GURU MENJADI PRIBADI ULIL ALBAB

Manusia pertama dilahirkan secara fitra diciptakan Allah tiada mengenal apa pun. Seiring dengan perjalanan waktu, manusia mulai mengenal sesuatu dari lingkungannya (alam sekitar). Tidak ada satu manusia yang bodoh, tetapi semua itu tergantung diri sendiri yang akan menjadikan dia cerdas dan ahli pikir atau justeru sebaliknya. Nabi adam diajarkan ilmu pengetahuan oleh Allah SWT secara langsung hingga akhirnya nabi Adam dapat hidup mandiri hingga keterunannya sekarang.

Dalam pemikiran orang eropa manusia memiliki beberapa kecerdasan. Pemikian Howard Gardner tentang Kecerdasan Majemuk
Teori tentang Kecerdasan Majemuk ini bergema sangat kuat di kalangan pendidik karena menawarkan model untuk bertindak sesuai dengan keyakinan bahwa semua anak memilik kelebihan. Garner dalam bukunya yang berjudul Frames of Mind: Teori Multiple Intelegences tahun 1983 mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan untuk memecahkan suatu masalah atu menciptakan suatu (produk) yang bernilai dalam suatu udaya. Pada mulanya Howard Gardner menyatakan ada tujuh jenis kecerdasan.
  1. Kecerdasan Bahasa atau linguistik: terdiri dari kemampuan untuk berfikir dalam kata-kata, dan meggunakan bahasa untuk mengungkapkan dan mengapresiasi makna yang komplek. Pekerjaan yang sesuai bidang ini: penulis, penyair, jurnalis, pembicara,penyiar warta berita dll.
  2. Kecerdasan Logika matematika: kemampuan untuk menghitung, mengukur, mempertimbangkan dalil atau rumus, hipotesis dan menyelesaikan operasi matematik yang kompleks. Ilmuan, ahli matematika, akuntan, ahli mesin dan programmer computer, semua menunjukkan kecerdasan matematik yang kuat.
  3. Intrapersonal: merujuk pada kemampuan untuk membangun anggapan yang tepat pada seseorang dan untuk menggunakan sejenis pengetahuan dalam merencakan dan mengarahkan hidup seseorang. Beberapa orang yang menunjukkan kecerdasan ini adalah teolog, psikolog, filsuf
  4. Kecerdasan interpersonal: kemampuan untuk memahami orang dan membina hubungan yang efektif dengan orang lain. Kecerdasan ini ditunjukkan oleh guru, para pekerja sosial, actor, atau politisi.
  5. Kecerdasan Musik atau musikal: kepekaan terhadap titinada, melodi, irama dan nada. Orang yang menunjukan kecerdasan ini adalah komposer, dirigen, musisi, krtikus, pengarang musik, bahkan pendengar music.
  6. Kecerdasan Visual dan Kecerdasan Spasial: kemampuan untuk mengindera dunia secara akurat dan menciptakan kembali atau mengubah aspek-aspek dunia tersebut. Kecerdasan ini seperti yang tampak pada keahlian pelaut, pilot, pemahat, pelukis dan arsitek.
  7. Kecerdasan kinestetik: kemampuan untuk menggunakan tubuh dengan trampil dan memegang objek dengan cakap. Kecerdasan ini ditunjukkan oleh para atlet, penari, ahli bedah, masyarakat pengrajin.
  8. Kecerdasan Alam atau Kecerdasan Naturalis: kemampuan untuk mengenali dan mengklasifikasi aneka spesies, tumbuhan atau flora dan hewan fauna, dalam lingkungan. Ahli Biologi, pecinta alam, penjelajah alam.dll

Kadang kita sebagai umat islam khususnya guru, menerima begitu saja teori-teori dari orang-orang barat, padahal kita telah mempunyai dasar teori yang shoheh artinya nilai kebenarannya sudah tidak diragukan lagi. Semua kecerdasan yang diungkapkan oleh tokoh barat ternyata sudah terakumulasi secara holistic di dalam Alqur’an kita. Berikut petikan ayat yang menjelaskan kecerdasan yang harus dimiliki oleh seorang “Ulil Albab”.


Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, Maka bertakwalah kepada Allah Hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu,


Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.


dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan[1], dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.
[1] Yaitu Mengadakan hubungan silaturahim dan tali persaudaraan.


Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang Itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),

Dalam Al-Qur’an dan terjemahnya, Ulil Albab diartikan : orang-orang yang berakal. “Ulil Albab” tersebut, yang dapat dipahami maknanya bukan hanya “orang-orang yang berfikir”, akan tetapi juga “orang yang merasa dan memiliki makna”, dengan kata lain “Orang-orang yang Cerdas, ini lah yang dikatakan dengan “Ulil Albab”.
Coba kita simak kembali terhadap tiga hal tersebut diatas, pertama objeknya menyangkut masalah “Ketuhanan (al-uluhiyah)”, inilah yang kita kenal dengan “Spiritual Quotient (SQ)”. Bagian kedua, objeknya berkaitan dengan masalah “alam semesta (al-kauniyah)” seperti penciptaan langit dan bumi, air hujan, serta sejenisnya dan ini kita kenal dengan istilah “Intellegence Quotient (IQ)”. Bagian ke tiga , membicarakan tentang objek “manusia (al-insaniyah)” itu sendiri dan hal ini kita kenal dengan istilah “Emosional Quotient (EQ)”.

KECERDASAN INTELEKTUAL/AKAL (INTELLEGENCE QUOTIENT)
KECERDASAN EMOSIONAL/PERASAAN (EMOSIONAL QUOTIENT)
KECERDASAN SPIRITUAL/HATI (SPIRITUAL QUOTIENT)
KECERDASAN QUR’ANI (QUR’ANIC QUOTIENT)

salam pak say sing ganteng

0 komentar:

Memuat...
Loading...
Check Google Page Rank