PEMBELAJARAN YANG TIDAK EDUKASI

Masih ingat dibenak kita tentang siaran live dari kelahiran bayi dari pasangan selebritis Ashanty dan Anang Hermansyah pada 14 Desember 2014 kemarin. Acara live yang ditayangkan di TV swasta nasional ini sempat menuai protes dan kontroversi dari publik. Langkah Musisi kondang ini yang sekaligus anggota DPR pusat sangat melukai hati banyak orang. Bagaimana tidak frekuensi yang seharusnya milik publik digunakan sebagai media edukasi dan bermutu bagi masyarakat Indonesia, namun digunakan hanya demi kepentingan pribadi dalam acara infotaiment sesaat.
Seharusnya sebagai dewan DPR yang terhormat lebih memikirkan kepentingan publik daripada kepentingan individu. Saya tanya dalam hati pribadi sebagai pengamat pendidikan, "dimana nilai edukasi dari tayangan tersebut?", tentunya tidak ada sama sekali kecuali hanya "SHOWBITZ" belaka. Kritikasn ini pun datang dari berbagai pihak baik dari lawan politiknya di DPR atau seorang penulis yaitu Agus Mulyadi atau Gus Mus (seorang blogger sejati). Dia sempat mengirimkan surat terbuka buat Anang yang isisnya Lucu dan sekaligus pedas. dalam suratnya dia mengkritisi tentang etika Anang sebagai Anggota DPR yang harusnya sebagai contoh bagi publik, justeru sebaliknya. berikut isi lengkap surat dari Gus Mus.

Dear Mas Anang yang fangkeh,

Perkenalkan, nama saya Agus Mulyadi, 23 tahun. Asli Magelang. Saya pengagum Mas Anang. Bukan, bukan bukan karena suara Mas yang serak-serak berat itu, sama sekali bukan. Saya kagum karena Mas Anang saya anggap sebagai representasi pria yang cemerlang dalam perkara wanita.

Betapa tidak, Mas Anang sudah pernah menaklukkan hati wanita secantik Krisdayanti, terus mampu mendekati dan bahkan mem-PHP wanita semontok Syahrini, dan terakhir bisa menikahi wanita seimut Ashanty. Sungguh prestasi yang sangat luar binasa.

Beberapa waktu yang lalu, saya sudah mendengar tentang rencana persalinan istri Mas Anang yang cantik itu, persalinan yang akan disiarkan live di salah satu TV swasta nasional. Dan saya yakin, Mas Anang pasti sudah dapat banyak mensyen dari follower yang tidak setuju dengan rencana tersebut karena dianggap sebagai perampasan hak frekuensi publik.

Saya yakin, sebagai anggota dewan, tentu Mas Anang bisa berpikir untuk lebih berpihak pada khalayak-isme. Tapi sayang, ternyata Mas Anang ndak peduli sama perkara frekuensi publik itu. Mas Anang tetap melanjutkan rencana tayangan persalinan. Entah karena memang sudah kadung teken kontrak atau memang Mas Anang yang keras kepala.

Saya ndak tahu, apa tendensi Mas Anang ataupun RCTI sampai-sampai proses persalinan istri njengengan tercinta harus disiarkan secara langsung agar khalayak tahu. Entah sekadar perkara rating atau hanya sekedar sensasi. Tapi yang jelas, siaran live sebuah proses persalinan di stasiun TV adalah pembodohan yang seasu-asunya, Mas. Merampas hak publik atas tayangan siaran yang bermutu dan bermanfaat.

Saya kok ndak habis pikir dengan jalan pikiran Mas Anang. Buat apa, gitu, persalinan sampai perlu dibikin live? Kok ya selo sekali. Apa memang butuh sponsor karena lagi ndak ada duit? Semoga tidak ya, Mas.

Tentu naif kalau saya menganggap siaran persalinan itu karena Mas Anang tidak kuat bayar biaya persalinan. Welhadalah, bisa kuwalat saya kalau sampai menganggap Vokalis Kidnap Katrina hidup berkekurangan sampai ndak mampu bayar biaya persalinan istrinya. Lha wong sebagai artis merangkap Anggota Dewan, tentu duit yang masuk ke kocek Mas Anang setiap bulannya bisa sampai berpuluh atau bahkan beratus juta jumlahnya. Jangankan cuma biaya persalinan, kalau perlu rumah bersalin pun pasti bisa Mas Anang franchise-kan.

Mas Anang bilang, persalinan itu dibuat live karena ada nilai edukasi di dalamnya, terutama karena istri Njengengan pernah mengalami keguguran dan bertahan hingga melahirkan bayi perempuan setelah dua tahun pernikahan. Iya, Mas, saya tahu, saya turut bersimpati. Ibu-ibu atau bapak-bapak di seluruh penjuru nusantara juga rasanya pasti sama simpatinya seperti saya. Tapi kan ndak perlu begini juga, Mas. Ndak perlu pakai acara siaran langsung persalinan juga.

Tapi saya salut lho, Mas, sama njenengan. Ndak salut bagaimana, di Indonesia ini, hanya Mas Anang beserta istri lho yang bisa mengubah image persalinan, dari ritus yang suci dan sakral menjadi prosesi hingar-bingar yang berisik dan penuh dengan nuansa showbiz karena dikemas dalam bentuk reality show. Coba, siapa lagi yang bisa kalau bukan Mas Anang beserta istri?

Kalau saya pribadi sih ndak terlalu terganggu, Mas. Karena saya memang jarang sekali nonton TV. Tapi kalau yang lain, saya yakin bakal terganggu. Di twitter dan facebook, buktinya banyak juga yang mengeluhkan tayangan itu.

Bukan apa-apa sih, Mas. Tapi tren mengkomersilkan momen-momen penting artis dalam bentuk siaran ini dikhawatirkan akan memunculkan sekuel-sekuel yang lain. Diawali dengan pernikahan Raffi-Gigi, lalu Persalinan Ashanty. Lha besok apa lagi? Saya takut, jangan-jangan nanti sunatannya Sony Wakwaw juga bakal dibuat siaran live. (Semoga jangan ya, Dek Sony. Kakak percaya kamu anak baik, semoga SCTV juga begitu)

Walau bagi saya ndak terlalu mengganggu, namun saya merasa perlu membuat surat terbuka ini. Apalagi karena njenengan dengan enteng bilang: "Yang terganggu tinggal pindah channel lain saja," sewaktu konferensi pers sesaat setelah proses persalinan usai.

Tinggal pindah channel ndasmu njebluk, Mas. Ini bukan soal channelnya, Mas. Tapi ini soal hak publik yang dirampas karena siaran persalinan yang sangat tidak bermutu itu, Mas. Memangnya Mas Anang mau, kalau Ashanty saya ganggu, terus saya colak-colek dan saya cuma perlu bilang: "Nang, kalau sampeyan merasa terganggu karena istri sampeyan saya colek, cari istri lain saja!" Jelas tidak mau kan, Mas?

Ingat, Mas. Publik sebagai pemilik frekuensi harusnya berhak mendapatkan siaran bermutu, atau minimal siaran yang etis dan normatif lah.

Ya silakan saja kalau memang berniat untuk mengedukasi mengenai bagaimana seorang istri (dalam hal ini, Ashanty) memperjuangkan kandungannya

TAPI TAK BEEEEEGINIIIIIIIIII!!!

Sumber: Mojok.co

Marilah kita sebagai masyarakat awam harus lebih selektif lagi dalam mencari acara dan hiburan yang bernilai edukasi demi tunas bangsa ini. Saya sebagai pengamat sangat miris denga tingkah laku artis sekarang. Bagaimana tidak salah satu tulisan di jejaring sosial mengatakan "JIKA ARTIS MERUSAK MORAL TAPI BAYARANNYA GEDE, SEMENTARA GURU PEMBANGUN MORAL JUSTERU BAYARANNYA KECIL". Mungkin anda juga tahu dalam sebuah Parodi tentang sebuah lagu tentang "GURU SEBAGAI PELITA" dirubah liriknya sebagai bentuk protes pada media TV yang sampai sekarang sudah mempunyai paradigma profit bukan keselamatan anak bangsa. berikut cuplikannya:

Semoga bangsa ini mempunyai pemimpin yang bersikap lebih arif lagi dalam memikirkan pendidikan tanah air, semoga Amin 
Salam pak say sing ganteng GM Warta Ilmu "News and Education"

0 komentar:

Memuat...
Loading...
Check Google Page Rank