MENJADI GURU PROFESIONAL

INGIN MENJADI GURU PROFESIONAL
BELAJARLAH DARI TUKANG POTONG RAMBUT



Penulis
SAIFUL ARIF
Alumni Teacher SuperCamp 2017 KPK RI

Jabatan guru sungguh mulia dengan menyandang gelar profesional juga pahlawan tanpa tanda jasa. Harum semerbak bagai melati mekar dipagi hari putih dan bersih memberikan aroma terapi dalam kesehatan batin dan jiwa. Guru profesional hendaknya memiliki empat kompetensi guru yang telah ditetapkan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen yaitu, kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial. Memang terasa berat jika kita rasakan, telaah dan di pikirkan tentang tugas dan kewajiban guru. Namun jika kita sadar bahwa menjadi "GURU" adalah panggilan jiwa dan nurani, bukan karena keterpaksaan.
Sikap dan prilaku guru yang selalu digugu dan sekaligus ditiru oleh peserta didiknya adalah bentuk sikap yang profesional dari segi kepribadian dan sosialnya. Menagjarkan ilmu dengan hati dan rasa yang menyentuh hati jiwa para siswa akan menciptakan lingkungan damai dan tentram. Tidak akan ada lagi kegaduhan yang timbul akibat siswa jenuh dan malas dengan suasana kelas. Guru bagaikan kaum Pendawa yang siap akan membela kebenaran dan keadilan akibat tangan-tangan para Kurawa yang selalu menanamkan kebodohan dan kehancuran  kehidupan manusia. Dengan senjata keikhlasannya seharusnya guru bisa menghancurkan tembok-tembok kemungkaran dan kemunafikan. Akan sangat dinanti bahkan dibutuhkan oleh para siswa jika dedikasi dan integrasi guru memang demikian adanya, artinya seorang guru benar-benar berjuang dengan sekuat tenaga mendidik dan mengajar dengan amanah.
Namun realitas yang ada dalam keseharian jabatan profesional ini luntur hilang tanpa bekas dan seolah menjadi hal yang lumrah dan biasa. Standar pelayanan minimal (SPM) bagi guru sudah mencapai titik nadir dan hampir pupus bagai awan tersapu angin kencang, Guru sudah enggan untuk menegur siswa yang melakukan pelanggaran di lingkungan sekolah. Membangunkan siswa yang tidur di kelas saat proses kegiatan belajar mngajar (KBM) dengan perasaan atau dengan sanksi mendidik jika siswa melakukan kesalahan misalkan di perintahkan untuk mencuci muka. Guru hanya menjelaskan teori di depan siswa seolah sudah cuek dengan kondisi di dalam kelas. Guru bagaikan Begawan Durno yang nrocos berbicara  ilmu tanpa melihat anak didik tentang benar atau salah sikap yang ditunjukan. Guru sudah tidak lagi menjalankan tugas pokok dan fungsinya (TUPOKSI), namun cendrung rebuutan jabatan dan kedudukan dengan berbagai macam cara.
Hasil gambar untuk tulisan Allah SWT arabHasil gambar untuk tulisan Allah SWT arab
Berikut keterangan hadist bagi orang-orang yang suka meminta-minta jabatan tetapi tidak amanah dan tanggung jawab dalam menjalankan jabatannya. Dari Abdurrahman bin Samurah dia berkata: Rasûlullâh       telah bersabda kepadaku, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta jabatan! Karena sesungguhnya jika diberikan jabatan itu kepadamu dengan sebab permintaan, pasti jabatan itu (sepenuhnya) akan diserahkan kepadamu (tanpa pertolongan dari Allâh). Dan jika jabatan itu diberikan kepadamu bukan dengan permintaan, pasti kamu akan ditolong (oleh Allâh Azza wa Jalla) dalam melaksanakan jabatan itu. Dan apabila kamu bersumpah dengan satu sumpah kemudian kamu melihat selainnya lebih baik darinya (dan kamu ingin membatalkan sumpahmu), maka bayarlah kaffârah (tebusan) dari sumpahmu itu dan kerjakanlah yang lebih baik (darinya).

Jika larangan Nabi Muhammad       yang mulia ini tidak dilanggar, maka akan menghasilkan kemaslahatan yang sangat besar, baik bagi yang memimpin yaitu pejabat itu sendiri maupun yang dipimpin yaitu rakyat. Karena dia akan selalu mendapat pertolongan dari Rabbul ‘alamin dalam melaksanakan tugasnya. Bentuk pertolongan dari Allah Azza wa Jalla itu bermacam-macam, misalnya:
1.      Beban yang berat menjadi terasa ringan
2.      Hal yang sulit menjadi mudah
3.      Kesempitan akan menjadi lapang
4.    Teguran, koreksi dan perbaikan dari kesalahan yang dia lakukan, sehingga dia tetap berada di jalan yang benar dalam melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin, baik sebagai pemimpin tertinggi, wakil, sebagai menteri, sebagai gubernur dan seterusnya
Begitu memperhatikannya agama islam mengenai masalah ini, hal ini karena menyangkut kehidupan dan kemaslahatan orang lain. Guru sebagai pendidik dan mempunyai jabatan profesioonal seharusnya juga mempunyai misi mencipakan kemaslahatn bagi para siswa di kelas. Bukan menciptakan penjara baru bagi kehidupan anak yang telah menggantungkan sejuta cita-cita di kelas dan para guru-gurunya. Namun karena tindakan tidak profesionalnya berakibat kelas menjadi sepi seperti kuburan tanpa gerak dan hembusan napas kehidupan.
Jika kita bandingkan dengan tukang ptong rambut yang sebenarnya bukanlah merupakan jabatan prfesional karena jabatan itu harus ditempuh pada lembaga formal dengan interval waktu tertentu. Namun di sini penulis hanya ngin mengkomparasikan dengan cara melayani dan melakukan pekerjaannya tentu akan didapatkan nilai kepuasan tersendiri. Semua konsumen diperlakukan dengan baik dan memuaskan. Dengan servis yang sederhana tetapi didasari ketulusan hati didapatkan hasil yang luar biasa juga. Mereka tahu bagian mana yang harus dirapikkan dan diptong tanpa melihat siapa yang duduk didepannya. Namun hanya melihat karakter rambut sang konsumen, tukang potong pun tahu dan siap melakukan pekerjaannya secara PROFESIONAL. Gerakan gunting, sisir yang berada ditangannya bagaikan sebuah pedang ditangan sang pendekar bergerak gesit tanpa kesalahan dan goresan di kulit kepala konsumen. Dengan di iringi senyuman dan obrolan yang tidak menentu sang tukang cukurpun berusaha melebur suasana yang beku dan kaku. Pelayanan pun menjadi prioritas dan Standar Pelayanan Minimal (SPM) sudah dijalankan. Penulis melihat bahwa tukang potong ini pun tidak hanya melaksanakan tugasnya dengan merapikan rambut saja, kadang-kadang sampai ke kumis yang lebat seperti hutan belantara menjadi rapi dengan sentuhan gunting dan mesin cukurnya. Padahal sang konsumen tidak meminta tapi tukang cukur memberikan servis lebih dan itu dirasa memang dibutuhan. Bukan itu saja, diakhir pekerjaanya kkadang-kadang masih ada layanan ekstra yang diberikan ke pelanggan yaitu memijat pundak dan kepala dan punggung, sehingga dirasakan begitu nikmat dan tubuh menjadi segar. Kondisi ini yang menyebabkan para pelanggan mau mengeluarkan biaya lebih bahkan sedikkit agak mahal jika dibandingkan dengan pelayanan yang biasa.
Bagaimana jika kita sebagai pendidik bisa memahami pekerjaan tukang potong rambut dan mengimplementasikan ke dunia pendidikan. Kita tahu betul apa yang dibutuhkan siswa kita dengan berbagai macam karakter yang mereka punyai. namun kita begitu lihai memainkan perana layaknya sang tukang potong tersebut. Tentu yang diuntungkan siswa dalam pengertian yang sempit. Tetapi secara artian luas yang sangat beruntung adalah orang tua murid yang akan merasa terlayani oleh tangan-tangan guru profesional. Memperlakukan siswa sesuai dengan karakter anak dan kepribadiannya. Sungguh pelayanan yang super "WOW" yang menjadikan lembaga tersebut berani dibayar mahal tanpa peduli seberapa besarnya uang yang mereka keluarkan. Kompetensi dan jaminan bagi siswa yang bersekolah dilembaga seperti tukang potong akan menjawab tantangan dunia global di masa yang akan datang. Pelayanan yang super ekstra pada peserta didik tentu akan memberikan penilaian beda di hati masyarakat, seperti seorang guru dekat dengan masing-masing orang tua siswa dengan cara membentuk group komunikasi online WhatsApp yang akan digunakan sebagai alat komunikasi setiap waktu. Menyatakan ucapan selamat  hari ulang tahun siswa kepada orang tua  jika ada yang ulang tahun. Sehingga orang tua akan menganggap betapa perhatiannya lembaga tersebut. Tentunya masih banyak pelayanan ekstra lain yang bisa diberikan ke siswa sebagai bentuk kepedulian guru terhadap peserta didik.

0 komentar:

Check Google Page Rank
Berikan Pendapat Anda tentang WI Berikan komentar positif dan santun demi pengembangan selanjutnya, untuk partisipasi anda semua saya ucapkan Terimakasih