PERSPEKTIF EKONOMI MENURUT HATTA

Tujuan Ekonomi Hatta
Sesuai dengan cita-cita social ekonomi, bagi Hatta “Republik Indonesia yang dibangun tidak saja berdasarkan politik social, tetapi juga mempunyai dukungan moril dan agama. Untuk itu, tujuan pembangunan ekonomi Indonesia menurut Hatta haruslah diarahkan kepada “Bagaimana menciptakan satu masyarakat Indonesia yang adil dan makmur”. Masyarakat adil dan makmur yang dimaksudkan tersebut menurut Hatta memuat dan berisikan “kebahagiaan, kesejahteraan, perdamaian dan kemerdekaan.”
Bagaimana penjelasan dari masing-masing konsep tersebut? Pertama, kebahagiaan menurut Hatta rakyat Indonesia baru dikatakan bahagia apabila ia benar-benar merasa bahagia. Oleh karena itu orang menurut Hatta baru:
”…akan meraskan hidupnya berbahagia, apbila makannya cukup setiap waktu, pakainnya lengkap sekedarnya, ada rumah tempat kediamannya yang memberikan cahaya hidup, kesehatannya sekeluarga terpelihara, anak-anaknya dapat disekolahkan, ada pula persaan padanya bahwa ia pada hari tuanya tidak akan terlantar…keperluan hidupnya yang terpenting dapat terpuaskan.”
Ini artinya seseorang baru akan merasa bahagia menurut Hatta, kalau basic needs atau kebutuhan pokoknya sudah terpenuhi, baik berupa pangan, sandang, papan, kesehatan dan pendidikanuntuk anak-anaknya. Kalau hal ini belum dipenuhi maka orang tersebut menurut Hatta, tidak atau belum akan bias bahagia.
Bahkan disamping hal-hal tersebut menurut Hatta orang juga tidak akan bias bahagia kalau jaminan masa depan dan hari tuanya tidak jelas, karena ia akan dibayangi rasa takut tidak dan cemas akan masa depannya. Oleh karena itu enurut Hatta untuk bias senang dan bahagia, seorang perlu mendapat kepastian terhadap jaminan social bagi dirinya untuk hidup dimasa depan dan atau hari tuanya.
Kedua, kesejahteraan. Hatta adalah tidak mudah baginya untuk menjelaskan arti kesejahteraan. Dia mengalami kesulitan untuk membedakan antara kesejahteraan dan kebahagiaan. Tetapi pada umumnya kata Hatta
“…kesejahteraan adalah peasaan hidup yang setingkat lebih tinggi dari kebahagiaan. Orang merasa hidupnya sejahtera apabilaia merasa senang, tidak kuarng satu apa pun dalam batas yang mungkin dicapainya, jiwanya tentram lahir dan batin terpelihara, ia merasa keadilan dalam hidupnya…is terlepas dari kemiskinan yang menyiksa dan bahaya kemiskinan yang mengancam.”
Jadi dengan demikian, seseorang dikatakan sejahtera menurut Hatta, kalau tingkat kehidupannya sudah diatas yang pertama sehingga ia tidak lagi disibukkan oleh urusan pemenuhan kebutuhan pokoknya. Dia sudah mlai terlibat dalam pemenuhan kebutuhan sekunder bahakan tersiernya. Bahkan yang lebih penting lagi kata Hatta dia telah merasakan ketenangan dan keadilan dalam hidupnya.


0 komentar:

Memuat...
Loading...
Check Google Page Rank