ELEMEN PERUBAHAN KURIKULUM 2013

Dalam suatu acara whorkshop tentang implementasi kurikulum 2013 yang diselenggarakan oleh PERGUNU (Persatuan Guru Nahdatul Ulama) kabupaten Pasuruan mendapatkan sambutan guru-guru yang mengajar di tingkat SD, SMP, SMU dan SMK. Dalam Acara tersebut dihadiri bebarapa tutor dari kantor kemenag setempat. Dalam kurikulum 2013 atau biasa yang disebut K13, disebutkan bahwa pembelajaran harus central of student bukan lagi pada guru. Guru bukanlah sumber belajar segala-galanya, namun siswa bisa mendapatkan sumber dari berbagai cara, misalnya dari internet, buku-buku lain yang relevan. Pada K13 ini ditegaskan bahwa pengembangan kemampuan sikap yang nantinya sebagai indikator keberhasilan siswa adalah terbagi menjadi empat kategori Kompetensi inti (KI) yaitu KI1 adalah sebagai implementasi spiritual atau nilai-nilai keagamaan, KI2 adalah sikap sosial masyarakat, KI3 yaitu rana kognitif (kecerdasan otak) dan KI4 adalah life skill (keterampilan hidup). Namun semua itu akan dapat dicapai dengan sempurna apabila guru mempunyai prinsip sabar, sungguh-sungguh dan ikhlas.

Tiga Persiapan untuk Implementasi Kurikulum 2013
  1. ADA pertanyaan yang muncul bernada khawatir, dalam uji publik kurikulum 2013? Persiapan apa yang dilakukan Kemdikbud untuk kurikulum 2013? Apakah sedemikian mendesaknya, sehingga tahun pelajaran 2013 mendatang, kurikulum itu sudah harus diterapkan. Menjawab kekhawatiran itu, sedikitnya ada tiga persiapan yang sudah masuk agenda Kementerian untuk implementasi kurikulum 2013. Pertama, berkait dengan buku pegangan dan buku murid. Ini penting, jika kurikulum mengalami perbaikan, sementara bukunya tetap, maka bisa jadi kurikulum hanya sebagai “macan kertas”.Pemerintah bertekad untuk menyiapkan buku induk untuk pegangan guru dan murid, yang tentu saja dua buku itu berbeda konten satu dengan lainnya.
  2. Kedua, pelatihan guru. Karena implementasi kurikulum dilakukan secara bertahap, maka pelatihan kepada guru pun dilakukan bertahap. Jika implementasi dimulai untuk kelas satu, empat di jenjang SD dan kelas tujuh, di SMP, serta kelas sepuluh di SMA/SMK, tentu guru yang diikutkan dalam pelatihan pun, berkisar antara 400 sampai 500 ribuan.
  3. Ketiga, tata kelola. Kementerian sudah pula mnemikirkan terhadap tata kelola di tingkat satuan pendidikan. Karena tata kelola dengan kurikulum 2013 pun akan berubah. Sebagai misal, administrasi buku raport. Tentu karena empat standar dalam kurikulum 2013 mengalami perubahan, maka buku raport pun harus berubah.
Intinya jangan sekali-kali persoalan implementasi kurikulum dihadapkan pada stigma persoalan yang kemungkinan akan menjerat kita untuk tidak mau melakukan perubahan. Padahal kita sepakat, perubahan itu sesuatu yang niscaya harus dihadapi mana kala kita ingin terus maju dan berkembang. Bukankah melalui perubahan kurikulum ini sesungguhnya kita ingin membeli masa depan anak didik kita dengan harga sekarang.

Pengembangan kurikulum dilakukan oleh para ahli dan/atau guru-guru yang mempunyai kemampuan mengembangkan kurikulum. Perangkat kurikulum cukup lengkap, mulai dari struktur dan sebaran mata pelajaran sampai dengan rincian bahan ajar yang dipelajari oleh peserta didik, yang tersusun dalam satuan-satuan bahan ajar dalam bentuk rencana pelaksanaan pembelajaran, paket belajar, modul, paket program audio, video dan/atau komputer. Di dalamnya tercakup pula kegiatan pembelajaran dan bentuk-bentuk serta alat penilaiannya. Kurikulumnya dikategorikan sebagai Kurikulum Teknologi atau Kurikulum Berbasis Kompetensi

A. Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
Kurikulum 1994 dan kurikulum-kurikulum sebelumnya sifatnya sentralistik, sesuai dengan era pengelolaan pemerintahan saat itu. Kurikulum disusun oleh Pemerintah (Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan - Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan), guru tinggal mengimplementasikannya di sekolah masing-masing,
Seiring dengan perubahan pengelolaan pemerintahan, yang memasuki era desentralisasi, otonomi daerah, diikuti dengan perubahan pengelolaan pendidikan, berupa desentralisasi pendidikan, otonomi pendidikan, dan otonomi sekolah, maka kurikulum yang sifatnya sentralistik, seperti Kurikulum 1994 dan kurikulum-kurikulum sebelumnya, sudah tidak sesuai lagi dengan era otonomi sekolah.
Berkenaan dengan hal tersebut, pada tahun 2003 diberlakukan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang mengamanatkan bahwa salah satu strategi dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah mengembangkan dan melaksanakan kurikulum berbasis kompetensi. Selanjutnya, pada tahun 2005 telah diberlakukan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, sebagai pengaturan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Peraturan Pe¬merintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan tersebut mengatur tentang kurikulum pendidikan dan mengamanatkan bahwa kurikulum satuan pendidikan disusun oleh masing¬masing satuan pendidikan, yang disebut dengan istilah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

B. Kurikulum 2013
Kurikulum baru ini berorientasi pada perkembangan globalisasi dunia yang di dalamnya terdapat kemajuan teknologi informasi, masalah lingkungan hidup serta kebangkitan industri kreatif dan budaya. Kurikulum baru tersebut nan¬tinya juga berbasis kompetensi dengan pemikiran kompetensi berbasis sikap, keterampilan dan pengetahuan, karena itu guru dituntut untuk banyak mencari tahu agar para siswa bisa dengan mu¬dah mencari informasi dengan bebas melalu perkembangan teknologi. Hal ini juga akan mendorong siswa memiliki tanggung jawab pada lingkungan, kemampuan berkomunikasi serta memiliki kemampuan berfikir kritis.
Nantinya pada kurikulum baru ini akan banyak dibuka kelas terbuka. Dengan model seperti ini diharapkan siswa mendapatkan kemajuan akademik yang pesat bukan hanya sekedar lulus tapi juga diimbangi pengetahuan. Karena itu dua mata pelajaran IPA dan IPS nantinya akan diintegrasikan/subtansinya akan dimasukkan ke dalam mata pelajaran lain. Pengintegrasian ini dianggap pen¬ting karena untuk menyesuaikan zaman yang terus mengalami perkembangan pesat. Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa depan. Karena itu kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan. Pergeseran paradigma belajar abad 21 dan kerangka kompetensi abad 21 menjadi pijakan di dalam pengembangan kurikulum 2013.
Dengan adanya perubahan kurikulum ini nantinya guru yang akan menjadi ujung tombak ka¬rena itu akan dipersiapkan mulai dari sekarang. Mengingat pendidikan dasar terendah di Indonesia adalah SD maka guru SD-lah yang akan dipersiapkan le¬bih dulu. Makanya akan diprioritaskan mana yang lebih penting. Implemen¬tasinya, akan disiapkan skenario pen¬tahapan. Tahapannya bisa dimulai kelas 1 SD, 4 SD, kelas 7, kelas 10 terlebih da¬hulu. Bila itu sudah dilakukan, guru yang harus dilatih tidak sejumlah total guru, yang 3 juta. Misal guru SD sebanyak 1,6 juta, yang akan dilatih sepertiga dari 1,6 juta dengan dikurangi guru agama, guru pendidikan jasmani, sehingga menjadi sekitar 300 ribu guru. Jadi nantinya se¬tiap tahun akan mengadakan sertifikasi sekitar 300 ribu.
Pengembangan Kurikulum 2013 di¬lakukan dalam empat tahap. Pertama, menyusun kurikulum di lingkungan in¬ternal Kemdikbud dengan melibatkan sejumlah pakar dari berbagai disiplin ilmu dan praktisi pendidikan dilanjutkan dengan pemaparan desain Kurikulum 2013 di depan Wakil Presiden selaku Ketua Komite Pendidikan. Ketiga, pe¬laksanaan uji publik guna mendapatkan tanggapan dari berbagai elemen ma¬syarakat. Salah satu cara yang ditempuh selain melalui saluran on-line pada hala¬man http/kurikulum2013.kemdikbud. go.id, juga melalui media massa cetak. Tahap keempat, dilakukan penyempurnaan untuk selanjutnya ditetapkan menjadi Kurikulum 2013.

Menambah Jam Pelajaran
Strategi pengembangan pendidikan dapat dilakukan pada upaya mening¬katkan pencapaian pendidikan mela¬lui pembelajaran siswa aktif berbasis kompetensi, efektivitas pembelajaran melalui kurikulum dan peningkatan kompetensi dan profesionalitas guru, serta lama tinggal di sekolah dalam arti penambahan jam pelajaran.
Perlunya penambahan jam pelajaran ini merupakan proses pembelajaran dari kebiasaan sebelumnya dimana siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu dan proses penilaian dari yang sebelum¬nya berbasis output menjadi berbasis proses dan output. Perubahan proses inilah yang memerlukan penambahan jam pelajaran.
Penyusunan kurikulum 2013 yang menitikberatkan pada penyederhanaan, tematik-integratif mengacu pada kuri¬kulum 2006 di mana masih terdapat be¬berapa permasalahan di antaranya :
  1. Konten kurikulum yang masih terlalu padat, ini ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran dan banyak materi yang keluasan ditambah ting¬kat kesukarannya melampaui tingkat perkembangan usia anak.
  2. Kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan dan pengetahuan. Bebe¬rapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebu¬tuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, kese¬imbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam Kurikulum.
  3. Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembela¬jaran yang berpusat pada guru.
  4. Standar penilaian belum mengarah¬kan pada penilaian berbasis kompetensi (proses dan hasil) dan belum secara tegas menuntut adanya remediasi secara berkala.
  5. Dengan adanya perubahan kurikulum ke kurikulum 2013 diharapkan dunia pendidikan mampu melahirkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, ino¬vatif dan afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana) dan pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi. Harus diakui dalam perkembangan kehidu¬pan dan ilmu pengetahuan abad 21 saat ini telah banyak terjadi pergeser¬an baik ciri maupun model pembe¬lajaran. Inilah yang diantisipas



Berikut beberapa file hasil workshop yang dapat dihimpun oleh WARTA ILMU dari beberapa tutor:
  1. Buku Agama Kurikulum 2013
  2. Rasionalitas kurikulum 2013 (ppt) 
  3. SKL Standar Kompetensi (KD) KI
  4. Strategi Implementasi Kurikulum 2013

0 komentar:

Memuat...
Loading...
Check Google Page Rank