SISTIM PEMBELAJARAN TERPADU

www.rudy-unesa.blogspot.com
Ada beberapa permasalahan strategi yang dihadapi dunia pendidikan Indonesia yang antara lain berkenaan dengan: (a) kuantitas, yang mencakup persoalan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar; (b) kualitas, yang berhubungan dengan rendahnya mutu penyelenggaraan dan produk pendidikan; (c) relevansi pendidikan dimana terdapat kekurangcocokan antara kemampuan yang dimiliki lulusan pendidikan dengan tuntutan kebutuhan pembangunan di masyarakat; (d) efisiensi dan efektivitas, yakni berkaitan dengan rendahnya tingkat pendayagunaan sumber daya pendidikan yang ada dan kurangnya ketercapaian tujuan yang ditetapkan; dan (e) persoalan manajemen pendidikan mencakup perencanaan peningkatan mutu lulusan (Soenarya, 2000: 94-104). Persoalan di atas semakin memposisikan madrasah pada permasalahan yang kompleks. Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam, tidak hanya akan dihadapkan pada kemajuan teknologi informasi namun juga moral manusia Indonesia. Hal ini disebabkan karena sumbangsih madrasah bagi bangsa Indonesia sebagai orientasi visi madrasah ke masa depan adalah ingin membangun manusia yang berkualitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) sekaligus berkualitas Iman dan Takwa (IMTAQ). Sehingga madrasah sebagai wahana untuk membina ruh dan praktik keislaman akan mencetak peserta didik yang menekankan pada keagamaan (IMTAQ) dan juga IPTEK dalam porsi yang seimbang sebagai langkah mengantisipasi perkembangan masyarakat yang semakin global. Langkah yang dapat dilakukan adalah membangun, melatih dan membimbing peserta didik untuk dapat mengembangkan dan meningkatkan kualitas IQ (Intelligent Quotient), EQ (Emotional Quotient), CQ (Creativity Quotient), dan SQ (Spiritual Quotient).

Aspek-aspek kualitas di atas menjadi tujuan seluruh madrasah dan mencoba ditempuh melalui berbagai langkah dan program, seperti upaya yang dilakukan beberapa Madrasah yaitu salah satunya dengan menyediakan boarding school (srama) yang diwajibkan bagi siswa/siswi yang berminat. Di dalam asrama inilah pembinaan kepada siswi dilakukan secara intensif oleh para pembina yang berpengalaman, diantaranya adalah:(1) aqidah dan akhlak; (2) ubudiyah; (3) bahasa asing (arab dan inggris); (4) kemandirian, keorganisasian dan kemasyarakatan
Adapun sistem penyelenggaraan pengajaran yang ada, secara konseptual diklasifikasikan ke dalam beberapa program mulai dari program pengajaran umum, program pengajaran khusus, program ekstrakurikuler, sampai pada program pengajaran tutorial baik yang bernuansa keilmuan, pengembangan paradigma berfikir kritis-realistis, kreatifitas maupun yang bernuansa pembinaan mental spiritual, moral/budi pekerti, semua dilakukan dalam upaya pencapaian tujuan madrasah.
Fatimah Kadir mengungkapkan bahwa di lapangan ditemukan sebuah program aksi, yaitu dalam bidang: (a) kegiatan pembelajaran, dilakukan pengidentifikasian latar dan potensi siswa, menumbuhkembangkan potensi diri siswa yang bervariasi, memfokuskan pembelajaran pada bidang esensial dan prioritas namun sedapat mungkin dijiwai dengan pengajian dan pengkajian agama serta mewajibkan bagi guru untuk senantiasa bersikap dan berpenampilan yang islami; (b) lingkungan belajar, telah dikembangkan suasana kompetitif yang sehat dengan memberikan dukungan dan penghargaan bagi yang berprestasi, suasana madrasah yang Islami, ceria, familiar, aman, teratur, edukatif, komunikatif, bersih, tertib; (c) peningkatan profesionalisme guru dan staf (karyawan) yang mutlak menjadi tuntutan secara kelembagaan. Dengan profesionalisme yang tinggi dari pengelolanya, paling tidak ada rasa aman dari orang tua dan peserta didik berkenan dengan mutu pendidikan yang diberikan (pembentukan generasi yang berkualitas ilmu pengetahuan dan teknologinya serta berkualitas pula iman dan takwanya), yang pada gilirannya memberikan citra positif bagi semua madrasah di tanah air ini.


0 komentar:

Memuat...
Loading...
Check Google Page Rank