TEORI BEHAVIORISTIK KLASIK

Latar belakang munculnya teori bahavioristik klasik 

Behaviorisme merupakan suatu pandangan teoritis yang beranggapan bahwa pokok persoalan psikologi adalah pada tingkah laku, tanpa mengaitkan konsepsi – konsepsi mengenai kesadaran atau mentalitas. Sedangkan Teori Operant Conditioning ( Teori Kekuatan Operan ) yang ditemukan oleh BF Skinner merupakan pengembangan dari Teori Behaviorisme dan lebih dikenal dengan istilah teori Behaviorisme Deskriptif ( Chaplin JP, 2005 ).
Ivan Petrovitch Pavlov merupakan tokoh aliran behaviorisme klasik ( Classical Conditioning ). Dia dilahirkan di kota Ryazan, yaitu sebuah desa kecil di Rusia pada September 1849, satu dekade sebelum dipublikasikannya teori Darwin “ Darwin’s On The Origin of Species “ ( Chance, 2002 ). Pavlov sebenarnya seorang ahli fisiologi sejak tahun 1980 dan dan pada tahun 1904 mendapatkan hadiah Nobel dalan bidang fisiologi, penelitian yang dilakukannya adalah mengenai kelenjar ludah dengan menggunakan anjing sebagai subyek. Dalam hal ini anjing di operasi kelenjar ludahnya sedemikian sehingga memungkinkan peneliti untuk mengukur air liur yang keluar sebagai respon ( reaksi ) apabila ada perangsang makanan ke mulutnya ( kemampuan daya deskriminasi anjing ). Suatu stimulus yang memunculkan respon tertentu dioperasikan berpasangan dengan stimulus lain pada saat yang sama untuk memunculkan respon refleks. Stimulus lain itu dikondisikan agar memunculkan respon refleks yang dimaksud. Kedalam mulut anjing diberikan daging ( stimulus asli ) dan secara refleks anjing akan anjing akan merespon dengan mengeluarkan air liur ( respon asli ), dan jika dengan pemberian daging dibunyikan bel ( stimulus kondisi ), yang terjadi adalah stimulus asli bersama – sama dengan stimulus kondisi direspon dengan respon asli. Sesudah percobaan di ulang – ulang, bunyi bel tanpa pemberian daging direspon dengan mengeluarkan air liur, dalam hal ini terjadi proses conditioning antara stimulus kondisi dengan respon asli yang menjadi respon kondisi ( Cown, 1996 ). Untuk lebih jelasnya tahapan eksperimen yang dilakukan Pavlov ditunjukkan dalam Gambar 1.
Makanan ( daging ) disini berperan memperkuat ( reinforcing ) keluarnya air liur ketika bel berbunyi disebut penguat positif ( positive reinforcer ), yaitu stimulus atau penguat yang kehadirannya meningkatkan peluang terjadinya respon yang dikehendaki. Jika dalan eksperimen pemberian makanan dihentikan, selama beberapa waktu anjing tetap mengeluarkan air liur setiap mendengar bel tetapi hubungan itu semakin lemah sampai akhirnya bel tidak lagi mengeluarkan air liur. Hal ini dikatakan proses pemadaman ( extinction ), yang menunjukkan penguatan berkelanjutan. Tanpa reinforcement tingkah laku respon yang bukan otomatis ( refleks ) akan semakin hilang. Behaviorisme klasik ini menghasilkan tipe tingkah laku responden, yang oleh Skinner dianggap dianggap kurang penting karena kurang menggambarkan fungsi integral manusia dalam lingkungannya. Dalam kehidupan yang sebenarnya, umumnya reinforcement tidak segera dikenali dan akan timbul sesudah tingkah laku terjadi. ( Elliot, 1999 ). Dari eksperimen yang dilakukan tersebut Pavlov menyimpulkan bahwa :
  1. Refleks bersyarat ( conditioned reflex / CR ) yang telah terbentuk itu dapat hilang karena perangsang yang mengganggu ( hilang untuk sementara )
  2. Refleks bersyarat ( conditioned reflex / CR ) dapat dihilangkan dengan proses pensyaratan kembali ( reconditioning, berconditionering ), jalannya melakukan pensyaratan kembali ini sama dengan ketika menimbulkan refleks bersyarat, hanya saja disini tidak diberi reinforcement
Namun dalam eksperimennya Pavlov masih mengalami kelemahan karena adanya keterbatasan daya deskriminasi dari anjing yang di cobanya itu maksimum hanya mampu mengingat sampai pada tiga macam perangsang ( Suryabrata, 2004 ).  

0 komentar:

Memuat...
Loading...
Check Google Page Rank