MEMAKNAI SESUATU

Jadikan hidup kita lebih bermakna, dengan jalan memberikan sesuatu terbaik kepada orang lain dengan berkaya dan berkreatifitas.
smart warta ilmu
Ada sebuah cerita dari seseorang, sebut saja Pamungkas. Saya tidak tahu apakah cerita ini bermutu atau hanya sekedar basa-basi. Namun saya akan menyampaikan sesuatu yang memang seharusnya saya sampaikan. Kita masih ingat betapa lidah kita tidak pernah melupakan rasa masakan dari ibu kita. Rasa itu sangat bersahabat ketika kita menyantap makanan setiap hari yang membuat tubuh kita tumbuh berkembang pesat. Namun, ketika kita sudah berpisah dengan mereka karena pernikahan, rasa masakan itu sudah mulai meninggalkan dengan sejuta kenangan yang pernah kita miliki.
Suatu hari pamungkas yang sehari-harinya kerja menjadi salah satu direksi di salah satu media koran KOMPAS ingin sekali merasakan masakan ibunya. Pagi sebelum dia berangkat dia pesan sama istrinya bahwa dia ingin makan seperti masakan sang ibunya. Istrinya pun berusaha memenuhi segala keinginan sang suami. Maklum masih pasutri baru. Lalu dia di kantor berusaha lapar-laparan dengan harapan pulang dapat makan dengan lahap. Kata pepatah “rasa makanan akan menjadi nikmat jika perut kita lapar”. Saat yang ditunggu pun telah tiba. Pamungkas langsung melihat sekitar meja makan sudah terdapat masakan sesuai yang dia pesan pada istrinya. Lalu dia mencium dan memeluk istrinya sebagai bentuk rasa terima kasih karena sudah memenuhi keinginannya. Namun ketika dia sudah mulai menyantap makanannya, betapa terkejutnya Pamungkas. Rambutnya seperti kerinting karena menahan rasa marah dan jengkel di dalam hatinya. Betapa tidak, masakan yang dia makan ternyata belum di beri garam. Dia sangat marah sekali dalam hatinya, karena bayangan rasa makan yang dia impikan terasa buyar semuanya, hanya gara-gara sang istri lupa memberikan garam. Dalam kemarahannya dia mikir, apakah saya harus memarahi istri saya dan memberikan talak hanya gara-gara makanan yang tidak di beri garam. Lalu Pamungkas pun berpikir, ini kan menjadi lucu menceraikan istri hanya karena masakan lupa tidak tidak di beri garam. Lalu dia berpikir lagi, tentunya makanan ini akan lebih berarti jika dinikmati oleh oarang-orang yang terkena bencana seperti di papua, Banjarnegara dan yang lainnya. Tentu masakan yang tanpa garam pun terasa nikmat karena mereka kelaparan. Oleh karena itu, biar masakan ini menjadi bermakna maka saya membayangkan makan dengan orang-orang itu.
Apa yang dapat kita petik pesan moral dari cerita ini, ketika bayangkan sesuatu karena nafsu belaka, maka kita siap kecewa, namun ketika kita beri makna yang lainnya maka sesuatu yang buruk pun akan terasa indah. Maka memberi makna pada sesuatu tergantung kita. Salam smart dari warta ilmu


0 komentar:

Memuat...
Loading...
Check Google Page Rank