas dalam waktu singkat, metode ini cenderung membuat siswa pasif, cepat jenuh, dan gagal membangun pemahaman konseptual yang mendalam (deep conceptual understanding).

Untuk mengatasi kelemahan tersebut, pendekatan pembelajaran berbasis alat peraga matematika konkrit (manipulative materials) ditawarkan sebagai alternatif solusi. Alat peraga PLDV (seperti blok aljabar, papan berpetak titik potong, atau neraca kesamaan linear) membantu menjembatani taraf berpikir konkrit menuju taraf berpikir abstrak (sesuai dengan Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget dan Teori Tahapan Belajar Jerome Bruner: Enaktif, Ikonik, Simbolik).

Oleh karena itu, diperlukan pembuktian secara kuantitatif dan ilmiah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan efektivitas yang nyata antara penggunaan metode ceramah dan pemanfaatan alat peraga matematika terhadap hasil ujian siswa kelas 9 MTs. Sunan Ampel Kraton pada materi PLDV.

1.2 Rumusan Masalah
  1. Bagaimanakah karakteristik deskriptif nilai ujian Matematika materi PLDV siswa kelas 9 MTs. Sunan Ampel Kraton pada pembelajaran metode ceramah (Data 1) dan metode alat peraga (Data 2)?
  2. Apakah data hasil belajar matematika dari kedua metode tersebut memenuhi asumsi prasyarat analisis statistik parametrik (uji normalitas dan uji homogenitas varians)?
  3. Apakah terdapat perbedaan rata-rata yang signifikan secara statistik antara nilai ujian matematika siswa yang diajar dengan metode ceramah dan siswa yang diajar dengan menggunakan alat peraga matematika?
II. KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS

Jerome Bruner menyatakan bahwa proses belajar siswa berkembang melalui tiga tahap utama: Enaktif (pengalaman langsung objek konkrit), Ikonik (bayangan visual/gambar), dan Simbolik (simbol-simbol abstrak). Dalam pembelajaran PLDV, alat peraga berfungsi sebagai jembatan enaktif dan ikonik sebelum siswa didorong masuk ke dalam tahap penyelesaian matematis simbolik murni ($ax + by = c$).

Hipotesis Penelitian:
Hipotesis Nol (H0): Tidak terdapat perbedaan rata-rata yang signifikan antara nilai ujian matematika materi PLDV siswa yang diajar menggunakan metode ceramah dan metode alat peraga matematika ($\mu_1 = \mu_2$).
Hipotesis Alternatif (Ha): Terdapat perbedaan rata-rata yang signifikan antara nilai ujian matematika materi PLDV siswa yang diajar menggunakan metode ceramah dan metode alat peraga matematika ($\mu_1 \neq \mu_2$).
III. METODOLOGI PENELITIAN DAN DATA MENTAH

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif komparatif. Data empiris diambil dari hasil ujian 15 sampel siswa kelas 9 MTs. Sunan Ampel Kraton dengan perbandingan nilai sebelum dan sesudah intervensi alat peraga (Data 1: Metode Ceramah vs Data 2: Metode Alat Peraga).

No. Sampel Siswa Data 1 (Metode Ceramah) Data 2 (Metode Alat Peraga) Selisih Peningkatan (Data 2 - Data 1)
14565+20
26567+2
33485+51
46772+5
586860
63454+20
75676+20
82356+33
94554+9
106771+4
118592+7
126472+8
133456+22
146770+3
155162+11
IV. HASIL ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Statistik Deskriptif

Berdasarkan hasil pengolahan IBM SPSS Statistics, berikut adalah ringkasan parameter deskriptif dari kedua kelompok data:

Statistik Deskriptif Metode Ceramah (Data 1) Metode Alat Peraga (Data 2) Perbedaan / Peningkatan
Jumlah Sampel (N)1515-
Rata-Rata (Mean)54,8769,20+14,33 Poin
Standar Deviasi (SD)18,9711,96-7,01 (Lebih Stabil)
Varians (Variance)359,84143,03-216,81
Nilai Minimum23,0054,00+31,00
Nilai Maksimum86,0092,00+6,00
Grafik Perbandingan Nilai Ujian Matematika PLDV MTs. Sunan Ampel Kraton
Gambar 1. Grafik Batang Komparasi Rata-Rata Nilai Ujian dan Sebaran Data Individual Matematika PLDV Kelas 9 MTs. Sunan Ampel Kraton.
4.2 Uji Asumsi Prasyarat (Normalitas & Homogenitas)

1. Uji Normalitas (Shapiro-Wilk): Nilai sig. (p-value) untuk Metode Ceramah adalah 0,468 dan untuk Metode Alat Peraga adalah 0,329. Karena kedua nilai $p > 0,05$, maka dapat disimpulkan bahwa kedua sampel data berdistribusi normal.

2. Uji Homogenitas (Levene's Test): Pengujian Levene menghasilkan statistik $F = 4,057$ dengan nilai sig. $p = 0,0539$. Karena $p > 0,05$, varians antar kelompok dinyatakan homogen (Equal Variances Assumed).

4.3 Uji Hipotesis Komparasi SPSS
Jenis Uji Hipotesis Nilai t-hitung df Sig. (2-tailed) / p-value Keputusan Uji
Independent Samples t-test -2,476 28 0,0196 H0 Ditolak (Signifikan p < 0.05)
Paired Samples t-test -4,024 14 0,00125 H0 Ditolak (Sangat Signifikan p < 0.01)

Berdasarkan hasil uji parametrik di atas, nilai signifikansi $p < 0,05$ membuktikan secara meyakinkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar yang signifikan secara statistik antara penerapan metode ceramah dan metode alat peraga.

V. KESIMPULAN

Penggunaan alat peraga matematika konkrit secara signifikan mampu meningkatkan hasil ujian siswa kelas 9 MTs. Sunan Ampel Kraton pada materi Persamaan Linear Dua Variabel (PLDV). Nilai rata-rata mengalami kenaikan sebesar 14,33 poin (dari 54,87 menjadi 69,20), dengan variansi nilai yang jauh lebih stabil dan merata. Alat peraga direkomendasikan untuk digunakan secara luas dalam mengatasi ketakutan dan kebingungan siswa terhadap materi matematika yang bersifat abstrak.

DAFTAR PUSTAKA
  • Bruner, J. S. (1966). Toward a Theory of Instruction. Cambridge: Harvard University Press.
  • Piaget, J. (1970). Science of Education and the Psychology of the Child. New York: Orion Press.
  • Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
  • Santoso, S. (2020). Panduan Lengkap Menguasai SPSS 26. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

KETIKA SUARA BUKAN BERSUMBER DARI LIDAH


Diibaratkan dirimu telah lahir ke lapangan yang tak terbatas. Orang yang sampai di titik ini tidak lagi menuntut kehidupan berjalan sesuai keinginannya. Sebab ia telah melihat bahwa segala sesuatu sudah berada dalam kehendak allah sejak awal. Namun keheningan sejati tidak membuat seseorang menjauh dari kehidupan, justru sebaliknya ia membuatmu hadir sepenuhnya. Engkau akan bekerja, berbicara, mencinta dan melayani manusia dengan kesadaran penuh tanpa kehilangan allah dalam setiap gerak. Karena engkau tahu tidak ada lagi pemisahan antara dunia dan zikir. Setiap langkah menjadi ibadah, setiap perjumpaan menjadi pengingat. Itulah buah dari keheningan yang hidup.

Engkau tidak lagi terjebak pada bentuk ibadah tapi seluruh hidupmu menjadi zikir yang terus mengalir. Orang-orang di sekitarmu mungkin tidak mengerti, tapi mereka akan merasakan ketenangan ketika berada di dekatmu. Sebab ruh yang diam, Allah memancarkan kesejukan yang tak bisa disembunyikan. Dan akhirnya ketika keheningan telah menjadi guru engkau tak lagi membutuhkan banyak petunjuk luar. Tidak karena engkau merasa tahu, tapi karena engkau mulai mendengar suara dari dalam. Suara lembut yang sama sekali bukan milikmu. Ia membimbing, menenangka, dan menegur dengan kasih yang tak bisa dijelaskan. Suara itu bukan bisikan ego, tapi gema dari zikir sir yang telah menyatu dengan ruh. Di sanalah engkau akan memahami rahasia terdalam dari zikir bahwa seluruh perjalanan ini bukan tentang berusaha mengingat allah, tapi tentang menyadari bahwa sejak awal engkau tak pernah dilupakan olehnya. Dalam keheningan itu engkau tidak lagi mencari tuhan sebab engkau telah menjadi tempatnya berbicara.

#masters@y2026


BERHENTI UNTUK MENGEJAR DAN BIARKAN HU MEMBIMBINGNYA


Mereka menambah kesibukan, memperbanyak hiburan atau mengejar sesuatu yang baru. Berharap ruang kosong itu tertutup, namun semakin dikejar kekosongan itu justru semakin terasa. Karena sejatinya kekosongan bukan masalah yang harus dihilangkan, melainkan pesan yang harus didengarkan. Ia adalah panggilan lembut agar engkau berhenti mencari di luar dan mulai menoleh ke dalam. Allah tidak sedang menjauh darimu justru dia sedang mengosongkan hatimu dari sandaran palsu, agar dia sendiri bisa mengisinya di saat kekosongan itu diterima bukan ditolak.

Syekh Jun Nunun Almisri berkata, "Barang siapa mengenal Allah maka akan sedikit ucapannya dan banyak diamnya. Karena ia menyadari bahwa apa yang dilihatnya terlalu besar untuk dijelaskan dan terlalu suci untuk diuraikan. Kita berasal dari tanah,  berjalan di atas tanah dan akan kembali ke tanah pula. Masihkah kita mempertahankan sesuatu yang FANA? terlalu mendengar kebisingan duia? hingga melupakan panggilan "HU" itu sendiri.

#masters@y2026



TAK SEMUA BISA TERLIHAT OLEH MATA


Ada mata yang tak terlihat oleh wajah. Ada pandangan yang tak lahir dari bola mata, dan ada cahaya yang hanya bisa ditangkap oleh hati yang telah dibersihkan. Bukan semua orang yang hidup, benar benar melihat. Sebagian hanya menatap bentuk, tapi tak pernah menyentuh makna. Sebagian hanya melihat dunia tapi tak pernah menyadari dari mana ia datang dan ke mana ia diarahkan. Ilmu memandang dengan mata batin bukan untuk melihat yang gaib tapi untuk menyadari yang selama ini sudah hadir namun kita abaikan.