PUISI : SAYAPKU MASIH KOKOH


Kadang tanpa disadari kita telah berbuat aniaya terhadap orang lain yang tanpa sebab musabab yang jelas. Kedengkian, dan perasaan iri atau meri akan karya kreatifitas orang lain, justeru akan menjadikan diri kita jauh dari hidup yang berkah. Namun memang dalam hidup kita tidak bisa menghindar dari sifat like and dislike dari orang lain tanpa melihat apa faktor penyebabnya. Namun bagi saya pribadi menghadapi lingkungan seperti itu memang harus pasang jurus strategis agar kita tidak masuk ke dalam retorika mereka yang bernilai negative thingking. Puisi ini berawal ketika melihat kedholiman merajalela dengan manisnya dikalangan lingkungan pendidikan. Mereka yang tulus ikhlas menyumbangsihan ilmunya ke siswa tanpa mellihat sebuah imbalan namun bekerja dan terus bekerja. Pada kenyataannya justeru mendapat cibiran dan gunjingan sebagai pahlawan kesiangan. Kelompok-kelompok itu membangun opini publik bahwa apa yang dilakukkan oleh guru integritas tinggi adalah menyalahi prosedur lembaga.


SAYAPKU MASIH KOKOH

Kadang jiwaku melayang terbang
Tinggi dan terus tinggi bagai impian di atas angan
Celotehan srigala-srigala yang malang melintang
Sayapku akan terus Tak membuat jantung napasku berdegup kencang

Terbentang nan terbang
Menyibak tabir kepalsuan dalam rona kehidupan
Jilatan lidahmu yang najis dan terus menjulur panjang
Bagai ular betina tengik tidur dan merangsang

Kini terbangku jauh ke langit biru
Hingga kau tak mampu mengejar dan memburuku
Lolongan suaramu yang serak bagai keledai tertunduk malu
Terseok-seok di jalan nestapa penuh duri sembilu

Cengkraman sang elang putih yang kuat bagai tangan-tangan dewa
Membuka tabir kebusukan dan kecurangan para Kurawa
Menggoyang dan mencabik-cabik rasa adil di bumi Astina pura
Menggetar dan merobek jiwa naluri sang baginda raja

Namun semua itu tiada aku pedulikan lagi
Membawa serak suara-suara sumbang di lautan api
Suara durjana yang suatu saat membakar habis perasaan hati
Dalam kegelapan di lubuk sanubari yang pasti orang tiada peduli

Serangan demi serangan aku tepis dengan senyuman manis
Bagai gula Jawa di tepi bibir sang gadis
Pukulan, tendangan maut yang meraka lempar secara sadis
Itu hanya sebuah kiasan dan ilusi dari mimpi burung belipis

Kegagahan, integritas dan kegigihan diriku
Sanggup membuat srigala dungu tertunduk malu
Tanpa sanggup membuat karya dan catatan buku saku
Merintih bagaikan tersayat luka rasa cemburu

Terbang...teruslah terbang jauh tinggi lepaskan masa lalu
Wahai elang putihku nan syahdu
Tunjukkan pada dunia bahwa engkau mampu dan mau untuk maju
Ciptakan haru dan bangga bagaikan seorang guru yang selalu bangkit untuk maju

Matamu tajam menatap masa depan
Tubuhmu kekar dan berbulu lebat putih kesucian
Seputih salju tujuan muliamu yang selalu menjadi perhatian
Dalam melangkah meraih masa depan cerah seperti sang rembulan


by :      saiful arif
Alumni TSC 2017 KPK RI

0 komentar:

Check Google Page Rank
Berikan Pendapat Anda tentang WI Berikan komentar positif dan santun demi pengembangan selanjutnya, untuk partisipasi anda semua saya ucapkan Terimakasih