Berikan Pendapat Anda tentang WI Berikan komentar positif dan santun demi pengembangan konten yang lebih menarik serta lebih faktual dengan berita ilmu yang bermanfaat bagi kita semua pada tahap selanjutnya, untuk partisipasi anda semua saya ucapkan Terimakasih

MEMBANGUN STAR UP LEMBAGA

MEMBANGUN STAR UP
DI LEMBAGA PENDIDIKAN

Aku adalah aku
Aku bukanlah dirimu
Kamu bukanlah aku
Karena kamu memang beda dengan aku 

Apa yang aku lakukan
Tapi kamu tak pernah melakukan
Aku dan dirimu memang berbeda  
Karena kamu bukanlah diriku


Petikan kalimat puisi di atas memang menunjukan keberagaman bagi kita sebagai makhluk sosial di muka bumi ini. Makhluk yang beragam dengan kekayaan yang berbeda-beda. Oleh sebab itu kita tidak bisa memaksakan kehendak pada siapa pun demi sebuah kepentingan. Memandang manusia sebagai makhluk sosial memang sudah sewajarnya jika pendidik memperlakukan yang berbeda pula terhadap para siswa di kelas. Tidak bisa menjadikan  sesuatu itu sama dengan mengeneralisasi sebuah situasi pembelajaran dalam kelas. Setiap studi kasus yang berkaitan dengan proses pembelajaran memang tidak bisa secara implisit memberikan porsi yang sama dengan melakukan sebuah pengukuran atau takaran hasil evaluasi belajar untuk mencapai sebuah proses GOAL yang akan diperoleh oleh siswa tersebut. Dengan demikian memaknai sebuah pembelajran seharusnya guru atau pendidik lebih fokus pada nilai sikap dan karakter sebelum pada nilai kognitif
TERKIKISNYA nilai moralitas bangsa diawali dari gagalnya sebuah pembelajaran di kelas. Ragam dan bentuk karakter yang hidup dimuka bumi bahkan dibelahan bumi ini sekalipun merupakan takdir juga kekayaan ide yang dimiliki mulai lahir oleh setiap makhluk. Pembelajaran sudah harus dirubah arah tujuan dan maksud pembelajaran itu sendiri. Mungkin lebih intens pada pendidikan AKHLAKUL KARIMAH seperti yang dilakukan pondok pesantres salafi. Berpedoman pembentukan manusia yang BAIK dan BENAR terus diupayakan secara continue. Jangan mudah putus asa dalam mengajarkan serta memberikan suri tauladan baik pada peserta didik kita, karena mereka adalah AMANAH dari orang tua atau wali murid. Masih ada diantara kita yang melupakan amanah orang tua ini yaitu berupa siswa didik yang harus melakukan pembinaan yang intens. Seruan untuk selalu berbuat yang terbaik dalam kelas harus selalu didengungkan serta distimuluskan pada anak-anak sehingga terbiasa mendenagr serta melakukan apa yang kita serukan. Misalnya sebuah contoh kongkrit, siswa dianjurkan bahkan diminta untuk selalu membuang sampah pada tempatnya.
Guru yang hanya menginformasikan pembelajaran kognitif saja di kelas, namun tak menyampaikan hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan spiritual tentu guru tersebut perlu pembinaan dari para tokoh steakholder di lembaga tersebut atau menggunakan jasa orang ketiga untuk melakukan perubahan tersebut. Jangan sampai guru sebagai alat cetakan (cativy) tidak memberikan bentuk serana yang menarik dan menyenangkan. Lebih ke dalam penindakan pelanggaran-pelanggaran siswa dengan memberikan hukuman pisik yang menurut hemat saya tidaklah terlalu penting. Lalu bagaimana tugas dan peran BP atau BK terhadap kasus yang dihadapi siswa baik di sekolah atau di luar sekolah? Apa BP/BK sebagai komponen yang menakutkan diri siswa? Tentu itu keliru, seharusnya menjadi mitra dan sahabat BP/BK dan menjadi tempat curhatan bagi kegelisahan mereka, ini kok malah sebaliknya! Lucu dan lucu. Saya tahu terkadang banyak guru asyik bermain gadget terbuai tanpa peduli siswanya membutuhkan informasi sebagai tambahan nutrisi pengetahuan mereka. Mengkhianati amanah orang tua sama saja perbuatan KORUPSI. Mengkhianati dalam artian siswa yang dititipkan ke lembaga dengan harapan orang tua bisa melihat anaknya ada perubahan sikap, pengetahuan serta keterampilan hidup tetapi tidak didapatkan karena sikap mereka yang hilang rasa tanggung jawab dan kepeduliannya.
Dalam sebuah acara talk show AKATARA 2021 – ROAD SHOW BANDUNG yang bertajuk INTELEKTUAL PROPERTI DALAM INDUSTRI KONTEN DI INDONESIA yang dipandu oleh ROBINSON HASOLOAN direktur pengembangan kekayaan intelektual dan AGUNG SANTAUSA bidang fasilitas pembiayaan perfilman Indonesia berkata bahwa harus ada 3 star up agar perfilman kita lebih maju yaitu bagian creator, bagian IT dan bagian pemasaran (marketing). Ketiga paket ini sudah menjadi satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan. Demikian juga lembaga pendidikan jika dipandang sebagai dunia usaha dan bisnis maka harus ada star up khusus yang bisa membantu dalam peningkatan mutu pendidikan kita. Tidak bisa kita terlalu memaksakan pendapat dengan memakai atau mendelegasikan orang-orang itu saja dalam menjalankan program lembaga. Sehingga secara tidak langsung akan mempengaruhi proses belajar mengajar. Bagaimana tidak! Tugas seorang guru adalah mengajar di dalam kelas, namun masih banyak guru yang SERING MENINGGALKAN KELAS hanya karena menjadi guru piket. Tetapi tugas utama di kelas ditinggalkannya. Ini terkesan mencari hidup di madrasah dari pada menghidupi madrasah. Sebenarnya dia tahu jika itu melanggar aturan, yaaa… minimal melanggar kode etik dan moral sebagai pendidik. Sekali lagi semuanya terkesan DIPAKSAKAN.
Apa yang disampaikan dalam acara talk show tersebut sangat setuju sekali bahwa harus ada bagi-bagi tugas dengan membuat sebuah starup yang lebih mewakili semua pihak. Saya mengakui jika kamu bukanlah diriku dan diriku bukanlah dirimu, kamu tak akan seperti aku sebab aku tak mungkin seperti dirimu. Tegas dan tegas harus diungkapkan untuk menyibak takdir yang penuh illusi juga mimpi dalam berkreasi. Malas masuk kelas hanya karena ada jadwal 1 jam! Ini bukan soal satu jam atau lebih, namun pada bentuk pelanggaran kode etik sebagai guru yang syarat dengan TANGGUNG JAWAB. Mutu managemen adalah bentuk star up yang memang harus dibentuk sebagai QUALITY CONTROL pada sebuah system kelembaga. Dahulu pernah saya tawarkan dan bahkan berjalan hanya beberapa tahun di sebuah lembaga tempat saya mengajar saya tawarkan star up MANAGEMEN MUTU yang bertugas sebagai QUALITY CONTROL semua kegiatan di lembaga tersebut. Sifat kerja dari starup ini lebih komprehensip hingga membutuhkan daya pikir serta kerja keras pegolahan lembaga tersebut. Namun berjalannya waktu dengan bergantinya status kekuasaan maka star up ini dihilangkan dengan memasang orang-orang yang kurang “KOMPETEN” sebagai tim pengelolahan lembaga tersebut, sayang seribu sayang hanya katena ego dan rasa sentiment pemangku kebijakan star up yang begitu luar biasa dihilangkan hingga yang menjadi korban adalah PESERTA DIDIK.
Keberagaman kompetensi guru ini jika diakomodir secara arif dan bijaksana akan menghasilkan SUPER POWER yang dahsyat dan mengasilkan pusaran energy dalam gelombang longitudinal. Sekali lagi sangat disayangkan, pemimpin perlu ditayakan kompetensi dan kemampuannya dalam mengakses sebuah informasi global terutama membuat dan merancang starup-starup baru yang lebih inovasi. Kepala lembaga atau pemimpin tidak hanya menerima instruksi dari TOP LEADER saja, tetapi berani berpendapat secara tegas guna melakukan terobosan yang keren serta inovasi. Apabila merasa diri tak mampu, sudah sewajarnya MENGUNDURKAN DIRI sebagai bentuk sikap kesatria untuk diganti yang lain tentu yang lebih kualias seacara akademisi juga prestasi. Semoga demikian untuk menyongsong Indonesia bebas KORUPSI dengan mentelorkan pemimpin yang berintegritas tentu dari jiwa yang bersih dan suci. Amin 





0 komentar:

Posting Komentar