SEJARAH GUS DUR

1. Ketua Muslimat yang Tak Suka ke Super Market
Ibu Hj. Nyai Sholichah Munawaroh binti KH. Bisri Sansuri adalah keponakan KH. Wahab Hasbullah. Ibunda Sholichah, Ibu Nyai Hj. Nur Chadijah adalah adik kandung KH. Wahab Hasbullah. Sebuah drama menarik seputar pernikahan wanita muda Chadijah dengan pemuda Bisri Sansuri, terjadi di atas sebuah geladak kapal, di pelabuhan Jeddah.Syahdan, ketika Wahab Hasbullah muda yang energik sedang sibuk untuk mendirikan cabang Sarekat Islam di Arab Saudi, sampailah kabar kepadanya bahwa ibunya sakit, maka ia pun segera kembali ke tanah air. Beberapa bulan kemudian ia sudah merapat kembali di pelabuhan Jeddah. Namun kedatangannya kali ini disertai dengan ibunda dan seorang wanita muda, yakni adiknya yang bernama Chadijah, pengantin baru yang baru saja ditinggal mati oleh suaminya. Kedatangannya bersama ibunya ke tanah suci adalah untuk menunaikan ibadah haji dan sebagai pelipur lara sang adik.
Setelah beberapa lama tinggal di tanah suci, oleh Wahab Hasbullah, adiknya ini kemudian dijodohkan dengan temannya. Bisri Sansuri yang telah lama menemani Wahab Hasbullah sejak masih menjadi santri di Kajen, bersedia menikahi adik temannya ini. Namun rupanya Wahab memiliki rencananya sendiri. Setelah acara pernikahan selesai, ia mengutarakan niatnya untuk kembali ke tanah air kepada teman lama yang telah menjadi adik ipar barunya. Namun rupanya Bisri Sansuri berkeinginan juga untuk pulang ke tanah air, ia juga sudah merindukan kampung halamannya. Tetapi Wahab menolaknya, sebesar apa pun keinginan, Bisri sekeras itu pula penolakan Wahab yang menginginkan agar mereka menetap lebih lama lagi di tanah suci.
Karena sama-sama ngotot, Wahab nampak mulai mengalah. Maka mereka pun, Wahab beserta ibunda, adik dan ipar Bisri, berangkat menuju dermaga pemberangkatan kapal. Sesampainya di dermaga mereka berhenti dan hanya menunggu, Bisri mempertanyakan mengapa mereka tidak segera naik, Wahab pun menjawab bahwa mereka semestinya tidak perlu turut pulang. Perdebatan pun kembali terjadi, hingga akhirnya tangga jembatan yang menghubungkan antara kapal dan dermaga diangkat. Ketika peluit pemberangkatan kapal kemudian melengking tinggi, Wahab segera melompat dan berenang menuju tambang kapal yang masih berjuntaian di atas permukaan air. Sementara Bisri kebingungan, ia sangat ingin turut melompat dan mengikuti Wahab kembali ke tanah air, namun bagaimanakah dengan mertua dan istrinya? Rupanya ia perlu beberapa waktu untuk menyadari bahwa tadi, Wahab hanya mengulur waktu saja agar mereka tidak bisa ikut.
Cerita bahwa Bisri "dikerjain" Wahab ini sering disampaikan oleh Gus Dur dalam pengajiannya di Pesantren Ciganjur. Beberapa tahun kemudian mereka kembali ke Tanah air, dan mendirikan pesantren di Denanyar Jombang dengan bekal sebidang tanah dari mertuanya, KH. Hasbullah, ayah Wahab, pengasuh pesantren Tambak Beras. Pernikahan Bisri dan Nur Chadijah ini dikaruniai sepuluh anak, namun yang hidup hingga dewasa hanya empat, salah satunya adalah Munawaroh (Sholichah A. Wahid Hasyim).
Salah satu keberanian kontroversial yang tampaknya kemudian menurun dari KH. Bisri Sansuri kepada anak cucu mereka adalah ketika mereka mendirikan Pesantren Putri di bawah pengawasan langsung Ibu Nyai Hj. Khadijah. Konon di Denanyar inilah cikal bakal pesantren putri di Jawa Timur, yang sebelumnya belum lazim didirikan.


2. Masa kecil dan Pernikahan
Munawaroh lahir di Jombang 11 oktober 1922 sebagai seorang anak Kyai pengasuh pesantren. Neng Waroh (panggilan kecilnya) dididik dalam lingkungan keagamaan yang ketat, namun keberaniannya telah terlihat sejak kecil. Neng Waroh sering menyelinap melihat prosesi pemakaman orang-orang Cina di bong dekat pesantrennya, baik sendirian maupun mengajak teman-temannya. Ia juga sangat mahir memanjat pohon, sesuatu yang tidak lazim bagi anak putri. Kenakalan masa kecilnya ini berakhir ketika ia dinikahkan dengan Abdurrachim, putera KH. Cholil, Singosari, pada usia 14 tahun. Pernikahan pertamanya ini hanya berumur satu bulan karena suaminya meninggal.
Dua tahun kemudian, 10 Syawal 1356 H./1938 M. ia dinikahkan lagi dengan Abdul Wahid, putera sulung KH. Hasyim asy'ari, dan diboyong ke Tebu Ireng. Maka sejak inilah kehidupan Munawaroh menapak babak baru, entah bagamana selanjutnya ia lebih di kenal sebagai Ibu Sholichah, Nyonya Wahid.
Sejak tinggal di Tebu Ireng inilah ia mulai aktif di pengajian-pengajian masyarakat, membuka ranting-ranting Muslimat NU baru dan terlibat di Fujinkai yang membuatnya terlibat dengan banyak kalangan. Salah satu sisi penting dari kehadiran Sholichah adalah "mengganti baju" Fujinkai, dengan dipenuhi "badge" kemuslimatan. Di mana kegiatan-kegiatannya diisi dengan pengajian dan kursus-kursus kemandirian perempuan.
Dalam situasi perang, sebagai istri seorang tokoh nasional, aktifitas Sholichah adalah membantu para pejuang dengan mendirikan dapur umum di dekat pabrik gula Cukir. Menyelamatkan dokumen-dokumen rahasia ketika suaminya dikejar-kejar Belanda, termasuk menyamar menjadi babu.
Sejak Januari 1950 ketika terjadi penyerahan kedaulatan kepada pemerintah Republik Indonesia, Sholichah mulai meninggalkan Jombang karena harus mengikuti kepindahan suaminya yang dipercaya untuk menduduki jabatan Menteri Agama. Pada masa-masa ini A. Wahid Hasyim dan istri lebih dapat sering berkumpul sebagai sebuah keluarga. Namun kesempatan dan keutuhan ini tidak berlangsung lama, tiga tahun kemudian, A. Wahid Hasyim meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil di daerah Bandung, sementara Sholichah baru berumur tiga puluh tahun.


3. Bertahan di Jakarta
Semenjak ditinggalkan oleh almarhum KH. Wahid Hasyim, sebagai janda dengan enam orang anak yang masih kecil-kecil tentu terasa sangat berat hidup di Jakarta. Dari sini banyak tawaran mengajaknya kembali saja ke kampung halaman, Jombang Jawa Timur. Namun mengingat pesan almarhum suaminya yang menginginkan agar kelak anak-anaknya dapat dididik untuk menjadi orang-orang yang dapat diandalkan untuk memperjuangkan bangsanya, Sholichah menyatakan tekadnya untuk bertahan di Jakarta. Tawaran ini juga datang dari orang tua Beliau, KH Bisri Sansuri. Ia meneguhkan dirinya tetap menempati rumah peninggalan suaminya, Jalan Amir Hamzah nomer 8 Matraman Jakarta Pusat.
Lalu bagaimanakah caranya agar cita-cita almarhum suaminya dapat diwujudkan? Sementara ia hanyalah seorang janda? Maka ia pun mulai berusaha mempertahankan kehidupannya di Jakarta. Ny. Sholichah kemudian mengajukan ijin dagang beras kepada Walikota Jakarta yang kala itu dijabat oleh Syamsurijal. Setelah mendapatkan ijin, ia mencoba mengembangkan pangsa pasarnya dengan mendapatkan hak untuk memasok kebutuhan Departemen Sosial dan Departemen Agama.
Ia juga membuka usaha jual beli mobil secon yang pada waktu itu disebut sebagai catut mobil. Serta menjadi subrevelansir bahan-bahan bangunan dalam proyek pembangunan Pelabuhan Tanjung Priok. Ia mendatangkan pasir dan bambu-bambu dari daerah untk dijual kepada pelaksana di sana, yakni PT Sitra dari Perancis. Dengan demikian ia dapat membiayai pendidikan putera-puterinya hingga ada yang dikuliahkan ke ITB, Pesantren Tegal Rejo serta ke Mesir dan lain-lain dengan topangan perekonomian yang dirintisnya sendiri dari awal.

4. Perjuangan dan Keorganisasian
Selanjutnya, Sholicah terus melanjutkan perjuangannya dengan berkecimpung di dunia politik melalui NU, turut membesarkan NU di Jakarta dan terpilih sebagai anggota DPRD mewakili NU hingga ketika NU harus berfusi ke dalam Partai Persatuan Pembangunan.
Sejak saat itu, Ibu Sholichah mulai menjalani berbagai aktivitas. Beraneka ragam kegiatan dijalaninya, mulai dari menjadi Anggota Pimpinan Muslimat NU Gambir (1950), Ketua Muslimat NU Matraman (1954), Ketua Muslimat NU DKI Jaya (1956), hingga Ketua I Pimpinan Pusat Muslimat NU sejak 1959 sampai meninggal.
Menurut Mahmudah Mawardi, teman seperjuangannya di PP Muslimat NU, Sholichah adalah sosok yang berpikiran maju, menjadi salah satu motor penggerak Muslimat NU serta dicintai oleh anggota. Ia bukan hanya pandai menganjurkan, melainkan juga senantiasa lebih dahulu memberikan contoh atas anjuran-anjurannya, termasuk banyak sekali mengorbankan hak-haknya untuk kemajuan dan perkembangan organisasi, dalam hal ini Muslimat NU.
Ketika NU menjadi partai, Sholichah aktif dalam berbagai kegiatan Muslimat NU. Ketika NU berfusi dalam Partai Persatuan Pembangunan, ia tetap menjadi anggota legislatif (1978-1987). Sempat aktif dalam kegiatan Yayasan Dana Bantuan, sejak 1958 sampai akhir hayatnya. Terlibat aktif dalam mendirikan Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional (1974), serta mendirikan Panti Harapan Remaja, Jakarta Timur (1976).
Dalam bidang kegiatan keagamaan, Ibu Sholichah mendirikan Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU (1963), Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU (1978), Pengajian Al-Islah (1963), Lembaga Penyantun Lanjut Usia (1976) yang kemudian diubah menjadi Pusat Santunan dalam Keluarga (Pusaka), Majlis Taklim Masjid Jami Matraman.
Salah satu sifat paling menonjol dalam diri Solichah adalah rasa sosial dan kedermawanannya. Dalam banyak hal, ia cenderung mengedepankan kepentingan orang-orang lain, terutama kepada mereka yang tergolong kurang beruntung secara ekonomi. Rasa sosialnya ini nyata terlihat ketika Beliau dipercaya untuk membina badan sosial Muslimat. Dalam pembinaannya, bersama dengan kekompakan teman-teman seangkatannya seperti Ibu Mahmudah Mawardi dan Asmah Syahroni, badan sosial Muslimat mencatat banyak sekali kemajuan. Antara lain dengan mendirikan Rumah bersalin Muslimat, BKIA Muslimat, Panti Asuhan Muslimat, Klinik KB dan memberikan bea siswa kepada putera-puteri NU yang terlantar, serta kunjungan-kunjungan berkesinambungan kepada panti-panti sosial lain di daerah.
Para cucu menceritakan bahwa Nenek mereka ini hampir-hampir tidak pernah berbelanja di super market, langganan belanja untuk kebutuhan sehari-harinya adalah pasar cikini, meskipun ia adalah anggota DPR.
Selain itu pada saat yang sama, Sholichah juga aktif beraktivitas di perkumpulan "Bunga Kemboja", yakni sebuah organisasi sosial yang khusus menangani masalah jenazah dan penguburan di Jakarta. Bersama-sama dengan Ibu Lasmidjah Hardi (dari kalangan nasionalis), Ibu Anie Walandaoe (golongan Kristen) dan Mr. Hamid Algadri (dianggap sebagai wakil golongan sosialis), beliau mendirikan yayasan tersebut sebagai bukti sosial yang tentu saja "hanya" berlaku bagi kalangan menengah-atas ibu kota saja.
Karena keaktifan dan prestasinya dalam berorganiasasi, maka sejak 1957 Ibu Sholicah telah terpilih menjadi Anggota DPRD DKI Jakarta (1957), Anggota DPR-GR/MPRS (1960) anggota DPR/MPR (1971-1987).
Selama menjadi DPR, sebagai seorang janda mendiang menteri agama, Sholichah Wahid tidak menunjukkan keangkuhan sedikit pun, ia senantiasa berbaur bersama masyarakat tanpa pernah ingin disambut sebagai janda mantan pejabat tinggi negara atau menunjukkan rasa ingin dihormati. Ia senantiasa tidur seadanya di tempat yang telah disediakan oleh panitia (bukan di hotel). Tanpa mengalami perubahan apa pun baik sebelum suaminya menjadi menteri agama, selama ia sebagai istri menteri maupun setelah ia berstatus sebagai janda mendiang menteri agama.
Bukan hanya mau berkecimpung di organisasi pada level nasional atau pusat saja, melainkan juga tetap bersedia aktif membimbing beberapa organisasi di tinkat yang terendah seperti PKK di kelurahan dan RT/RW tempat tinggalnya.
Bersama dengan teman-temannya, ia juga mendirikan Yayasan al-Islah di Kebayoran Baru untuk mengelola yatim puiatu dan anak-anak tidak mampu lainnya.
Seabrek kegiatan organisasi lain yang dijalaninya adalah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Sosial RI (1958). Bendahara BKS-Wamil (Badan Kerjasama Wanita Militer)/Front Nasional Pembebasan Irian Barat (1958), anggota Palang Merah Indonesia (1950), Anggota Pimpinan Yayasan Dana Bantuan Departemen Sosial RI. Anggota pimpinan Kowani wakil dari Muslimat NU (1960).
Salah satu bukti perhatiannya kepada perkembangan keislaman di tingkat lokal adalah masjid peninggalannya di Ciganjur. Yang dinamai al-Munawwaroh, nama kecilnya. Masjid ini didirikan pada mulanya dengan swadaya dan bantuan masyarakat sekitar, namun dalam perkembangannya, pembangunan ini mendapatkan sumbangan dari Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila. Di mana menurut penduduk setempat, mereka banyak sekali menerima wejangan dari Ibu Sholichah agar berjanji untuk selalu memakmurkannya hingga kelak jika ia meninggal dunia.
Rupanya Sholichah ingin mendobrak stigma negatif mengenai adanya pandangan bahwa tradisi perempuan-perempuan pesantren adalah pribadi yang apatis dan hanya bisa menjadi konco wingking (teman pelengkap) saja, apalagi kok terhadap dunia politik. Dalam hal ini ia berhasil menepis stigma-stigma miring seputar peran perempuan pesantren. Melalui aktivitasnya tersebut, ia ingin menyadarkan kepada khalayak, "Ini lho bukti bahwa perempuan pesantren tak kalah bersaing dengan perempuan kota atau pun laki-laki."

5. Masa G30.S PKI
Selama masa-masa pergolakan pemberontakan gerakan G30.S Sholichah merupakan salah satu penandatangan pernyataan pengganyangan terhadap PKI yang disebut-sebut sebagai dalang dari segala peristiwa tersebut. Bahkan menurutnya, Muslimat NU-lah yang terlebih dahulu memiliki ide dan pernyataan pengganyangan ini, namun demi efektivitas aksi, akhirnya pernyataan ini diatasnamakan pada PBNU. Hal ini karena menurutnya, Muslimat telah terlebih dahulu mengeluarkan pernyataannya pada tanggal 3 Oktober 1965, sedangkan PBNU baru mengeluarkan pernyataan senada pada tangal 5 Oktober 1965 bersama-sama dengan ormas-ormas lain. Sholichah-lah yang pertama kali mengeluarkan pernyataan pengganyangan melalui siaran RRI.
Sholichah bersama-sama dengan Subhan ZE, pemimpin Front Pancasila dan Kesatuan Aksi Pengganyangan G30.S bahu-membahu untuk mengkonsolidasikan kekuatan demi mengganyang PKI. Meski rumah Subhan yang dijadikan markas pengganyangan, namun secara spesifik markas pengganyangan PKI PBNU berada di kediaman Sholichah. Di sana sekaligus berfungsi sebagai dapur umum. Rumahnya-lah yang dianggap paling aman saat itu, karena letaknya berdekatan dengan rumah Jenderal Alamsyah yang merupakan orang dekat Soeharto, Komandan Kostrad yang merupakan pemegang komando resmi pengganyangan.
Selaku ketua pusat Muslimat, ia adalah orang pertama yang membubuhkan tanda tangan di atas surat pernyataan yang berisi kecaman terhadap aksi kekerasan tersebut. Bahkan, beberapa orang mengatakan, "Andai Sholichah tidak mengawali tanda tangan, sangat mungkin PBNU tidak mengeluarkan pernyataan sikap."

6. Paling Berkesan
Menurut penuturannya kepada majalah Risalah Islamiyah tahun 1977, hal paling berkesan dalam hidupnya adalah pidatonya di depan sidang badan pekerja MPRS 1967 dalam rangka memberhentikan Soekarno dari jabatan Presiden RI. Ia mengatakan bahwa "Bungkarno adalah orang yang berjasa dan pejuang yang tidak diragukan lagi. Tetapi manusia bisa khilaf, bersifat terbatas dan tidak dapat terlepas dari kesalahan, karenanya, saya mengusulkan untuk memberhentikan Bung Karno dari Jabatan Presiden." Katanya waktu itu. Kesempatan inilah menurut pengakuannya, menjadi hal paling berkesan yang pernah dilakukannya.
Sementara menurut KH. Abdurrahman Wahid, putera sulungnya yang mantan presiden RI keempat, menyatakan bahwa hal paling berkesan dari ibundanya ini adalah, kegigihannya dalam bersilaturrahmi. Termasuk adalah ketika Ibu Sholichah harus berkeliling ke seluruh pulau Jawa untuk meminta tanda tangan dari para kiyai untuk pernyataan ketidakterlibatan adik iparnya, Yusuf Hasyim, dalam gerakan DI/TII. Saat itu Yusuf Hasyim sedang dalam tahanan Polisi Militer. Bahwa Beliau adalah "Anak Jaman" yang sangat rajin bersilahturahmi, di samping memberikan "sumbangan" besar dalam menegakkan kerukunan antar golongan setelah mencapai kemerdekaan.
Ibu Sholichah al-Munawwarah (nama yang dikenal di Ciganjur sekarang) wafat pada 9 Juli 1994 di RSCM dan dikebumikan di pemakaman keluarga, Komplek Pesantren Tebu Ireng Jombang. Semoga perjuangan dan dharma bhaktinya dapat kita teladani dan arwahnya diterima di sisi Allah SWT. (Syaifullah Amin)
Satu hal yang konsisten dilakukan Ibunda Gus Dur ini adalah, kebiasaan beliau yang selalu membaca Qur'an setelah habis sholat subuh, tidak mengenal tempat, dirumah beliau, dirumah orang lain/ kerabat, di pesawat, di bus, dimanapun berada, beliau sangat istiqomah untuk membaca Al Qur'an.

7. Makanan Favoritnya Gus Dur
Kalo anda ingin mampir ke Ciganjur ke rumah Gus Dur dalam rangka Silaturahmi, jangan lupa bawakan gus dur oleh- oleh, contoh kecil makanan yang gus dur sukai , yaitu bila anda membawakan Tahu sumedang , walau hanya sekedar cemilan.Bila anda pernah melihat gus dur makan,maka anda akan melihat bahwa beliau benar2 merakyat, apa yang kita makan beliau ikut makan, tidak memilih - memilih makanan, walaupun beliau mantan presiden. Itulah contoh teladan yang baik di berikan oleh Gus Dur. ntuk Wilayah Jakarta, Gus Dur sangat menyukai kue pancong, apalagi kalo anda membelinya di tempat dulu gus dur suka membeli yaitu di depan RSCM, disitu ada kue pancong kesukaan gus dur.Tapi ingat jangan diberi gula, karena beliau tidak bisa makan sembarang gula. cukup belikan kue pancongnya saja. ila anda tertarik, persiapkan oleh2 untuk gus dur ketika anda mampir kerumah beliau.




8. Tempat Tidur Gus Dur
Kalau sempet mampir ke rumah gus dur di ciganjur, dan anda datang pagi sekali sekitar jam 5 - 6, anda akan menemui ruang tamu dengan kasur dan gus dur sedang di urut disana, jangan salah,sebenarnya itu bukan tempat pengurutan gus dur, tetapi memang tempat tidur gus dur. nda pasti kaget, kenapa mantan presiden koq tidurnya dibawah,di ruangan,bukan di kamar tidurnya?itulah sosok kesederhanaan seorang gus dur, walaupun mantan orang No.1 dinegeri ini,tidak mengurangi sikap sederhana, ini yang dinamakan kyai yang tawadhu', tidak terbawa oleh dunia. selain itu,masih ada alasan lain,kenapa gus dur "terpaksa" tidur dibawah, menurut orang yang terdekat gus dur, bahwa gus dur dari jaman suharto, banyak yang memusuhi, termasuk dari elit negeri ini yang menguasai pemerintahan, dikabarkan bahwa Operasi intelejen untuk "mengenyahkan ' gus dur selalu mengalami kegagalan ( lebih dari 3 kali ), yang pada akhirnya digunakan "operasi gaib" yaitu menggunakan "SANTET". Dikabarkan sampai saat inipun masih ada yang mengirim santet untuk gus dur, dan menurut kabar, kebutaan yang gus dur alami pun ada pengaruh dari santet tersebut. Untuk menangkal santet yang dikirim,menurut "Kyai linuwih", seorang yang terkena santet,harus tidur dibawah/ yang berhubungan langsung dengan tanah,karena santet itu tidak akan mempan terhadap orang yang tidur dengan "beralaskan" tanah. Bagi anda yang memang pernah mengalami hal tersebut,ada baiknya mempraktekan apa yang gus dur pernah jalani.

9. Mobil Gus Dur
Bila anda mampir di kantor PBNU atau menemui mobil dengan plat B1926 AW, bisa dipastikan itu adalah mobil yang biasa digunakan gus dur, dilihat dari nomornya pasti anda tahu 1926 itu adalah Tahun lahirnya NU dan AW sendiri adalah nama gus dur Abdurahman Wahid. Biasanya gus dur selalu duduk didepan disamping sopir, ada kopiah di depannya ,beliau kelihatan seperti tidur duduk,tapi lebih tepatnya gus dur sedang berdzikir, bagi kyai2 yang dekat dengan Tuhan. dimanapun berada mereka akan selalu mengingat Tuhan,yaitu dengan berzikir, makanya kalo ada yang mengatakan gus dur itu suka tidur,itu sangat salah,melihat gus dur ga bisa selalu kasat mata, ada hal2 yang memang tak tampak oleh kita. Namun bukan itu yang ingin saya ceritakan, namun lebih dari cara beliau membawa diri dengan kendaraan tersebut, walaupun beliau adalah mantan presiden RI, yang mestinya dapat hak istimewa dijalan, seperti menggunakan sirine ataupun keistimewaan lain.Gus Dur tidak menggunakan hal2 tersebut. Gus Dur mengatakan bahwa sirene itu mengganggu banyak orang,dan lebih mengesankan bahwa orang tersebut congkak,karena ingin dipandang oleh orang2 disekitarnya, gus dur sebagai seorang kyai yang paham, arti dosa, adab dalam masyarakat,dan penyakit hati. Gus Dur tidak akan melakukan hal2 yang dapat menjauhkan seorang hamba dengan Tuhan.itulah sifat seorang ulama yang tawadhu'. Tidak seperti kebanyakan mantan pejabat dan yang bukan pejabat,tapi mersa " sok penting", dengan memasang sirine di mobil mereka hanya untuk bisa melewati jalan secara bebas, bukankah itu bentuk kesombongan seorang manusia? yang lebih hebat lagi seorang mantan presiden seperti gus dur hanya dijaga 2 orang paspampres yang semobil dengan beliau,bandingkan dengan mantan pejabat yang lain,setiap jalan diiringi mobil- mobil yang dipenuhi para bodyguard,selain "menampakan" ketakutan sang pejabat, bukankah itu bentuk pemborosan. Bandingkan dengan Gus dur yang sangat menyakini takdir Tuhan,kalo memang belum waktunya, tidak ada satu mahlukpun yang bisa mendahului Tuhan. Beruntung kita masih bisa mengambil teladan dari seorang gus dur.Semoga Allah selalu menjaga beliau, amin.





10. Keikhlasan Gus Dur
Arti Ikhlas dalam pengertian agama adalah Hanya mengharap ridho Allah, bukan pujian manusia atau apapun,semua berpulang kepada Allah swt. Dalam pengertian ekonomi bisa di artikan ikhlas itu adalah tidak memikirkan untung rugi. Ikhlas itu termasuk amalan yang sangat berat,karena tak mungkin dalam hati ini tidak ada perhitungan dalam berbuat sesuatu,hanya golongan2 tasawuflah yang mengamalakan hal2 seperti ini. Bila kita mau lihat gus dur adalah orang yang sangat ikhlas dalam berjuang,tidak perduli dicaci maki orang banyak termasuk kalangannyasendiri, ketika membela kaum minoritas, agama lain, gus dur tidak pernah memikirkan untung rugi dalam bersikap,karena memang dia berjuang dengan sikap ikhlas hanya berharap Allah yang menjadi penilai yang paling adil. Dari itu pantas kalo kita dapat mencontohnya..amin.

11. Keseharian Gus Dur
Kegiatan Gus Dur selalu di awali dengan bangun sekitar pukul 4 subuh, Mandi Sholat dan olah raga kecil, sekitar jam 6-an beliau selalu di urut,terapi refleksi, sekarang-sekarang ini gus dur pun suka berendam dengan ramuan- ramuan alami untuk menjaga kesehatan fisik beliau. Setelah itu beliau biasanya sudah menerima tamu, kadang pukul 5 subuh pun sudah ada tamu yang menyambangi rumah beliau,kadang kyai kampung, kyai besar, calon gubernur,bupati, pejabat,tentara, teman2 LSM, agamawan,rakyat biasa, macam- macamlah orang yang datang ke gus dur. Macam-macam pula niat mereka bertemu gus dur, ada yang meminta doa agar lancar pada pilkada,ada yang minta doa agar naik jabatan, ada yang konsultasi partai, ada yang ngasih info perkembangan di tubuh tentara, ada yang sekedar diskusi, malah ada yang datang sekedar ngajak gus dur "ngejoke", kalo kalangan rakyat biasa, kebanyakan minta dinamain anak oleh gus dur. Intinya Gus Dur tidak melarang siapapun untuk bertemu beliau, baik orang atas atau pun, karena bagi gus dur menyambung silaturahmi itu sangat baik, selain lebih mengikatkan tali persaudaraan, gus dur pun banyak menambah bendahara informasi beliau. Dan mestinya pemimpin seperti itu lebih banyak mendengar, memberikan solusi, mau diajak diskusi. Kadang Gus Dur sebelum pergi,kira-kira pukul 8 pagi, suka mengajar ngaji di masjid Al-Munawaroh, dekat rumah beliau,biasanya beliau mengajar para santri pondok pesantren ciganjur maupun santri kalong, walaupun secara jujur gus dur sangat ingin mengisi hari tuanya dengan mengajar di pesantren, cuma di karenakan tanggung jawab yang besar terhadap Indonesia yang beliau cintai, beliau lebih memilih untuk mengemban tanggung jawab itu. Biasanya pukul 10.00 WIB Gus Dur sudah berangkat keacara, baik di Jakarta Maupun di daerah,selain mengisi ceramah- ceramah, gus dur lebih sering mengadakan pengajian keliling, di hampir seluruh Indonesia, bisa dalam satu hari beliau mengisi pengajian di 3 tempat, karena memang dasarnya darah beliau darah pesantren, kegiatannya pun tidak jauh dari kegiatan para santri, Mengaji. Selain itu gus dur menggali informasi dari masyarakat yang memang jelas-jelas mewakili gambaran penduduk Indonesia, maka tak salah kalo gus dur itu dijuluki "bapak bangsa",karena memang gus dur itu mengayomi rakyatnya. Bila anda sempat menghadiri pengajian beliau, sekali -kali bertanyalah, apakah mereka-mereka yang datang ke pengajian itu di undang/disuruh datang atau dibayar, hampir semuanya mengatakan, bahwa mereka2 datang sendiri-sendiri maupun beramai ramai karena adanya gus dur. Itu menunjukan antusias masyarakat dan kecintaan mereka terhadap gus dur.
Bila siang beliau akan "ngantor " di PBNU, kantornya paling pojok, kanan dari pertama kita masuk gedung PBNU. Di kantor tersebut beliau menerima segala macam tamu, baik dari daerah,maupun dari luar negeri. Hampir setiap hari beliau mengisi acara di daerah- daerah dan kembali ke Jakarta selalalu larut malam, menunjukan komitmen beliau terhadap tanggung jawab sebagai "bapak bangsa" tadi itu.
Dalam 1 Minggu biasanya Gus Dur mencuci darah di RSCM, sebanyak 2 kali butuh 4 jam untuk gus dur melakukan cuci darah tersebut, betapa sabar beliau menerima keadaan fisik beliau. Walaupun du;u sebenarnya bisa saja gus dur melakukan "ganti ginjal",namun gus dur menolak,karena berkaitan dengan fikh, bahwa segala sesuatu yang bersifat subhat/samar-samar, mengandung keburukan. disini gus dur menghindari hal tersebut, karena walaupun banyak yang mau mendonorkan ginjalnya untuk gus dur,tapi beliau lebih memilih mencuci darah, daripada menggunakan barang subhat, yang beliau sendiri khawatir akan hal tersebut.Banyak hal yang bisa kita pelajari dari gus dur, yaitu sikap konsisten beliau terhadap hal- hal yang beliau lakukan, dan akan terus beliau lakukan, karena bagi saya sikap konsisten itu sangat jarang dapat dilakukan kebanyakan orang.

0 komentar:

Memuat...
Loading...
Check Google Page Rank