Kata Kunci: Uji Komparasi, SPSS, Alat Peraga Matematika, Metode Ceramah, Persamaan Linear Dua Variabel (PLDV), MTs. Sunan Ampel Kraton.
Matematika sering kali dipandang sebagai salah satu mata pelajaran yang paling menantang dan abstrak oleh sebagian besar peserta didik di jenjang Sekolah Menengah Pertama / Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs). Sifat dasar matematika yang deduktif, rasional, dan penuh dengan simbol-simbol formal menuntut tingkat abstraksi berpikir yang tinggi. Salah satu materi esensial dalam kurikulum matematika Kelas 9 MTs adalah Persamaan Linear Dua Variabel (PLDV).
Materi PLDV mencakup pembentukan model matematika dari masalah sehari-hari, penentuan himpunan penyelesaian dengan metode grafik, substitusi, eliminasi, maupun gabungan. Kendala utama yang dialami oleh siswa kelas 9 MTs. Sunan Ampel Kraton dalam mempelajari PLDV adalah kesulitan memvisualisasikan konsep variabel, koefisien, konstanta, serta interpretasi geometris dari titik potong dua garis lurus dalam sistem persamaan linear.
Secara konvensional, proses pembelajaran matematika di tingkat madrasah masih didominasi oleh metode ceramah (ekspositori). Pada metode ini, guru bertindak sebagai pusat informasi (teacher-centered) yang menjelaskan konsep secara verbal di papan tulis, memberikan rumus jadi, dan dilanjutkan dengan latihan soal. Meskipun metode ceramah efisien dalam menyampaikan materi secara luas dalam waktu singkat, metode ini cenderung membuat siswa pasif, cepat jenuh, dan gagal membangun pemahaman konseptual yang mendalam (deep conceptual understanding).
Untuk mengatasi kelemahan tersebut, pendekatan pembelajaran berbasis alat peraga matematika konkrit (manipulative materials) ditawarkan sebagai alternatif solusi. Alat peraga PLDV (seperti blok aljabar, papan berpetak titik potong, atau neraca kesamaan linear) membantu menjembatani taraf berpikir konkrit menuju taraf berpikir abstrak (sesuai dengan Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget dan Teori Tahapan Belajar Jerome Bruner: Enaktif, Ikonik, Simbolik).
Oleh karena itu, diperlukan pembuktian secara kuantitatif dan ilmiah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan efektivitas yang nyata antara penggunaan metode ceramah dan pemanfaatan alat peraga matematika terhadap hasil ujian siswa kelas 9 MTs. Sunan Ampel Kraton pada materi PLDV.
- Bagaimanakah karakteristik deskriptif nilai ujian Matematika materi PLDV siswa kelas 9 MTs. Sunan Ampel Kraton pada pembelajaran metode ceramah (Data 1) dan metode alat peraga (Data 2)?
- Apakah data hasil belajar matematika dari kedua metode tersebut memenuhi asumsi prasyarat analisis statistik parametrik (uji normalitas dan uji homogenitas varians)?
- Apakah terdapat perbedaan rata-rata yang signifikan secara statistik antara nilai ujian matematika siswa yang diajar dengan metode ceramah dan siswa yang diajar dengan menggunakan alat peraga matematika?
Jerome Bruner menyatakan bahwa proses belajar siswa berkembang melalui tiga tahap utama: Enaktif (pengalaman langsung objek konkrit), Ikonik (bayangan visual/gambar), dan Simbolik (simbol-simbol abstrak). Dalam pembelajaran PLDV, alat peraga berfungsi sebagai jembatan enaktif dan ikonik sebelum siswa didorong masuk ke dalam tahap penyelesaian matematis simbolik murni ($ax + by = c$).
• Hipotesis Nol (H0): Tidak terdapat perbedaan rata-rata yang signifikan antara nilai ujian matematika materi PLDV siswa yang diajar menggunakan metode ceramah dan metode alat peraga matematika ($\mu_1 = \mu_2$).
• Hipotesis Alternatif (Ha): Terdapat perbedaan rata-rata yang signifikan antara nilai ujian matematika materi PLDV siswa yang diajar menggunakan metode ceramah dan metode alat peraga matematika ($\mu_1 \neq \mu_2$).
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif komparatif. Data empiris diambil dari hasil ujian 15 sampel siswa kelas 9 MTs. Sunan Ampel Kraton dengan perbandingan nilai sebelum dan sesudah intervensi alat peraga (Data 1: Metode Ceramah vs Data 2: Metode Alat Peraga).
| No. Sampel Siswa | Data 1 (Metode Ceramah) | Data 2 (Metode Alat Peraga) | Selisih Peningkatan (Data 2 - Data 1) |
|---|---|---|---|
| 1 | 45 | 65 | +20 |
| 2 | 65 | 67 | +2 |
| 3 | 34 | 85 | +51 |
| 4 | 67 | 72 | +5 |
| 5 | 86 | 86 | 0 |
| 6 | 34 | 54 | +20 |
| 7 | 56 | 76 | +20 |
| 8 | 23 | 56 | +33 |
| 9 | 45 | 54 | +9 |
| 10 | 67 | 71 | +4 |
| 11 | 85 | 92 | +7 |
| 12 | 64 | 72 | +8 |
| 13 | 34 | 56 | +22 |
| 14 | 67 | 70 | +3 |
| 15 | 51 | 62 | +11 |
Berdasarkan hasil pengolahan IBM SPSS Statistics, berikut adalah ringkasan parameter deskriptif dari kedua kelompok data:
| Statistik Deskriptif | Metode Ceramah (Data 1) | Metode Alat Peraga (Data 2) | Perbedaan / Peningkatan |
|---|---|---|---|
| Jumlah Sampel (N) | 15 | 15 | - |
| Rata-Rata (Mean) | 54,87 | 69,20 | +14,33 Poin |
| Standar Deviasi (SD) | 18,97 | 11,96 | -7,01 (Lebih Stabil) |
| Varians (Variance) | 359,84 | 143,03 | -216,81 |
| Nilai Minimum | 23,00 | 54,00 | +31,00 |
| Nilai Maksimum | 86,00 | 92,00 | +6,00 |
1. Uji Normalitas (Shapiro-Wilk): Nilai sig. (p-value) untuk Metode Ceramah adalah 0,468 dan untuk Metode Alat Peraga adalah 0,329. Karena kedua nilai $p > 0,05$, maka dapat disimpulkan bahwa kedua sampel data berdistribusi normal.
2. Uji Homogenitas (Levene's Test): Pengujian Levene menghasilkan statistik $F = 4,057$ dengan nilai sig. $p = 0,0539$. Karena $p > 0,05$, varians antar kelompok dinyatakan homogen (Equal Variances Assumed).
| Jenis Uji Hipotesis | Nilai t-hitung | df | Sig. (2-tailed) / p-value | Keputusan Uji |
|---|---|---|---|---|
| Independent Samples t-test | -2,476 | 28 | 0,0196 | H0 Ditolak (Signifikan p < 0.05) |
| Paired Samples t-test | -4,024 | 14 | 0,00125 | H0 Ditolak (Sangat Signifikan p < 0.01) |
Berdasarkan hasil uji parametrik di atas, nilai signifikansi $p < 0,05$ membuktikan secara meyakinkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar yang signifikan secara statistik antara penerapan metode ceramah dan metode alat peraga.
Penggunaan alat peraga matematika konkrit secara signifikan mampu meningkatkan hasil ujian siswa kelas 9 MTs. Sunan Ampel Kraton pada materi Persamaan Linear Dua Variabel (PLDV). Nilai rata-rata mengalami kenaikan sebesar 14,33 poin (dari 54,87 menjadi 69,20), dengan variansi nilai yang jauh lebih stabil dan merata. Alat peraga direkomendasikan untuk digunakan secara luas dalam mengatasi ketakutan dan kebingungan siswa terhadap materi matematika yang bersifat abstrak.
- Bruner, J. S. (1966). Toward a Theory of Instruction. Cambridge: Harvard University Press.
- Piaget, J. (1970). Science of Education and the Psychology of the Child. New York: Orion Press.
- Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
- Santoso, S. (2020). Panduan Lengkap Menguasai SPSS 26. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.






