KURIKULUM SD BIKIN SISWA BODOH

Awalnya saya tidak begitu terlalu memperdulikan cakupan-cakupan materi di sekolah dasar (SD), terutama bidag studi MATEMATIKA karena memang saya bukan guru SD. Namun, banyaknya permintaan bimbel (Bimbingan Belajar) tingkat SD menjadi bertanya pada diri sendiri atau kepada anak dan orang tua, apakah matematika sulit? Tentu jawabannya bervariatif. Lalu, saya menjadi tertarik untuk membuka kurikulum matematika tersebut apalagi ditambah anak saya yang paling kecil sudah kelas III. Cakupan materi kelas I sampai kelas III mungkin tiada masalah, walupun banyak buku referensi yang dipakai sering salah cetak. Sehingga bagi guru yang kurang teliti dapat membahayakan siswanya.

Kita perhatikan sekarang materi kelas IV sampai VI, yang begitu luas sekali. Awalnya anak hanya sekedar diajarkan berhitung sederhana, tetapi anak sudah mulai belajar ilmu fisika. Contoh sedikit di kelas V, materi tentang debit air, kecepatan atau laju benda bergerak dll. Dalam kasus tersebut tentu penyajian materinya dalam bentuk soal cerita, yang sudah pasti maind set dan logical mathematic (logika matematika) anak masih kurang dan bahkan tidak ada sama sekali. Saya pernah diminta anak SD kelas V buat mengerjakan PR matematika yang diberikan gurunya. Saya tersenyum kecut karena menurut pendapat saya sendiri, rasanya tidak mungkin bisa dikerjakan oleh anak setingkat dia, seharusnya diberikan pada anak SMP kelas VIII.
Saya bingung apa yang harus saya lakukan untuk mengajarkan materi tersebut yang penuh dengan logika, semetara dia sendiri perkalian sederhana tidak bisa alias tidak lancar. Persoalan seperti ini bukan memberikan solusi dan motivasi siswa, malah justru menambah rasa gelisa (unhappy), bosan (boring), ketidak percayaan diri (no self confident) dan yang paling utama putus asa (hopeless).
Materi sederhana dan mudah dikerjakan itu mungkin sebagai key word (kata kunci) dalam meningkatkan confident anak didik. K.H. Abdurahman wachid (Gus Dur) pernah bilang bahwa materi SD seharusnya sudah disederhanakan agar kesan kepada anak bahwa matematika itu mudah. Jika tidak materi yang diajarkan tidak bikin siswa pintar tapi justru BODOH.

Menurut hemat saya kurikulum SD dibentuk model pola sebagai berikut:
  1. Kelas I materinya cukup hanya sebatas penjumlahan dan pengurangan biasa dan sederhana
  2. Kelas II materinya hanya tentang perkalian dan pembagian sederhana, sesekali digunakan sistim conga’an
  3. Kelas III materinnya tentang bilangan perkalian puluhan, perkalian ribuan pangkat dan akar sederhana ≤ 100
  4. Kelas IV materinya pembagian dengan metode poro gapit dan bilangan berpangkat
  5. Kelas V materinya hanya pengetahuan tentang Jam, operasional bilangan akar sederhana dan pecahan yang meliputi (penjumlahan, pengurangan, perkalian pembagian dan kolaborasi dari keempatnya
  6. Kelas VI materinya bangun dua dimensi, seperti mencari keliling dan luas dari benda seperti persegi, persegi panjang, segitiga siku-siku dan lingkaran dengan jari-jari atau diameter kelipatan 7
Sementara materi tentang statistic, kecepatan dan debit (implementasi dari pembagian), taksiran bilangan, bangun ruang tidak perlu disampaikan. Terlalu dini anak harus diberikan kekompleksitasan materi matematika. Jika memang perlu soal cerita hendaknya sang guru membacakan kemudian menjelaskan pada siswanya, diikuti langkah penyelesaiannya. Sekali lagi hati-hati.
Seharusnya sudah menjadi kewenangan materi ini disederhanakan melaluhi peraturan menteri yang disosialisasikan oleh DIKNAS setempat. Coba lihat realitasnya, banyak materi di SMU yang diajarkan ke anak didik tetapi begitu lulus, kadang materi tersebut kontroversi dengan pekerjaannya. Artinya apa yang dia pelajari tidak bermanfaat ketika dia aplikasikan. Jika ada opini mengatakan bahwa pendalaman materi itu untuk kelanjutan di perguruan tinggi, itu hanya kurang dari 8% saja. Tetapi 92% bekerja dipabrik, disawah atau menjadi TKI.
Oleh karena itu menjadi sangat urgen sekali mengajarkan kesederhanaan materi SD namun tidak meninggalkan nilai substansinya sebagai pelajaran dasar. Silahkan kembalikan pada diri anda sendiri, yang mempunyai anak yang masih duduk di SD dengan kurikulum sekarang, apakah anak anda semakin cerdas? Atau semakin BODOH. Pasti anda yang dapat menjawab. Prof. Yohanes surya mendidik anak-anaknya sehingga juara olimpiade itu karena menggunakan sistin PIPOLONDO (ping pingan, poro, lon sudo) atau perkalian, pembagian, penjumlahan dan pengurangan. Dengan diikitu banyak latihan sederhana dan kekontinuitasan yang tinggi alhasil mereka berhasil. Nah jika pemerintah dan guru ingin melihat siswanya berhasil maka ajarkan murid dengan materi sederhana, biar anak dapat berkata secara spontan “TERNYATA MATMTAIKA ITU MUDAH”. Semoga, amin.



JANGAN ANDA AJARKAN ANAK MENGHAFAL RUMUS, BERBAHAYA!!!

0 komentar:

Memuat...
Loading...
Check Google Page Rank