KEBERSIHAN : ANTARA IMPLEMENTASI DAN TEORI

Minimnya kesadaran siswa dalam membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kelestarian tempat-tempat umum di lingkungan sekolah sebagai contohnya kantin sekolah, dan lain lain. Hal tersebut, mendorong Penulis untuk melakukan penelitian terhadap kesadaran siswa dalam menjaga kebersihan lingkungan kantin di SMAN 3 Pasuruan .
Agar para pembaca menjadi lebih paham akan pentingnya kesadaran dalam menjaga kebersihan lingkungan kantin di sekolah. Serta mengetahui dampak positif dan negative lingkungan bersih, dan dapat menerapkan kebiasaan dalam menjaga kebersihan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Beatrice Trum Munter (2006:22) kita menghirup oksigen, nafas kehidupan kita, dan menghembuskan zat-zat sisa. Sayangnya, di dunia yang penuh polusi ini bersama dengan Oksigen kehidupan, kita juga menghirup banyak bahan yang mengiritasi dan merusak paru-paru serta organ lain. Polutan udara ini sangat beragam dan mencakup asap kendaraan bermotor, jegala, debu, asap rokok, kabut asap, senyawa organik yang mudah menguap, pengusir serangga, serta masih banyak lagi.
Penulis menganggap bahwa remaja masih enggan untuk melakukan kewajibannya. Di sini penulis lebih menekankan pada membuang sampah di tempatnya. Karena mereka masih menganggap bahwa sampah adalah hal yang sepele. Sehingga mereka tidak memperdulikan hal tersebut, padahal jika ditelisik lebih dalam sampah dapat berakibat besar bagi kehidupan kita.
Kebersihan itu sendiri pada hakekatnya adalah hal yang utama karena kebersihan merupakan dasar dari semua kegiatan. Kebersihan akan menghasilkan hal-hal yang positif. Seperti halnya kita melakukan sesuatu, akan lebih nyaman bila dilakukan secara bersih.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik menyusun karya tulis yang berjudul “PENGARUH TINGKAT PENGETAHUAN SISWA TERHADAP SIKAP KEPEDULIAN KEBERSIHAN KANTIN DI SMAN 3 PASURUAN ” karena masih banyak siswa SMAN 3 Pasuruan yang belum sadar akan pentingnya kesadaran dalam menjaga kebersihan lingkungan di sekolah.
Dari hasil Hasil Angket yang telah diberikan ke 23 responden yang dilakukan secara random sampling tentang “PENGARUH TINGKAT PENGETAHUAN SISWA TERHADAP KEPEDULIAN KEBERSIHAN KANTIN DI SMAN 3 PASURUAN ”. Maka, diperoleh data sebagai berikut :


Pada penelitian ini kami mengambil sampel 23 siswa di lingkungan SMAN 3 Pasuruan, mulai dari kelas X hingga kelas XII untuk semua jurusan yaitu IPA dan IPS. Jumlah keseluruhan siswa di SMAN 3 Pasuruan ± 840 siswa. Hasil angket dari sampel responden kami analisa berdasarkan lampiran dan kami sajikan dalam bentuk table cross seperti di atas. Dari tabel diatas, diketahui bahwa jumlah responden yang mempunyai pengetahuan baik dengan tingkat kepedulian tinggi sebanyak 12 siswa atau 52%. Sedangkan yang mempunyai pengetahuan baik dengan tingkat kepedulian rendah sebanyak 8 siswa atau 35%. Mereka yang berpengtahuan cukup dengan sikap tinggi ada 2 siswa atau 9%, sedangkan pengetahuan cukup dan sikap rendah 1 siswa atau 4% saja. Namun mereka yang merupakan kategori pengetahuan kurang dengan sikap tinggi 0% dan siswa yang berpengetahuan kurang dengan sikap rendah juga 0%.
Secara rata-rata jika diamati dari butir soal tentang pengetahuan siswa maka diperoleh bahwa butir soal pertama 78% siswa mempunyai pengetahuan baik. Namun hanya pada butir soal yang ke empat pengetahuan siswa cukup yaitu 68%. Namun jika diambil secara rata-rata keseluruhan maka pengetahuan semua sampel kategori baik. Hal ini dapat dibuktikan pada table di atas yaitu ada 12 siswa.
Sementara analisa butir soal tentang sikap yaitu butir soal pertama dan yang lainnya rata-rata tinggi, ini dapat dibuktikan pada butir soal yang pertama semua siswa mempunyai sikap tinggi atau 100%. Namun pada butir soal nomer enam sikap siswa rendah, atau hanya 3 siswa saja yang mempunyai sikap tinggi.
Dari tabel chi square test di dapatkan keterangan bahwa ada 2 sell (50%) yang nilainya kurang dari 5 dengan nilai harapan 1.17. Inilah alasan mengapa kami menggunakan uji exact fisher, bukan uji chi square. Mengingat uji tersebut mempunyai beberapa persyaratan diantaranya jumlah baris dan kolom minimal harus lebih dari 3, dan tidak ada sel yang bernilai nol.
Setelah output di dapat, maka nilai Parson chi-square dibanding dengan chi-square table. Pembanding ini menggunakan derajat bebas atau degree of freedom (df) = (jml baris – 1) x (jml kolom – 1) = (3 - 1) x (2 – 1) = 2. Maka nilai chi-tabel = 3.841 dan chi-hitung pada table di atas adalah 0.490. Sedangkan nilai alpha pada tabel output di dapat 0.668. Maka ketentuan hipotesis adalah sebagai berikut:

Ho : Tidak ada Pengaruh Tingkat Pengetahuan Siswa Terhadap Sikap Kepedulian Kebersihan Kantin di SMAN 3 Pasuruan
H1 : Ada Pengaruh Tingkat Pengetahuan Siswa Terhadap Sikap Kepedulian Kebersihan Kantin di SMAN 3 Pasuruan

Adapun kriteria pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:
Terima Ho : Chi hitung ≤ Chi table
Tolak Ho : Chi hitung ≥ Chi table ; atau
Terima Ho : sig. Chi hitung > Alpha

Tolak Ho : sig. Chi hitung < Alpha Dari keterangan diatas bahwa Chi hitung ≤ Chi table yaitu 0.490 ≤ 3.841 artinya terima Ho atau jika menggunakan alpha didapat sig.Chi hitung > Alpha atau 0.668 > 0.050 berarti terima Ho. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa TIDAK ADA PENGARUH TINGKAT PENGETAHUAN SISWA TERHADAP KEPEDULIAN KEBERSIHAN KANTIN DI SMAN 3 PASURUAN
Dari hasil analisa tersebut di atas bahwa tidak ada pengaruh sama sekali antara tingkat pengetahuan siswa di SMAN 3 Pasuruan dengan sikap kepedulian akan kebersihan lingkungan di sekitar kantin sekolah. Ini dapat dibuktikan dan diperkuat dengan bukti fisik dokumentasi keadaan sehari-hari dilingkungan tersebut. Oleh karena itu dibutuhkan pengawasan yang intens dan secara preventive yang dilakukan oleh pemangku kepentingan di SMAN 3 Pasuruan, terutama dewan guru.
Selain itu juga mungkin kurangnya kesadaran siswa di SMAN 3 Pasuruan ini juga dipengaruhi oleh faktor dominan keluarga masing-masing siswa yang kurang memperhatikan kedisiplinan anak dalam kebersihan. Mungkin orang tua harus memulainya dari memberikan tanggung jawab masalah kebersihan kepada anak di rumahnya dengan pengawasan langsung dari orang tua. Sehingga kebiasaan yang di rumah tersebut akan secara langsung dapat di terapkan di lingkungan sekolahnya. Jadi masalah kebersihan bukan masalah orang per orang atau individu, namun bersifat kolektif atau menjadi tanggung jawab bersama.

0 komentar:

Memuat...
Loading...
Check Google Page Rank