PERBAIKAN MUTU LULUSAN

Proses pekerjaan untuk menghasilkan produk/out put harus dilakukan dengan berpatokan pada tahapan-tahapan pekerjaan yang sudah direncanakan dan ukuran keberhasilan yang sudah ditetapkan bersama. Kedua hal tersebut dijadikan suatu standar proses pekerjaan. Standar disusun bersama antara pimpinan dengan personel-personel yang terlibat dalam pekerjaan tersebut. Standar yang sudah disepakati tersebut kemudian diujicobakan dalam skup yang terbatas yang kemudian dilakukan penilain atau pengukuran. Hasil pengukuran akan dijadikan sebagai patokan untuk melakukan/tidak melakukan modifikasi terhadap standar yang telah ditetapkan. Hasil dari evaluasi tersebut kemudian diterapkan dalam melakukan proses pekerjaan sehari-hari, sehingga pekerjaan tersebut lebih kecil terhindar dari kesalahan dan berbagai tindak pencegahan (preventive action ) dapat dilakukan dengan mendasarkan pada proses evaluasi dan asesmen yang handal.
Proses pekerjaan tersebut masih harus selalu dievaluasi agar berbagai kesalahan dan perkembangan dapat diantisipasi dan dilakukan perbaikan kemudian diujicobakan lagi, dilakukan pengujian lagi, kemudian system baru tersebut diterapkan dalam pekerjaan dan seterusnya sesuai siklus Demings.
Tahap perbaikan terus menerus (Imai, 2001) sebagai berikut:


Berdasarkan uraian di atas, maka strategi pengembangannya meliputi:

a. Pengembangan Kurikulum Secara Berkelanjutan
Berdasarkan UU Sisdiknas 2003 Pasal 36 ayat 1: ”Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Sedangkan Standar nasional terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan.... (pasal 35 ayat 1). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kurikulum dapat dikembangkan atas dasar kompetensi lulusan, yang di dalamnya terdapat standar isi, dan standar proses.
Saat ini dikembangkan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang merupakan respon pendidikan untuk meningkatkan mutu lulusan yang kompeten dan cerdas dalam membangun identitas budaya dan bangsanya dengan memberikan dasar-dasar pengetahuan, keterampilan, pengalaman belajar yang membangun integritas sosial, serta membudayakan dan mewujudkan karakter nasional (Aan dan Cepi, op.cit: 55)

b. Meningkatkan Mutu Pembelajaran
Peningkatan mutu pembelajaran menjadi tujuan program MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). Program tersebut terdiri dari Manajemen Sekolah, Peran Serta Masyarakat (PSM), dan peningkatan mutu kegiatan belajar mengajar melalui peningkatan mutu pembelajaran yang disebut Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) maupun Pembelajaran Kontekstual di SLTP-MTs.


Dari hasil penelitian Eddy Junaedi (abstrak thesis, 2005) menunjukkan bahwa mutu pembelajaran merupakan variabel terikat oleh gaya kepemimpinan, pengembangan tim dan pemberdayaan KBM dengan simpulan pengolahan data sebagai berikut: (1) gaya kepemimpinan berkontribusi terhadap peningkatan mutu sebesar 41,4%; (2) pengembangan tim berkontribusi terhadap mutu pembelajaran sebesar 19,6%; dan (3) pemberdayaan KBM berkontribusi terhadap mutu pembelajaran sebesar 9% (http: page-yourfavorite.com/ppsupi/abstrakadpen2005).
Di dalam kerangka dasar kurikulum 2004 (Depag, 2005), kegiatan pembelajaran perlu: (1) berpusat pada peserta didik; (2) mengembangkan kreativitas peserta didik; (3) menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang; (4) bermuatan nilai, etika, estetika, logika dan kinestetika; dan (5) menyediakan pengalaman belajar yang beragam.
Menurut Aan dan Cepi (2005:60), dua prinsip bagi guru dalam implementasi pembelajaran, yaitu: student oriented menitikberatkan pada: (1) kebutuhan belajar siswa ; (2) perbedaan individual; (3) kepribadian siswa. Guru harus memusatkan perhatiannya kepada pembelajaran siswa atau guru sebagai fasilitator belajar bagi siswa. Dalam teori pengajaran, prinsip tersebut mengarah pada teori Belajar Siswa Aktif (Student Active Learning/SAL), dan content oriented diarahkan pada penyampaian materi pelajaran. Profesionalisme guru dalam penguasaan dan penyampaian materi akan menimbulkan kepercayaan yang tinggi dari siswa. Dalam teori pengajaran prinsip tersebut mengarah pada teori Belajar Tuntas (Mastery Learning).
Lowman dalam bukunya Mastering the Techniquis of Teaching (1984) menyatakan bahwa kualitas pengajaran merupakan hasil dari keterampilan guru menciptakan kegairahan intelektual dan menggalang hubungan positif dengan peserta didik. Lowman menyebutnya dengan A Dimentional Model of Effective Teaching.


c. Memperkuat Sumber Daya Guru
Pembelajaran berbasis kompetensi akan dapat terlaksana dengan baik apabila guru-gurunya profesional dan kompeten. Di dalam buku Desain Pengembangan Madrasah (Depag 2005: 40), pembinaan profesi guru madrasah dilakukan melalui: (a) memberikan kesempatan yang luas kepada semua untuk meningkatkan profesionalisme melalui pelatihan-pelatihan dan studi lanjut; (b) memberikan perlindungan hukum dan rasa aman kepada guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam melaksanakan tugas.
Dalam penyelenggaraan pelatihan dan pendidikan guru perlu untuk memperhatikan prinsip-prinsip: (1) individual differences; (2) relation job analysis; (3) motivation; (4) active participation; (5) selection of trainers; (6) trainers training; (7) training methods; (9) principles of learning (Siswanto, 1989: 154-159).
Setelah dilakukan pelatihan dan pendidikan kepada guru melalui berbagai bentuk kegiatan, maka dalam konteks manajemen mutu terpadu pendidikan, pemberdayaan guru perlu dilakukan melalui pembagian tanggung jawab, dan hal ini menjadi salah satu pilar kepemimpinan pendidikan. Sallis (1993:89) mengungkapkan ”A key aspect of leadership role in education to empower teachers to give them the maximum oppurtinity to improve the learning of their students”
Kepala sekolah dalam menjalankan kepemimpinan pendidikan perlu melakukan usaha-usaha, sebagaimana dikemukakan oleh Sallis (1993) diantaranya: (a) melibatkan guru-guru dan semua staf dalam aktivitas penyelesaian masalah dengan menggunakan metode ilmiah, dan prinsip proses pengawasan mutu; (b) meminta pendapat dan aspirasi dari mereka; (c) memberikan pemahaman terhadap guru tentang manajemen yang cocok bagi guru; (d) pelaksanaan yang sistematik dan komunikasi yang terus menerus dengan melibatkan setiap orang di sekolah; (e) membangun keterampilan-keterampilan dalam mengatasi konflik penyelesaian masalah dan negosiasi; (f) memberikan pendidikan dan konsep mutu dan pelajaran seperti membangun tim kerja, proses manajemen, komunikasi; (g) memberikan otonomi dan keberanian mengambil resiko dari para guru atau staf.
d. Kepemimpinan yang Kuat
Dikemukakan oleh Kouzes dan Posner (1993: 11) bahwa “Leadership is a relationship, one between constituent and leader that is based mutual needs and interest”.
Kepemimpinan yang relevan dengan tuntutan school based management dan didambakan bagi peningkatan kualitas pendidikan adalah kepemimpinan yang memiliki visi (visionary leadership), yaitu kepemimpinan yang kerja pokoknya difokuskan pada rekayasa masa depan yang penuh tantangan.
Menurut Edwin A. Locke (1997), fungsi utama pemimpin adalah memantapkan sebuah visi untuk organisasi tersebut dan mengkomunikasikannya dengan cara yang mantap bagi para anggotanya.
Ada beberapa langkah visionary leadership, yaitu:
1) Penciptaan visi
Yaitu (a) trend watching, memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa depan, kepekaan terhadap signal-signal perubahan, sekaligus memiliki kekuatan mendekatkan diri kepada Tuhan.
2) Perumusan visi
Visi perlu dirumuskan dalam statement yang jelas dan tegas dengan melibatkan stakeholders. Daniel dan Daniels (1993: xxix) berpendapat bahwa clarity of vision atau kejelasan visi dapat diperoleh melalui tiga fase proses, yaitu: (a) discovery, berarti validasi, internalisasi, dan rasionalisasi atas proses globalisasi; (b) visualization, berarti menggambarkan atau penjelasan konsep-konsep dalam visi global; (c) actualization, berarti sebuah pernyataan visi global yakni perumusan dan pemasyarakatan visi dalam organisasi.
3) Tranformasi visi
Yaitu kemampuan membangun kepercayaan melalui komunikasi yang intensif dan efektif sebagai upaya shared vision pada stakeholders sehingga diperoleh sense of belonging dan sense of ownership.
4) Implementasi visi
Implementasi visi merupakan kemampuan pemimpin dalam menjabarkan dan menerjemahkan visi ke dalam tindakan. Nanus (2001) mengatakan bahwa kepemimpinan yang bervisi bekerja dalam 4 pilar, yaitu: penentu arah, agen perubahan, juru bicara, pelatih.

sumber : sinopsis TESIS Oleh Hoirun Nisa NIM : 04920004 / S-2 UIN Malang




0 komentar:

Memuat...
Loading...
Check Google Page Rank