JENJANG PENDIDIKAN ORANG TUA

PENGARUH JENJANG PENDIDIKAN ORANG TUA TERHADAP KELANJUTAN PENDIDIKAN ANAK-ANAKNYA

Dalam sebuah penelitian sederhana, kami team warta ilmu telah menemukan beberapa indikasi siswa dalam memotivasi diri untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi. Tentunya ini merupakan harapan bangsa agar tercipta generasi muda yang cerdas sesuai cita-cita bangsa yang termaktub dalam UUD 1945 aline ke 4. Perlu adanya upaya yang signifikan untuk memberikan harapan dan motivasi bagi setiap individu siswa atau santri.
Pendidikan dalam sebuah keluarga memang berpengaruh terhadap paradigma orang tua dalam memotivasi anak-anaknya dalam meraih tingkat lendidikan yang lebih tinggi lagi. Umumnya, oarang tua yang berpendidikan rendah atau bahkan tidak sekolah sama sekali akan sangat sulit diajak membangun jati diri anak-anaknya melaluhi tingkat pendidikan yang lebih tingi lagi. Pendidikan adalah belajar pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian.
Seperti kata Mark Twain, “Aku tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya.” Anggota keluarga memiliki peran mengajar yang paling mendalam, sering kali lebih besar daripada mereka menyadari, meskipun anggota keluarga berjalan mengajar tidak resmi.
Menurut Horton dan Hunt, lembaga pendidikan berkaitan dengan fungsi yang nyata (manifes) berikut :

  1. Mempersiapkan anggota masyarakat untuk mencari nafkah.
  2. Mengembangkan bakat perseorangan demi kepuasan pribadi dan bagi kepentingan masyarakat.
  3. Melestarikan kebudayaan.
  4. Menanamkan keterampilan yang perlu bagi partisipasi dalam demokrasi.


Dalam kesempatan ini, penulis akan sedikit membagikan data hasil penelitihan pengaruh jenjang pendidikan orang tua terhadap minat anak-anaknya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Pengaruhnya memang signifikan sekali terhadap psikologi anak-anaknya. Banyak mereka yang hanya melanjutkan ke jenjang Pondok pesantren (non formal) dari pada ke pendidikan formal. Hal ini salah satu faktornya adalah karena orang tua alumni PONPES, sehingga orientasi orang tua disamakan dengan dirinya. Memang tidak semuanya, ada jenjang pendidikan orang tua yang setingkat SD, namun keinginan anaknya melanjutkan ke jenjang lebih tinggi dari pada dirinya memang ada, tapi tidak signifikan. berikut data hasil penelitihan yang diolah menggunakan SPSS v.17



Dari 34 responden yang diajak interview tentang tingkat pendidikan orang tuanya, didapatkan data tabel seperti di samping. Jumlah populasi dari penelitian 203 responden, maka diambil sampel sebanyak 34 secara random.
Peneliti menyajikan data dalam bentuk ordinal yang berdasarkan tingakatan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini disajikan tingkat pendidikan sebagai berikut:
a. 1 = SD ( Sekolah Dasar )
b. 2 = SMP ( Sekolah Menengah Pertama )
c. 3 = SMA ( Sekolah Menengah Atas )
d. 4 = PT ( Perguruan Tinggi )

Selanjutnya data interview dapat dilihat pada gambar di samping dan di analisa dengan SPSS v.17 dan mendapatkan output pada area tendensi sentral.


Dari hasil output SPSS tersebut dapat di ketahui bahwa dari 34 responden yang dijadikan obyek penelitihan yang selanjutnya disebut sebagai sampel uji maka menghasilkan nilai rata-rata 1,18. Ini menunjukkan secara merata tingkat pendidikan orang tua siswa adalah SD walau ada perbedaan 0.18 ini tidak signifikan dan kecenderungan menuju ke tingkat SD. Sedangkan variannya adalah 0.15 menunjukkan penyebaran data sangat rata dan terkesan homogen yaitu pada strata 1,00 (SD). Secara umum output tersebut menunjukkan jumlah tingkatan pendidikan pada jenjang SD 82.4% sedangkan tingkatan SMP hanya 17.6%. Perbedaan inilah yang menyebabkan adanya pergeseran pada selisih nilai rata-rata yaitu 0.18 tadi.


Selanjtnya jika dilihat output diagram distribusi normalnya dihasilkan cenderung menyebar ke kiri yaitu pada area 1 dengan garis simetrisnya yaitu pada absis 1 dengan rentangan 0.5 sampai 1,5. sementara daerah kanan hanya tersentuh garis kurva normalnya yang sebesar 17,6% tadi. Sehingga dari keterangan tersebut dapat di simpulkan bahwa secara umum tingkat pendidikan orang tua di MTs. Sunan Ampel Kraton adalah sekolah Dasar.
Inilah yang menyebabkan motivasi orang tua untuk memberi kesempatan anak-anaknya sekolah lebih tinggi sanagt rendah sekali. Kebanyakan mereka tidak mau ambil resiko untuk tidak melanjtkan anaknya ke jenjang pendidikan formal yang lebih tinggi. Bagi mereka Mondok adalah hal paling penting karena basis pendidikan orang tuanya rata-rata Madrasah Diniyah. Oleh karena itu tugas guru untuk memberikan kesadaran pada orang tua para murid di lingkungan MTs. Sunan Ampel adalah hal yang sangat penting sekali. Mungkin dalam kesempatan rapat-rapat atau moment ketika bertemu dengan wali murid harus diberikan pemahaman bahwa pendidikan formal adalah sangat penting bagi anak-anak bangsa.

0 komentar:

Memuat...
Loading...
Check Google Page Rank