PENDIDIKAN : KULIT ATAU ISI

Sepintas mungkin kita berfikir tentang sebuah pilihan, apakah kulit atau isi yang lebih penting. Mungkin sedikit kita analogikan kata-kata ini pada kondisi realitas yang ada. Andai saudara melihat buah pisang di hadapan anda, kira-kira yang mana yang lebih anda pilih dan dianggap urgen (penting) dari pilihan tersebut. Tentunya penulis tidak dapat memaksa untuk pilihan tersebut, karena anda yang lebih mengerti. Jika kita berpikir sejenak memang seolah-olah keduanya penting. Namun diantara yang penting tentu ada yang lebih penting lagi. Disinilah dibutuhkan kebijakan kita untuk menentukan sebuah pilihan. Isi tanpa kulit sangat meragukan, tetapi "kulit" tanpa "isi" tiada guna.
Di dalam dunia pendidikan kadang-kadang kita dihadapkan pada dua pilihan dari indikator keberhasilan anak yaitu hasil atau proses. Kasus demi kasus yang terjadi di negara kita memang seperti bola salju (snow boll) saja. Dari hari ke hari orang tua dan guru mengejar hal-hal yang bersifat esensial dari pada subtansial. Orang tua dan guru lebih terbuai dengan nilai atau angka-angka yang tertulis di raport atau ijaza dari pada kemampuan hidup dari anak didiknya. Dalam proes perjalanan di lembaga pendidikan tidak jarang kepala sekolah hanya mengejar prestise lembaganya dari pada kecakapan hidup anaknya. Kecurangan demi kecurangan yang bersifat absurt lebih mendominasi dari pada tuntutan moral menjadi pendidik. Justifikasi terhadap anak yang nilainya kurang dari KKM (Kreteria Ketuntasan Minimal) sering terjadi. Anak dianggap bodoh dan aib bagi orang tua dan guru jika mendapatkan nilai kurang dari kriteria tersebut. Padahal untuk menetukan KKM banyak variabel yang harus dipenuhi oleh sekolah. Diantaranya intek dari siswa, sarana dan prasarana di lembaga tersebut pun harus baik. Tetapi relaitas yang ada bagaimana? Ibarat pepatah "jauh panggang dari pada api ". Namun banyak pihak yang terlalu memaksakan diri untuk menentukan kriteria nilai tersebut dari pada membenahi kekurangan lembaganya. Mungkin anda masih ingat dengan sejarahnya Thomas alfa edison, sesosok anak yang oleh gurunya dijustmen tidak layak sekolah di lembaganya. Tetapi apa faktanya? Dia terus berfikir mencari jati diri guna menemukan kemampuan yang terpendam dalam dirinya. Alhasil banyak karyanya yang sangat beramanfaat yang dapat kita nikmati bersama-sama, atau mungkin anak cucu dari orang-orang yang pernah menghinanya juga menikmati hasil karya thomas alfa edison ini. Dengan jujur penulis katakan sungguh ironis dan memalukan jika terjadi pada diri kita terutama bagi guru-guru di lembaga pendidikan tanah air tercinta ini.
Oleh karena itu penulis mengajak pada diri sendiri atau para dewan guru semua, marilah kita kuatkan tekat guna menggali potensi siswa siswi kita untuk lebih baik lagi. Lakukan yang terbaik dalam proses pembentukan karakter pada siswa kita. Mungkin istilah ini lebih populer disebut sebagai caracter building. Sering terjadi disekitar kita, banyak anak yang dalam akademisnya kurang mampu, namun non akademisnya lebih menonjol. Sebagaia illustrasi contoh saja seorang atletis kadang-kadang kemampuan teoritisnya kurang baik tetapi dalam hal prateknya lebih baik, atau sebaliknya. Nilai yang sering tertulis di raport sebenarnya rata-rata mengunakan istilah like and dislike (suka dan tidak suka). Walaupun juga masih ada seorang pendidik yang benar-benar komitmen terhadap hasil anak didiknya. Asal mereka patuh dan taat pada sang guru, atau dengan bahasa lain sendiko dawuh pasti mendapatkan nilai baik walaupun kemampuannya kurang dari rata-rata. Inilah sebenarnya nilai ketidak jujuran yang mulai berkembang dilingkungan pendidikan kita, terutama yang masih berstatus swasta.
Dalam pandangan Sistem Pendidikan Visioner adalah keberhasilan dan kesuksesan belajar anak didik tidaklah ditentukan dari nilai saja tetapi pada proses perjalanan anak mencari jati diri sesungguhnya. Dalam sistem tersebut dikatakan bahwa perbaikan pada sistem lembaga lebih penting dari pada mengejar kemenangan belaka. Posisi guru sekarang adalah sebagai pencerah/petunjuk jalan bagi siswa yang kebingungan dan kesulitan. Selalu dan selalu membimbing, mengarahkan, melatih bahkan Memotivasi siswa siswinya menjadi seseorang yang sukses dan berhasil.
Oleh karena itu pada akhir kesimpulan ini penulis hanya menegaskan saja bahwa proses lebih baik dari pada hasil. Lihatlah mengapa para ibu-ibu yang baru melahirkan anaknya mendapatkan kebahagian yang luar biasa? Itu tidak lain adalah karena dia merasakan betul hasil dari proses perjalanan hamil mulai umur satu bulan hingga sembilan bulan lebih. Suka dan duka kehamilannya diwarnai oleh ngidam sesuatu, yang kadang-kadang dalam permintaannya sulit untuk dipenuhi, namun karena kesabaran maka berbuah kesuksesan. Nah, ini merupakan contoh klasik yang sering kita lihat di lingkungan kita.
Harapan ke depan di tanah air tercinta ini akan muncul sosok guru sejati, pahlawan tanpa tanda jasa. Yang dapat memberikan pencerahan bagi anak didiknya seperti pesona tebaran sinar matahari di pagi hari. Guru tidak mengejar kesenangan sesaat saja yang bersifat materialistis, mengejar jabatan tanpa tahu apa yang mesti diperbuat ke lembaganya atau bahkan menjadi boneka orang lain dari jabatan yang dia terima tanpa mempunyai otoritasnya sebagai kepala. Berangan akan tersertifikasi dan bahkan menjadi pegawai negeri. Perlu di ingat ketika persolan intern lembaga tidak diselesaikan secara delegatif dan otokratif maka menjadi bola api yang siap membakar ke semua sektor, bahkan menjadi bom waktu yang bakalan meledak setiap waktu. Disini yang menjadi korban adalah siswa. Logika seorang dokter yang bertugas menyembuhkan pasien, malah dia sibuk dengan penyakitnya sendiri. Pihak lembaga harus sebisa mungkin menyelesaikan kasus internnya guna menciptakan lingkungan harmonis, terutama masalah-masalah pada steak holdernya.Semoga. (Pak Say WI)

0 komentar:

Memuat...
Loading...
Check Google Page Rank