PENTINGNYA ANALISIS KARAKTERISTIK SISWA

Banyak usaha telah dilakukan oleh para ilmuwan pembelajaran dalam mengklasifikasi variable-variabel pembelajaran, diantaranya adalah Reigeluth dan Merril. Mereka membuat klasifikasi ke dalam 3 variabel pembelajaran utama, yaitu : 1) kondisi pembelajaran, 2) metode pembelajaran dan 3) hasil pembelajaran (Reigeluth, 1983). Masing-masing variable diidentifikasi ke dalam suatu model atau teori pembelajaran. Variable kondisi pembelajaran dikategorikan menjadi 3 sub-variabel, yaitu : tujuan pembelajaran, kendala dan karakteristik bidang studi, serta karakteristik siswa. Variable metode dikategori-kan menjadi 3 sub-variabel, yaitu : strategi pengorgani-sasian bahan (mikro dan/atau makro), strategi penyampaian isi, dan strategi pengelolaan pembelajaran. Variabel hasil pembelajaran, dikategorikan menjadi 3 sub-variabel, yaitu : keefektifan, efisiensi dan daya tarik pembelajaran.

Klasifikasi variable pembelajaran di atas menjadi pedoman dalam memformulasikan langkah-langkah desain pembelajaran, yaitu : 1) analisis tujuan dan karakteristik bidang studi, 2) analisis sumber belajar (kendala), 3) analisis karakteristik siswa, 4) menetapkan tujuan belajar dan isi pembelajaran, 5) menetapkan strategi pengorgani-sasian isi pembelajaran, 6) menetapkan strategi penyampaian isi pembelajaran, 7) menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran, 8) mengembangkan prosedur pengukuran hasil pembelajaran (Degeng, 1991).

Peluang terjadinya interaksi antara variable metode dan variable kondisi amat besar dalam menentukan variable hasil pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan identifikasi variable-variabel metode mana yang berinteraksi dengan variable kondisi dalam menentukan hasil pembelajaran yang konsisten.

Di bidang penelitian, pemetaan variable-variabel pembelajaran tersebut amat membantu peneliti dalam mengidentifikasi dan menetapkan hubungan-hubungan antara variable mana yang perlu diuji. Ini dimaksudkan untuk memberikan pijakan yang sama kepada peneliti-peneliti di bidang ilmu pembelajaran dan teknologi pembelajaran sehingga temuan-temuannya dapat dengan mudah diintegrasikan dengan temuan-temuan peneliti sebelumnya. Dengan cara ini, upaya untuk menciptakan landasan pengetahuan (ilmiah) perbaikan kualitas pembelajaran dapat diwujudkan.

Degeng (1998) dalam penelitiannya yang berjudul Interactive Effects of Instructional Strategies and Learner Characteristic on Learning Effectiveness, Efficiency dan Appeal menyimpulkan bahwa peluang terjadinya interaksi antara variable metode (pengorganisasian materi pembelajaran) dengan variable kondisi (karakteristik siswa) pada keefektifan belajar adalah besar.

Budiningsih (1997) dalam penelitiannya yang berjudul "Pengaruh Strategi Penataan Isi Matakuliah Serta Gaya Kognitif Mahasiswa Terhadap Hasil Belajar dan Daya Tarik Pengajaran" juga menunjukkan hasil yang sama yitu terjadi pengaruh strategi penataan isi dan karakteristik mahasiswa terhadap hasil belajar dan daya tarik pengajaran. Ke dua penelitian tersebut telah membuktikan kesahihan teori dan model pembelajaran yang telah dijelaskan di atas. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Suhardjono, dkk (1994), Degeng dan Sukarnyana (1994), Lusiana dkk (1995), Kristian (1995), Mukhadis (1996), dan Suhartadi (1996).

Pengujian-pengujian suatu hubungan antara variable sebaiknya diikuti dengan pengujian-pengujian ulang dengan menggunakan latar (kondisi) yang berbeda, seperti perbedaan pada karakteristik subyek, bidang studi (materi), dan tujuan pembelajaran. Ini diperlukan, di samping untuk menguji kesahihan temuan penelitian, juga untuk menguji tingkat konsistensinya. Hubungan-hubungan variable yang sahih dan konsisten inikah yang bermanfaat dijadikan landasan ilmiah ilmu pengajaran. Temuan-temuan komulatif seperti ini nantinya akan amat berguna dalam melakukan meta-analisis.

Berdasarkan uraian tentang variabel-variabel pembelajaran di atas, serta melihat kondisi banyaknya penyimpangan moral di kalangan remaja saat ini, tugas yang diemban para pendidikan dan perancang di bidang pendidikan moral amatlah rumit, karena mereka berhadapan dengan sejumlah variabel kondisi yang berada di luar kontrolnya. Satu variabel yang sama sekali tidak dapat dimanipulasi oleh perancang pembelajaran adalah karakteristik siswa. Variabel ini mutlak harus dijadikan pijakan dalam memilih dan mengembangkan strategi pembelajaran yang optimal. Perancang pembelajaran harus mengetahui pada tahap mana perkembangan moral siswa sekarang berada ? Upaya apapun yang dipilih dan dilakukan oleh perancang pembelajaran haruslah bertumpu pada karakteristik perseorangan siswa sebagai subyek belajar.

Ilmuwan pembelajaran juga menghadapi hal yang serupa dalam mengembangkan prinsip-prinsip pembelajaran moral. Ia harus menempatkan variabel-variabel kondisional ini, khususnya variabel karakteristik siswa, sebagai titik awal dalam mempreskripsikan strategi pembelajaran. Bila tidak, maka teori-teori dan prinsip-prinsip pembelajaran yang dikembangkannya sama sekali tidak akan ada gunanya bagi pelaksanaan pembelajaran (Degeng, 1991).

Reigeluth (1983) sebagai seorang ilmuwan pembelajaran, bahkan secara tegas menempatkan karakteristik siswa sebagai satu variabel yang paling berpengaruh dalam pengembangan strategi pengelolaan pembelajaran. Pakar-pakar perancang pembelajaran (Banathy, 1968; Gerlach dan Ely, 1971; Kemp, 1977; Dick dan Carey, 1985; Romiszowski, 1981; Degeng, 1990) menempatkan langkah analisis karakteristik siswa pada posisi yang amat penting sebelum langkah pemilihan dan pengembangan strategi pembelajaran. Semua ini menunjukkan bahwa teori pembelajaran apapun yang dikembangkan dan/atau strategi apapun yang dipilih untuk keperluan pembelajaran haruslah berpijak pada karakteristik si belajar. Demikian juga untuk mengembangkan strategi pembelajaran moral yang optimal terlebih dahulu harus mengetahui karakteristik siswa sebagai pijakannya.

Strategi pembelajaran moral ini sangat diperlukan karena banyaknya isu-isu moral di kalangan remaja seperti penggunaan narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba) di kalangan remaja, pornografi, perkosaan, merusak milik orang lain, perampasan, penipuan, pengguguran kandungan, penganiayaan, perjudian, pelacuran, pembunuhan dan lain-lain, yang sudah menjadi masalah sosial yang sampai saat ini belum dapat diatasi secara tuntas. Akibat yang ditimbulkan cukup serius dan tidak dapat lagi dianggap sebagai suatu persoalan sederhana, karena tindakan-tindakan tersebut sudah menjurus kepada tindakan kriminal. Keadaan ini sangat memprihatinkan masyarakat umum khususnya paraorang tua dan para guru (pendidik), sebab pelaku-pelaku beserta korbannya adalah kaum remaja, utamanya para pelajar dan mahasiswa.

Sesungguhnya remaja memiliki kesadaran moral sehingga dapat menilai hal-hal yang baik dan buruk, hal-hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan serta hal-hal yang etis dan tidak etis. Remaja yang bermoral dengan sendirinya akan tampak dalam penilaian atau penalaran moralnya serta pada perilakunya yang baik, benar dan sesuai dengan etika. Artinya, ada kesatuan antara penalaran moral dengan perilaku moralnya. Dengan kata lain, betapapun bermanfaatnya suatu perilaku moral terhadap nilai kemanusiaan, namun jika perilaku tersebut tidak disertai dan didasarkan pada penalaran moral, maka perilaku tersebut belum dapat dikatakan sebagai perilaku moral yang mengandung nilai moral. Dengan demikian, suatu perilaku moral dianggap memiliki nilai moral jika perilaku tersebut dilakukan secara sadar atas kemauan sendiri dan bersumber dari pemikiran atau penalaran moral yang bersifat otonom (Kohlberg, 1971).

Penalaran moral merupakan factor penentu yang melahirkan perilaku moral (Kohlberg, 1977). Karena itu, untuk menemukan perilaku moral yang sebenarnya hanya dapat ditelusuri melalui penalarannya. Artinya, pengukuran moral yang benar tidak sekedar mengamati perilaku moral yang tampak, tetapi harus melihat pada penalaran moral yang mendasari keputusan perilaku moral tersebut. Dengan mengukur tingkat penalaran moral remaja akan dapat mengetahui tinggi rendahnya moral tersebut. Informasi ini akan dapat dijadikan landasan pijak dalam merancang program-program pembelajaran moral bagi remaja, juga sebagai landasan pijak bagi perancnag dan produksi bahan-bahan pembelajaran khususnya di bidang moral, seperti buku-buku teks serta media pembelajaran moral lainnya.

Tingkat penalaran moral remaja ini penting untuk diketahui, sebab akan menentukan nasib dan masa depan mereka serta kelangsungan hidup bangsa Indonesia umumnya. Dapat dikatakan bahwa penanggulangan terhadap masalah-masalah moral remaja merupakan salah satu penentu masa depan mereka dan bangsanya (Mulyono, 1984).

0 komentar:

Memuat...
Loading...
Check Google Page Rank