SISTIM EKONOMI KAPITALIS

 Idividualisrne dan liberalisme yang tumbuh dalam masyarakat barat dalam perkernbangan lebih lanjut memberikan inspirasi timbulnya suatu bentuk perekonomian kapitalis, yang mula-mula terjadi di Inggris, dan terus menyebar ke seluruh Eropa Barat dan Amerika Utara. Kapitalisme sebagai suatu sistem ekonomi dalam pandangan para ahli dianggap sebagai suatu revolusi yang bersifat fundamental dalam pembentukan masyarakat modern. Hal ini disebabkan, bahwa kapitalisasi tidak saja terjadi dalam idea atau pemikiran ekonorni itu sendiri, tetapi bahkan prinsip-prinsip dasarnya juga merambati ke hampir semua sendi-sendi kehidupan sosial budaya dan politik masyarakat. Kapitalisme dianggap juga sebagai peradaban yang berakar pada ideologi yang muncul pada bagian akhir abad pertengahan dan kemudian mencerminkan suatu bentuk gaya hidup masyarakat barat.

Milton H. Spencer, dalam sebuah. bukunya yang berjudul "Contemporary Macroo Economics", banyak membahas persoalan sistem ekonomi seperti ini khasnya kapitalisme dan sosialisme. Kapitalisme didefinisikannya sebagai:"sebuah sistem cara pengorganisasian suatu perekonornian yang memiliki ciri-ciri kepemilikan individual (hak-hak milik privat) atas alat-alat produksi dan distribusi (tanah, pabrik-pabrik, jalan-jalan kereta api, dan lain-lain) di mana pemanfaatannya adalah bertujuan untuk mencapai keuntungan dalam suatu kondisi yang sangat kompetitif." Pemilikan tersebut memotivasi sasaran ekonomi, apakah ia hanya sebagai petani kecil, industrialis kaya dan sebagainya, yang merupakan pihak-pihak yang menikmati keuntungan paling banyak (kelebihan total revenue atas total costs), yang dimungkinkan karena pemakaian asset produksinya serta hasil penjualan produk-produknya di pasar yang sangat kompetitif itu.

Menurut Todaro (1987: 35), pada dasarnya terdapat empat elemen pokok dari suatu sistem ekonomi kapitalis yakni:
  1. Institusi pemilikan oleh swasta yang memperoleh jaminan peraturan yang berlaku,
  2. Free enterprise dan kompetitif yang mempunyai daya tembus ke dalam pasar,
  3. Penjualan produksi komersial yang berlebih-lebihan di dalam pasar-pasar yang kornpetitif (sebagai kebalikan dari produksi subsistem yang dapat meliputi pemilikan oleh swasta), dan
  4. Pengesampingan tingkah laku konsumen dalam rangka maksimalisasi keuntungan bagi produsen serta pernuasan bagi konsumen.

Kapitalisme murni bekerja berdasarkan kondisi persaingan di antara para produsen/penjual untuk dapat menarik minat konsumen/pembeli. Konsep kapitalisme klasik memproyeksikan adanya suatu persaingan sempurna dan tangan tidak kentara; ilustrasi bahwa, setiap ribuan satuan unit ekonomi individual (produsen dan konsumen) adalah terlalu kecil jika dikaitkan dengan dasar secara keseluruhan sehingga tidak dapat mempengaruhi harga yang harus dibayarnya. Setiap unit ekonomi juga dianggap memiliki "pengetahuan sempurna" mengenai semua alternatif (harga-harga) dan berpedoman kepada keinginan untuk memaksimalkan keuntungan bagi produsen dan kepuasan bagi konsumen. Seianjutnya diperdebatkan bahwa di dalam dunia persaingan sempurna jika masing-masing unit ekonomi individual mengejar kepentingannya sendiri, maka tindakan-tindakan "tangan yang tidak kentara" itu. Secara teoritis, kapitalisme dinyatakan orang pula sebagai sebuah sistem pasar bebas yang berkaitan erat dengan wujudnya persaingan. Dalam bentuknya yang paling sernpurna, pasar-pasar bebas itu menujukkan ciri-ciri antara lain:
  1. Pembeli dan penjual dalam jumlah cukup banyak yang masing-masing meminta menawarkan sebagian kecil dari pada transaksi total sehingga tidak seorangpun diantara mereka dapat mempengaruhi harga barang yang bersangkutan.
  2. Kebebasan para pembeli serta para penjual yang tidak dihalangi oleh pembatasan-pembatasan ekonomis atau kelembagaan dan yang mengetahui harga-harga pasar untuk keluar masuk pasar sesuai dengan keinginan-keinginan mereka.
Ini berarti, bahwa mekanisme pasar barang-barang tertentu ditentukan oleh kuatan permintaan dan penawaran. Namun dalam kenyataannya, ekonomi model kapitalisme murni dengan persaingan sempurna itu tidak pernah dapat terlaksana, kecuali konsep mengenai "pasar bebas" sebagai suatu asumsi dasar bagi pemilikan swasta secara keseluruhan dan penggunaan sumber daya serta dalam hal pengambilan utusan oleh unit-unit ekonomi swasta individual. Selain dari pada itu pula, apa yang dinamakan dalam istilah Dunia Kesatu atau Ekonomi Kapitalis Pasar yang telah maju seperti yang terjadi di Amerika Utara, Eropa Barat, Jepang, Australia dan Selandia Baru serta Afrika Selatan; ternyata juga merupakan mixed economy, yakni suatu sistem nomi campuran antara sistem pemilikan swasta atas sumber daya dan pemerintah atas pengambilan keputusan ekonomi swasta dan pemerintah itu sendiri.

Bertahun-tahun lamanya pemerintah negara-negara ekonomi kapitalis yang sudah maju itu meningkatkan pengawasan dan pengendalian terhadap sejumlah aktivitas ekonomi, tidak hanya melalui penggunaan apa yang dinamakan kebijakaan moneter dan fiskal saja, tetapi juga melalui partisipasi langsung dalam bentuk sionalisasi industri, eksistensi perusahaan-perusahaan pemerintah dan dalam program-program investasi pemerintah.

Sementara itu, masyarakat kapitalis telah mengalami pergeseran yang kedua dari dunia kompetisi menjadi bentuk-bentuk kerjasama negosiasi ekonomi perdangan karena semakin majunya pasar-pasar bebas lainnya di berbagai region dunia serta semakin menyempitnya unit-unit ekonomi. Pemerintah negara-negara kapitalis kini semakin bersikap moderat dalam mengatur aktivitas ekonominya serta mempertimbangkan pula akibat-akibat yang kurang disenangi dari pertumbuhan secara nyolok berupa perusahaan-perusahaan monopolistis yang biasanya mereka pertahankan. Kedua era perubahan itu adalah:
  1. Pergeseran yang pertama, adalah terjadinya perubahan konsepsional dalam penggunaan teori-teori aktivitas kapitalisme ortodok (klasik) menjadi suatu pola ekonomi kapitalisme modifikasi yang disebut sebagai neo-liberalisme yang mulai melibatkan campur tanqan pemerintah berlangsung sejak 1940-an hingga 1960-an. Pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan dengan regim-regim totaliter sebelum terjadi Perang Dunia II menyebabkan kebanyakan orang Eropa khususnya lebih tertarik untuk memilih partai-partai politik yang bersifat demokratis sosial karena dipandang liberal reformis. Mereka ini umumnya tidak mau bekerjasama dengan kelompok-kelompok radikal, marxis haluan keras maupun komunisme yang menghendaki perubahan-perubahan revolusioner. Perubahan-perubahan yang terjadi di Eropa (Barat) itu disambut baik di region Utara Amerika karena sekalipun terjadi pergeseran terhadap beberapa prinsip kapitalisme tetapi masih memiliki kesamaan konsepsional dengan modifikasi yang juga berlangsung di Amerika Serikat yaitu masih dipertahankannya premis- premis dasar liberalisme klasik abad ke-19, berupa kebebasan individu lembaga-lembaga parlementer dan lain-lain yang secara simultan memberi kemungkinan besar baqi Negara-negara yang mengalami kerusakan berat akibat perang untuk melakukan perbaikan-perbaikan ekonomi dan rekoveri program pembangunan. Beberapa teori Kapitalis yang diperbarui oleh penganut-penganut pemikiran Keynes (Keynesian) berusaha menerapkan tinda tindakan untuk mengurangi banyaknya pengangguran yang berlangsung sejak terjadinya depresi ekonomi dunia sejak 1930-an dan akibat-akibat perang dengan cara melibatkan secara langsung peranan pemerintah mengatasi masal yang ada dalam kehidupan ekonomi untuk mencapai peluang-peluang kesempatan kerja dengan jalan melakukan “deficit spending” secara meluas. Memperbanyak jaringan proyek-proyek pekerjaan umum dan pengendalian suku bunga serta perencanaan-perencanaan periodik.
  2. Pergeseran yang kedua dapat dikenali sebagai neo-kapitalisme yang berlangsung sejak awal dekade 1970-an sampai 1990-an. Perubahan-perubahan yang mendasar adalah semakin luasnya ruang lingkup politik memasuki dunia ekonomi karena efek-efek lingkungan sekitar mulai dari masalah-masalah perang dan damai, masalah-masalah energi (khususnya minyak dan gas), kelangkaan sumber daya alam dan perubahan-perubahan peta ekonomi dunia yang tidak lagi semata-mata dikuasai oleh pihak Barat, yakni telah munculnya bebera negara kuat dalam ekonomi di Asia Pasifik khususnya Jepang dan Negara-negara industri baru (NICs) yang kian mendominasi harga-harga komoditi di berbagai pasar bebas di seluruh dunia, serta beberapa perubahan dalam lapangan sains dan teknologi lainnya. Cara-cara kapitalis yang kompetitif semakin pudar karena persaingan-persaingan yang semakin ketat di antara kekuatan-kekuatan raksasa ekonomi sehingga bahkan menimbulkan banyak kemunduran perkemban ekonomi di Eropa dan Amerika. Ini menyebabkan timbulnya era negosiasi p untuk mencapai kepentingan ekonomi berlangsung di mana-mana negara khasnya yang bersistem ekonomi kapitalis atau pasar bebas.
Pada perubahan konseptual yang kedua ini, pemerintah memainkan peranan penting langsung dan tidak langsung, dengan ruang lingkup yang luas pula. Pemerintah aktif di dalam bidang-bidang perencanaan ekonom dalam mengatur aktivitas perusahaan swasta, di dalam pemungutan pajak, dalam mengatur alokasi pengeluaran pemerintah, terlibat di dalam investasi secara langsung mengelola dan menjalankan perusahaan-perusahaan umum, mengatur dan melaksana
perdagangan luar negeri, pengendalian upah, mengatur tingkat suku bunga bank dan kebijaksanaan keuangan kontemporer lainnya, penentuan harga-harga komoditi tertentu menentukan ikhwal perburuhan dan sistem pengupahan, redistribusi pendapatan negara dan banyak lagi kegiatan ekonomi perdagangan lainnya.

Dalam era masyarakat neo-kapitalisme sekarang ini memang masih terdapat lemmbaga-lembaga pemilikan individu dan kebebasan berusaha namun demikian, perbedaan antara aktivitas ekonomi swasta dan pemerintah, antara penentuan harga dan upah oleh pasar dan bukan pasar serta perbedaan antara kepentingan swasta dan pemerintah telah menjadi semakin kabur. Dalam banyak hal, telah terjadi perubahan mendasar antara apa yang disebut dalam ekonomi pitalisme klasik suatu mekanisme pasar yang diatur oleh"invisible hands”, kini telah digantikan oleh suatu bentuk "guiding hand” (tangan petunjuk) dari pada pemerintah pusat sebagai kekuatan ekonomi utama dalam masyarakat kapitalis modern. Akan tetapi bahwa alam kebebasan yang dijadikan doktrin kapitalisme pula memberikan penekanan penting bagi eksistensi demokrasi dalam kehidupan ekonomi dan politik masyarakat. Oleh karena itu dapat dilihat beberapa indikator negara penganut kapitalisme modifikasi yang berdasarkan demokrasi.

Demokrasi; ialah bentuk pemerintahan di mana keputusan-keputusan politik ditentukan oleh sebagian besar penduduk, biasanya melalui wakil-wakil yang dipilih dalam pemilihan umum berkala yang bebas. Melalui pemilihan ada persaingan terbuka untuk meraihnya kekuasaan politik ataukah totaliter. Totaliter: suatu pemusatan kekuasaan pemerintah yang berdasarkan kekuasan secara paksa, tanpa banyak rnengindahkan kepentingan dan kehendak rakyat atau tanpa banyak melakukan konsultasi dengan wakil-wakil rakyat di parlemen. Keputusan-keputusan yang dilakukan pemerintah banyak dilakukan dengan cara ancaman dan sanksi.

Hampir semua negara di Eropa Barat, Amerika Serikat dan Kanada, Jepang, Australia dan Selandia Baru merupakan negara kapitalis demokratis. Sementara itu Negara-negara lain di sebagian besar Amerika Latin (Tengah dan Selatan, kecuali Cuba), juga sebagian Asia dan Afrika yang menerapkan model perekonomian kapitalis, tetapi memodifikasinya dengan cara tertentu termasuk totaliter dan bahkan kediktatoran.

Kebangkitan kapitalisme di Amerika Latin, terutama sejak usai Perang Dunia II tampak bangkit dengan hebat sehingga pertarungan kubu system bipolar Timur dan Barat seakan-akan dimonopoli oleh kemenangan kapitalisme. Namun lambat laun Negara-negara di Amerika Latin terjebak sendirinya oleh kelalaian mereka melakukan kontrol atas prilaku ekonomi mereka yang tumbuh cenderung tidak terkendali, namun justru menghancurkannya. Brazilia, Argentina, Meksiko, Chili, Uruguay dan lain-lain; menghadapi situasi yang sama, yakni terjerat oleh hutang luar negeri yang sangat banyak. Kondisi ekonomi dan moneter mereka sangat parah, sehingga sejak tahun-tahun 1980-an sampai era 1990-an, mereka tidak dapat keluar dari krisis yang berkepanjangan.

Dari sisi lain, Asia Timur yang dimotori oleh Jepang, Taiwan, Korea Selatan dan Hongkong justru memperoleh kegemilangan mereka dalam mengadopsi system kapitalisme dibanding dengan negara-negara yang menganut sistem sosialis komunisme. Dan menjelang akhir 1970-an, Asia Tenggara juga mengalami pertumbuhan "ajaib" bahkan melebihi pesatnya perkembangan yang terjadi di Asia Timur sampai akhirnya tahun 1990-an (1997) mereka mengalami kemerosotan dan krisis ekonomi, yang hampir sama dengan yang pernah dialami oleh Amerika Latin.
Tesis Peter L.Berger tentang “Kemenangan Kapitalisrne" yang berkaca kepada kemajuan-kemajuan yang dicapai beberapa kawasan di Amerika dan Asia, tampak menghadapi verifikasi berat. Bahwa apa yang disebutnya sebagai " Kemenan Kapitalisame" agaknya perlu mendapat koreksi lebih jauh sejalan dengan banyak kegagalan yang pada dasarnya juga sudah melanda seluruh dunia, termasuk barat akibat sistem kapitalisme tersebut.


0 komentar:

Memuat...
Loading...
Check Google Page Rank