HARDIKNAS: GAGALNYA SISTIM PENDIDIKAN

Peringatan hari pendidikan nasional (Hardiknas) tepatnya Senin 02 Mei 2016 seharusnya menjadi momen refleksi dan bahan renungan sebagai guru bangsa. Beban moral yang dipikul oleh semua tenaga pendidik memang sarat dengan kritikan dan cacian. Namun ini harus kita jawab dengan kinerja yang lebih baik dan meningkatan disiplin diri guna membangun karakter anak didik. Hardiknas memang menjadi refleksi, apa kekurangan bangsa ini dalam mendidik tunas harapan negeri ini. Jika kita renungkan bagaimana konsep yang diterapkan dalam penanaman nilai-nilai moral oleh founding father tanah air memang sangat besar sekali kontribusinya dan implikasi yang dirasakan. Salah satu tokoh yang begitu memperjuangkan aspirasi pendidikan di tanah air ini adalah Kihajar Dewantoro. Dalam sistim manajerial yang beliau tanamkan adalah “ing ngarso sung tulodo, ing madyo bangun karso dan tut wuri handayani”.
Seandainya, semua komponen negeri ini terutama para pendidik memahami dan juga mengimplementasikan secara realita dalam pelaksanaan roda pendidikan, tentu apa yang diinginkan para leluhur kita pasti sudah tercapai. Mari kita pahami secara pilosofi ketiga kalimat tersebut yang merupakan bentuk istilah lain dari teori Taksonomi bloom. Dia menekankan tiga konsep siswa mencapai tiga kompetensi yaitu kognitif, psikomotor dan afektif. Sebenarnya jauh ke belakang tokoh kita sudah menerapkannya yaitu ing ngarso sung tulodo ini bentuk manifes dari nilai afektif, ing madyo bangun karso juga manifes dari nilai kognitif dan tut wuri handayani adalah manifes dari psikomotor.
Degradasi nilai moral yang sekarang telah melanda anak bangsa tentu bukan tanpa sebab. Banyak faktor yang memang harus dilihat dari sisi yang berbeda diantaranya lingkungan pergaulan, keluarga dan lingkungan sekolah. Tiga unsur ini harus bertemu dalam satu titi membuat satu komitmen yang konkrit agar sesegera mungkin di implementasikan dalam lingkungan sekolah. Namun, dalam perspektif tulisan ini saya lebih fokus pada sang pendidik. Apakah kedua unsur tadi tidak urgently? Tentu saja sangan urgen, namun yang langsung menjadi actor kali ini adalah sang pendidik. Banyak guru yang sangat kurang peduli pada anak didiknya terutama menankan pendidikan karakter. Sekolah-sekolah yang bertaraf nasional lebih mengejar nilai kognitif dengan mengikuti ajang lomba yang harannya mendapatkan juara I.
Jika konsep kita sebagai negeri ini memahami nilai yang terkandung di lagu kebangsaan kita yaitu indonesia raya mungkin dapat mnjadi inspirasi tersendiri. Penggalan bait lagunya “bangunlah jiwanya bangunla badannya untuk indonesia raya”. Ternyata para pejuang kita mengedepankan nilai jiwa yang dibangun sebelum badannya. Sebab jiwa dapat merupakan sistin kontrol dari semua aktivitas badan manusia. Jika substansi ini ditarik ke rana sistim pendidikan kita, tentu 30 tahun ke depan setelah indonesia merdeka akan mempunyai para generasi muda yang menjadi pemimpin bangsa yang mempunyai nilai karakter handal dan berkualitas. Oleh karena itu, melaluhi coretan tulisan saya ini saya mengetuk nurani para guru-guru di tanah air untuk lebih membangun jiwa-jiwa putra didik kita.
Kegagalan nilai moralitas anak didik tidak terlepas dari ruh sistim pendidikan karakter yang ditanamkan di setiap lembaga pendidikan. Memang tidak ada manusia sempurna, namun jika kita realitas harus diakui juga bahwa masing-masing manusia juga mempunyai kemampuan sesuai bidangnya. Tetap dan terus kita kampanyekan maupun didengungkan pendidikan karakter ini dengan cara disampaikan kepada anak sesuai tugas dan kemampuan masing-masing guru. Yang penting ada niatan dalam hati kita dalam caracter building agar lebih dirasakan dampak positif di tanah air. Tawuran, narkoba dan penganiayaan siswa terhadap guru tidak lepas dari akhlakul karimah.

salam pak say >>>

0 komentar:

Memuat...
Loading...
Check Google Page Rank