Berikan Pendapat Anda tentang WI Berikan komentar positif dan santun demi pengembangan konten yang lebih menarik serta lebih faktual dengan berita ilmu yang bermanfaat bagi kita semua pada tahap selanjutnya, untuk partisipasi anda semua saya ucapkan Terimakasih

PERTARUNGAN GATUT KACA Vs ANTAREJA

(Fitnah dalam Keluarga Pendawa)

 

SAIFUL ARIF

Praktisi Pendidikan & Pendidik





Diceritakan dalam dunia wewayangan tentang asal usul kejadian perang saudara di keluarga Pendawa yang terjadi yaitu antara Gatut Kaca melawan Antareja. Sebenarnya keduanya adalah putra dari Bima atau Wekudara satu dari anggota Pendawa. Awal kisahnya dimulai dari terbubuhnya Dewei Sembrada istri yang lain dari Arjuna oleh Burisrawa di taman kerajaan. Burisrawa yang sudah beristri, namun masih saja menyukai istri Arjuna yang cantik rupawan. Waktu itu di taman tidak ada pengawalan yang ketat seperti biasanya. Melihat situasi menguntungkan yaitu Dewi Sembrada yang lagi sendirian maka Burisrawa mendekat serta merayunya. Namun niat itu ditolak oleh Dewi Sembrada. Dengan marah Buriswa menghunuskan keris untuk menakut-nakuti sang Dewi Sembrada. Namun niatnya yang hanya untuk menakut-nakuti tersebut membuat petaka bagi dewi Sembrada bergerak maju dan tertusuk  keris ke badannya. Tentu saja Burisrawa terkejut melihat kenyatan tersebut. Segera dia bersembunyi di dalam taman karena dianggapnya situasi tersebut tidak menguntungkannya.

Srikandi yang saat itu berjaga telah mendengar raungan suara dewi Sembrada dari balik taman. Segera dia bergerak untuk melihat situasi di dalam taman. Betapa terkejutnya Srikandi melihat tubuh Sembrada yang tergeletak bersimbah darah. Mata Srikandi melirik ke tengah taman untuk mencari siapa pelakunya. Sementara Burisrawa yang sembunyi di balik pohon tanpa dia sadari menginjak ranting kering hingga bunyinya didengar oleh Srikandi. Srikandi pun mengarahkan panahnya ke arah pohon tersebut. Dengan kecepatan bergerak Burisrawa meloncat ke samping hingga lolos dari hujaman anak panah Srikandi. Jasad dewi Sembrada pun dibawah keistana dan dihadapkan pada para Pendawa yaitu Arjuna, Bima, Yudistira, Nakula, Sadewa dan Dewi Srikandi. Hati Arjuna sangat terpukul sekali hingga memerintahkan untuk mencari siapa pembunuhnya. Mereka menyebar ke segala penjuru, namun tidak diketemukan juga pembunuh Sembrada.

Akhirnya mereka mendatangkan dewa Kresna untuk meminta saran dan masukan tentang kejadian tersebut. Hasil kesepakatannya yaitu menaruh jasad Sembrada ke dalam perahu untuk di larungkan ke Sungai Gangga. Siapa saja yang menghentikan dan membawa jasad Sembrada, dialah pembunuhnya. Maka rencana itu pun dilakukan dan disepakati oleh para Pendawa. Saat yang bersamaan juga, Gatut kaca diperintahkan oleh dewa Kresna terbang mengawasi laju jasad Sembrada di Sungai gangga tersebut. Tanpa menunggu lama Gatut Kaca pun terbang dan melakukan pengawasan dari angkasa pada jasad tersebut.

Dilain tempat, rupanya Antareja sedang melakukan perjalanan di dalam air untuk mencari siapa ayah dirinya. Perjalanan yang melelahkan dan sangat jauh sekali, kemudian dikhiri naik ke permukaan air. Tanpa dia sadari ternyata sudah berada dipermukaan sungai Gangga. Dia melihat dari kejauhan benda yang aneh meluncur ke arahnya. Dengan kekuatan berenang, dia menuju ke benda yang dimaksud. Betapa terkejutnya ternyata isi dari perahu tersebut adalah jasad seorang perempuan yang meninggal. Maksudnya dia ingin menolong jasad tersebut. Tetapi dari angkasa Gatut Kaca sudah melihat kejadian tersebut hingga dia langsung melesat turun menyerang Antareja. Naluri kesatrianya merasakan jika ada serangan dari udara. Perkelaihan pun tidak bisa dihindarkan dan berlangsung sengit. Tidak ada yang kalah atau pun yang menang dalam pertarungan tersebut. Dewa Kresna turun untuk melerai keduanya. Lalu dewa Kresna pun mengatakan jika mereka berdua adalah saudara dari ayah yang Bernama Werkudara atau Bima. Mereka sadar dan saling memafkan satu denan lainnya. Antareja kemudian mendekati jasad Sembrada memberikan air suci ke tubuhnya hingga dengan izin yang maha kuasa dewi Sembrada pun hidup kembali. Sembrada menceritakan jika meninggalnya karena ingin menjaga harga diri dari bujukan Burisrawa untuk diajak selingkuh. Sebrada menghujamkan keris Burisrawa ke perutnya hingga tewas.

Kehadiran Antareja ditengah-tengah keluarga Pendawa telah memberikan kebahagiaan yang baru, demikian pula sebaliknya dengan Antareja. Perjalananya mencari sang ayah kini telah berakhir pula. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, mengingat dia harus mencari pembunuh Sembrada. Dengan ajian yang dimiliki Antareja yaitu merubah diri menjadi Sembrada akan mudah mencari Bursirawa nantinya. Perjalan pun di lanjutkan dengan ajian amblas bumi yang menjadi andalannya.

Ksah tersebut sangat inspiratif dan penuh filosofi pemahaman hidup. Oleh sebab itu kita diharuskan bijak dalam mengartikan serta menghayati maksud isi ceritanya. Masih sangat kami sadari jika tidak semua orang mampu melakukan semua itu terlebih mereka yang tidak menyukai membaca, lebih-lebih menonton wayang yang dianggap menjenuhkan. Silahkan anda tafsiri bagaimana akhir dari cerita petualangan Antareja mencari pembunuh sang bibinya? Apakah berakhir dengan pembunuhan sebab karena dendam, atau memaafkan saja agar masalah cepat selesai. Wassalam…




0 komentar:

Posting Komentar