Mbah Saridin
(Syekh Jangkung)
Anatomi Spiritual, Kritik Sosial, dan
Dekonstruksi Ego dalam Filosfi Jawa-Tasawuf
|
“Bayangkan Anda berada di pusat tempat
paling suci di mana ribuan orang menundukkan kepala dengan khusyuk. Namun di
sudut ruangan, ada satu sosok yang justru mendengkur lelap tak acuh...” |
1. Anomali Spiritual Sang Peniti
Jalan Malamatiah
Bayangkan Anda berada di pusat
tempat paling suci di mana ribuan orang menundukkan kepala dengan khusyuk untuk
beribadah. Namun di sudut ruangan ada satu sosok yang justru mendengkur lelap
tak acuh. Orang-orang di sekitarnya mencaci maki, menganggapnya gila,
kehilangan akal, dan telah membuang jauh adab kesopanan.
Namun tahukah Anda bahwa Mbah
Saridin sengaja menidurkan raganya karena ia sedang muak dan menertawakan
kemunafikan mereka yang secara fisik bersujud namun pikirannya sibuk berdagang
duniawi. Inilah ilmu tingkat akhir—sebuah fase mengerikan sekaligus mencerahkan
di mana batas antara kewarasan dan kegilaan hanyalah ilusi semata.
Dalam lipatan sejarah tanah Jawa
yang penuh dengan kabut misteri, nama Mbah Saridin atau Syekh Jangkung selalu
memunculkan tanda tanya besar di benak banyak orang. Sosok ini tidak pernah
hadir dalam wujud seorang ulama berjubah putih yang duduk manis penuh wibawa di
atas mimbar mulia. Sebaliknya, ia muncul menggebrak tatanan sosial dengan laku
yang bagi kebanyakan orang terlihat seperti sebuah kegilaan absolut yang tak
masuk akal.
Ia adalah anomali, sebuah
teka-teki hidup yang dengan sengaja menabrak batas-batas kewajaran yang
diagungkan oleh masyarakat pada masanya. Ketika orang-orang sibuk memoles diri
agar terlihat suci dan dihormati, Mbah Saridin justru memilih jalan terjal yang
melumuri dirinya dengan berbagai kontroversi tajam.
2. Dekonstruksi Berhala Ego dan
Ilusi Kesaktian
Mari kita bayangkan sebuah
pemandangan yang menantang nalar manusia normal: seorang pria dengan tenang
mengambil air menggunakan keranjang bambu yang berlubang lebar. Air yang
seharusnya tumpah ruah membasahi tanah, entah bagaimana tetap tertahan diam di
dalam anyaman yang renggang tersebut.
Bagi mata awam yang haus akan
keajaiban, itu adalah pertunjukan kesaktian yang luar biasa—sebuah mukjizat
yang membuat orang-orang berdecak kagum. Namun di balik tatapan matanya yang
tajam bak elang, Mbah Saridin sesungguhnya tidak sedang pamer kehebatan
duniawi. Ia sedang memberikan tamparan keras kepada mereka yang hanya bisa
melihat dunia dari kulit luarnya saja, berteriak dalam diam bahwa apa yang
mustahil di mata manusia sangatlah remeh di hadapan semesta.
Namun rentetan kegilaan itu
rupanya tidak berhenti di tanah Jawa saja. Puncaknya justru terjadi di tempat
yang paling disucikan oleh umat Islam seluruh dunia, yakni Masjidil Haram di
kota Mekah. Di tengah lautan manusia yang sedang khusyuk bersujud merendahkan
diri di hadapan Sang Pencipta dengan jubah-jubah kebesaran mereka, Mbah Saridin
melakukan sebuah tindakan yang memicu amarah: ia merebahkan tubuhnya di lantai
masjid, memejamkan mata, dan tertidur pulas sehingga suara dengkurannya memecah
keheningan ibadah jamaah.
|
“Secara fisik, tubuh Mbah Saridin
memang tergeletak tak berdaya di atas lantai masjid yang dingin. Namun,
pertanyaan mendasarnya: apakah benar ia sedang tertidur lelap?” |
Inilah benturan logika pertama
yang menguji kedalaman pikiran kita. Ketika ribuan orang di sekitarnya
melakukan gerakan rukuk dan sujud secara mekanis, pikiran mereka mungkin
melayang jauh ke hiruk pikuk pasar atau tumpukan harta yang tertinggal di rumah.
Fisik mereka terlihat terjaga dan taat, namun jiwa mereka justru terlelap mati
dalam buaian hawa nafsu duniawi. Di sisi lain, fisik Mbah Saridin tampak
terlelap seperti orang mati, namun batinnya sedang menyala terang melakukan
tawaf abadi di hadirat Sang Pencipta.
3. Mengapa Pilih Jalan Terjal
Malamatiah?
Pertanyaan mematikan pun muncul
dan menghantam nurani kita yang paling dalam: Jika Mbah Saridin benar-benar
seorang wali dengan kedudukan spiritual yang sangat mulia, mengapa perilakunya
justru menghina akal sehat umat beragama? Mengapa ia seolah sengaja memancing
amarah, cacian, dan kebencian dari orang-orang di sekitarnya tanpa rasa takut
sedikit pun? Mengapa ia memilih untuk terlihat hina, alih-alih duduk tenang
mengajarkan kitab suci dan meraih penghormatan layaknya guru-guru besar
lainnya?
Jawaban dari rentetan pertanyaan
ini akan membawa kita pada sebuah ruang kesadaran yang sangat gelap, namun
perlahan akan menyilaukan mata batin siapa saja yang berani memahaminya. Kita
akan membedah secara tuntas anatomi pikiran Mbah Saridin menggunakan pisau
bedah psikologi spiritual dan filsafat Jawa kuno.
Ini adalah sebuah dimensi di
mana kewarasan diuji habis-habisan dan batas antara kegilaan serta kesucian
menjadi sangat kabur. Di titik inilah kita akan menyadari bahwa terkadang
cahaya yang terlalu terang justru akan terlihat gelap bagi mereka yang matanya
masih tertutup rapat.
Anatomi Psikologi Massa dan Penyakit Casing Agama
Ketika kita membuka lembaran
kelam dari masa lalu, kita akan menemukan sebuah fakta psikologis yang selalu
berulang sepanjang sejarah peradaban: manusia selalu takut pada hal-hal yang
tidak mampu mereka pahami. Di tengah masyarakat yang sudah terbiasa dengan
aturan-aturan baku, kehadiran Mbah Saridin dianggap sebagai sebuah ancaman yang
nyata.
Para ulama, tokoh masyarakat,
dan orang-orang yang merasa dirinya lurus pada masa itu tidak hanya sekedar
memandang aneh, tetapi memendam kebencian yang mendalam terhadap sosoknya. Bagi
mereka, tatanan moral dan agama adalah sebuah garis lurus yang tidak boleh
dibengkokkan sedikit pun, dan Mbah Saridin dengan santainya menari-nari di atas
garis tersebut.
Kemarahan publik saat itu
bukanlah semata-mata karena Mbah Saridin merugikan mereka secara material,
melainkan karena ia mengusik rasa nyaman ego spiritual yang selama ini
membelenggu mereka. Secara alamiah, otak manusia dirancang untuk memproses
segala sesuatu berdasarkan apa yang ditangkap oleh panca indra, terutama mata.
Kita cenderung menilai tingkat
ketakwaan, kesucian, dan derajat seseorang dari apa yang melekat pada tubuh
fisiknya: jubah yang panjang, tutur kata yang tertata rapi, dan rutinitas
ritual yang dipertontonkan di ruang publik menjadi tolak ukur mutlak bagi
sebuah kesalehan. Fenomena ini mengakar begitu kuat sehingga masyarakat secara
tidak sadar mulai menyembah cangkang (casing) dari agama itu sendiri dan
perlahan-lahan melupakan esensi dari pencarian Tuhan.
4. Syariat, Hakikat, dan Konsep
Mati Sajroning Urip
Di sinilah letak peperangan
abadi antara syariat dan hakikat—sebuah konsep fundamental dalam dunia tasawuf
yang menjadi panggung utama dari drama kehidupan Mbah Saridin. Syariat adalah
aturan, bingkai, atau raga dari sebuah agama yang mengatur tata cara kehidupan
dan ibadah secara lahiriah. Bagi masyarakat awam, berhenti pada pemahaman
syariat adalah sebuah zona nyaman yang memberikan ilusi kepastian bahwa mereka
sudah pasti selamat dan disayangi Tuhan.
Namun di mata seorang pejalan
spiritual tingkat akhir seperti Mbah Saridin, memegang syariat tanpa menyelami
hakikat (kebenaran sejati dan kesadaran batin yang murni) ibarat memeluk sebuah
gelas kosong yang indah saat sedang kehausan di tengah gurun pasir. Mbah
Saridin melihat dengan mata batinnya yang tajam bahwa masyarakat sedang
terjangkit penyakit kronis bernama kemunafikan spiritual.
|
“Mati Sajroning Urip adalah metafora
tingkat tinggi tentang pembunuhan karakter terhadap musuh terbesar manusia:
Sang 'Aku' atau Ego.” |
Konsep ini bukanlah ajakan untuk
mengakhiri nyawa secara fisik atau menyerah pada penderitaan nasib. Mati
sajroning urip (mati di dalam kehidupan) adalah penjelmaan dari kematian ego
(ego death). Sepanjang kehidupan normal, manusia tanpa sadar membangun identitas
dirinya, mengumpulkan kekayaan, mengejar gelar, menuntut penghormatan, dan
memelihara harga diri agar terlihat agung di mata sesamanya. Semua atribut
palsu itu membentuk tembok ego yang sangat tebal, mengurung ruh manusia dalam
penjara tak kasat mata.
Penyeimbang Cangkir dan Air: Dialektika Syariat-Hakikat
Untuk meluruskan benang kusut
ini, kita harus meletakkan Mbah Saridin pada proporsi sejarah dan spiritual
yang sebenarnya. Mbah Saridin tidak pernah bermaksud untuk menghancurkan
tatanan syariat atau mengajarkan umat untuk membuang aturan-aturan fisik dalam
beragama.
Mari kita gunakan analogi
sederhana yang diajarkan oleh para cendekiawan tasawuf klasik:
• Analogi Cangkir & Air: Bayangkan
syariat itu sebagai sebuah cangkir atau gelas yang kokoh, memiliki bentuk,
batas, dan aturan material yang jelas. Sementara itu, hakikat adalah air jernih
dan murni yang sangat menyegarkan memberikan kehidupan bagi siapa saja yang
meminumnya.
• Cangkir Kosong: Orang yang
hanya berpegang teguh pada syariat tanpa memiliki hakikat ibarat seseorang yang
menggenggam cangkir kosong yang indah, namun mati kehausan di tengah gurun
pasir. Ia sibuk memamerkan cangkirnya, namun tak ada setetes pun air kehidupan
di dalamnya.
• Air Tanpa Cangkir: Sebaliknya,
orang yang mengaku telah mencapai hakikat tetapi membuang jauh-jauh syariat
ibarat seseorang yang menuangkan air jernih tanpa menggunakan cangkir. Air
kehidupan itu hanya akan tumpah berantakan ke tanah, bercampur dengan debu
menjadi lumpur yang kotor.
Hakikat yang murni mutlak
membutuhkan bingkai syariat agar ia tidak tumpah menjadi kesesatan yang liar
dan merusak tatanan peradaban. Cangkir dan air adalah sebuah kesatuan yang
tidak bisa dipisahkan.
5. Relevansi bagi Manusia Modern
Abad ke-21
Kita hidup di sebuah era yang
gemerlap, di mana lampu-lampu kota menyaingi terang bintang dan layar-layar
digital menjadi jendela utama bagi umat manusia untuk menatap dunia. Namun di
tengah segala kemajuan teknologi dan lonjakan kecerdasan buatan, kisah Mbah
Saridin justru terasa semakin relevan.
Panggung sandiwara spiritual
telah berubah wujud menjadi layar-layar kaca di genggaman tangan kita. Media
sosial telah bertransformasi menjadi altar raksasa tempat jutaan manusia
memamerkan syariat dan kesalehan mereka secara real-time. Kita merekam setiap
detik momen ibadah kita, memotret sajadah yang tergelar, mengunggah
kutipan-kutipan suci, dan menyiarkannya ke seluruh penjuru dunia maya.
Kita sibuk memoles kewarasan dan
kesucian di hadapan para pengikut tak kasat mata, mengemis validasi dalam
bentuk tanda suka dan kolom komentar pujian. Secara ironis, tanpa kita sadari
kita sedang melakukan kesalahan fatal yang sama persis dengan orang-orang di
Masjidil Haram berabad-abad silam.
Mukjizat Modern: Kesunyian Batin di Tengah Bising Digital
Tantangan terbesar bagi manusia
modern bukanlah bagaimana cara mendatangkan keajaiban atau kesaktian layaknya
membawa air di dalam keranjang berlubang. Keajaiban terbesar di era digital ini
adalah ketika seseorang mampu berbuat baik secara diam-diam tanpa ada hasrat
sedikit pun untuk mengunggahnya ke media sosial.
Mukjizat tertinggi hari ini
adalah kemampuan untuk menjaga batin tetap sunyi dan damai, tetap terhubung
murni dengan Tuhan di tengah bisingnya notifikasi dan serbuan informasi yang
mencoba mendikte standar kebahagiaan kita.
Mbah Saridin telah mencontohkan
bahwa puncak dari segala ilmu pengetahuan dan spiritualitas bukanlah saat kita
menjadi yang paling bersinar di antara manusia, melainkan saat kita rela
memadamkan cahaya ego kita agar hanya cahaya Tuhan yang tersisa menerangi alam
semesta.
|
“Mbah Saridin memilih terlihat gila di mata manusia agar tetap waras di mata Tuhan. Bagaimana dengan kita?” |




