HILANGNYA PERAN GURU

HILANGNYA PERAN GURU

H. ACH. SAIFUL ARIF, ST, MPd
( Penulis harian online Warta Ilmu )

         Berdasarkan hasil refleksi kita selama ini, beberapa hal yang nenyebabkan posisi guru menjadi tidak berdaya adalah selain karena tidak pintar, malas gaji rendah, juga masih terjerat oleh ,lingkaran birokrasi. Agak aneh memang, saat birokrasi lain menglami pelonggaran, birokrasi pendidikan justru makin represif. sebagai contoh, bila semula DP3 untuk kenaikan pangkat bagi guru negeri cukup, ditandatangani oleh kepala sekolah, setelah reformasi justru harus ditandatangani oleh pengawas Kanwil pendidikan. Kebijakan ini, selain mengebiri fungsi kepala sekolah, juga menghambat kerja guru. Sedangkan di sekolah-sekolah swasta, dengan berlindung di balik krisis ekonomi, . kontrol terguru makin ketat dengan alasan pendapatan sekolah menurun. Guru yang memiliki perbedaan pendapat atau sedikit lebih kritis terhadap kepala sekolah atau yayasan, diteror dan dintimidasi agar keluar atau berhenti kritis sama sekali. kritis terhadap kepala sekolah atau yayasan, diteror dan dintimidasi agar keluar atau berhenti kritis sama sekali.
      Ketatnya birokrasi pendidikan itu merupakan warisan orde baru, yang selama tiga dasawarsa menghilangkan peranan guru dan menggantikannya sebagai peran tutor, komando, atau penatar. Profesi guru selama orde Baru mengalani distorsi yang begitu hebatnya,'sehingga dampaknya pameo lama yang menyatakan "guru wajibe digugu lan ditiru" .(Guru wajib dipercaya dan dicontoh) berubah menjadi sinisme "Guru iso digugu, ning perlu ditiru" (Guru bisa dipercaya, tapi ticlak perlu dicontoh). Sini, distorsi itu sangat jelas. Pameo pertarna mengandaikan sebagai personifikasi untuk yang ideal, sehingga ucapan mapun tindakannya wajib dipercaya dan dicontoh. Sedangkan yang kedua, guru merupakan personifikasi aktor/aktris yang pandai bersandiwara, sehingga ucapan maupun tindakan diperhatikan tapi tidak harus dipercaya dan dicontoh. Kata bias dipercaya" mencerminkan skeptisisme tertentu, bahwa apa yang dikatakan guru belum tentu mengandung kebenaran (baik formal maupun empiris). Oleh sebab itu, apa yang dikatakan mengandung ambiguitas: bisa dipercaya, tapi juga bisa tidak.
Sinisme sosok guru itu makin dipertajam dengan penyempitan ruang dan waktu, misalnya, bisa dipercaya di depan ke saat mengajar, tapi tidak otomatis dapat dipercaya di luar kelas. Bahkan dengan datangnya gerak reformasi yang menggugat berbagai kemapanan termasuk kebenaran pelajaran sejarah dan PKN (dulu PMP), muncul skeptisisme yang tinggi di kalangan murid: "Betul nggak yang disampaikan guru itu?" Skeptisi yang menumpuk dan terstruktur itu berdampak pada memburuknya citra guru secara keseluruhan, baik di luar maupun di dalam kelas. Terlebih bila guru kenyataannya tidak menjadi peran sebagai guru (mencerdaskan murid), tapi lebih merupakan bagian dari aparatus negara yang bertugas. mengontrol gerak gerik murid. Akibatnya, guru tidak sibuk dengan belajar untuk menambah wawasan baru, mengembangkan teknik-teknik belajaran yang baru, atau kreativitas murid, tapi sibuk melayani tuntutan birokrasi.
Kecuali itu, substansi materi pelajaran yang diberikan kepada murid pun tidak mencerminkan kebenaran empiris, sehingga murid menganggap bahwa, apa yang diajarkan oleh guru adalah dunia yang berbeda dengan dunia yang mereka hadapi sehari-hari; baik system politiknya yang disebut demokratis, tapi realitasnya otoritarian, ekonominya yang disebut kerakyatan tapi realitasnya memihak pada konglomerasi, peradabannya yang dinilai tinggi, tapi realitasnya tidak beradab, dan sejenisnya. Hal-hal yang penuh kontradiktif antara ajaran dengan realitasnya itu sering menimbulkan kebingungan. pada murid, mana yang harus dianut: kata orang tua, guru, atau ucaparat pejabat yang dimuat oleh koran, radio, dan televisi, mengingat satu sama. lain sering kontradiktif mengacu hal yang sama?
Ketidakmampuan guru melepaskan. diri dari jeratan birokrasi disebabkan guru tidak memahami adanya selubung politik dalam pendidikan, sehingga tidak memiliki keberanian. untuk bersikap. Kata Paulo Freire (1999: 295-296), seorang guru harus bertanya kepada dirinya sendiri tentang pilihannya yang secara inheren bersifat politis, meskipun sering disamarkan sebagai pendidikan agar diterima. oleh masyarakat, sehingga membuat keahlihannya menjadi sangat penting. Guru harus bertanya kepada diri sendiri untuk siapa. dan kepada siapa. mereka bekerja. Semakin sadar, mereka semakin mengerti bahwa perannya sebagai guru. menuntut mereka untuk mengambil risiko ini, termasuk kemauan mengambil risiko atas pekerjaannya. Guru yang bekerja secara tidak kritis, hanya untuk memenuhi kewajiban, berarti belum mengerti politik pendidikan.
         Menurut Freire (ibid: 318), tidak ada guru yang netral. Duia pendidikan secara alamiah bersifat politis. Dalam istilah metafisik, politik merupakan. roh pendidikan, baik di Dunia Pertama. ataupun Dunia Ketiga. Tatkala seorang guru mempelajari sebuah tata pelajaran tertentu, semua praktik pendidikan menjadi tinndakan politik. Oleh sebab itu, pengetahuan yang.dibutuhkan guru adalah semacam filsafat politik yang kita sumbangkan dan. untuk kepentingan siapa kita bekerja.
Kesenjangan akses terhadap informasi, kemajuan ekonomi dan teknologi antara murid dengan guru juga memiliki andil besar dalam memperlemah, posisi guru. Dibanding perkembangan yang begitu cepat yang terjadi pada remaja, guru disebut mengalami stagnasi, tidak berubah sama sekali. Guru di kota-kota besar, terutama di sekolah-sekolah yang mayoritas muridnya golongan menengah ke atas, sering ketinggalan informasi dan teknologi dibandingkan muridnya. Di rumah, para murid bisa berlangganan berbagai media massa, sedang gurunya satu pun susah bayarnya; murid memiliki jaring Internet sendiri sedangkan gurunya tidak; murid selalu tur luar negeri, sedangkan gurunya tidak pernah pergi liburan luar kota, apalagi luar negeri. Perbedaan-perbedaan itu secara evolutif dan tanpa disadari berdampak pada menurun kewibawaan guru di kota-kota besar, bahkan cenderung hilang sama sekali. Bagaimana guru bisa berwibawa, sedangkan pengtahuan mereka kalah banyak dibandingkan dengan murid-muridnya? Akibatnya, guru di sini kehilangan peran yang sebenarnya. Peran yang mereka mainkan adalah mencari peran tui, sendiri dalam posisi mana mereka bisa berperan dan berfungsi secara pas di antara kompleksitasnya persoalan dan ketertingalannya dengan murid. Mungkin, hal demikian tidak dirasa oleh para guru di pedesaan yang relatif masih lebih kaya pengetahuannya dan tidak mengalami kesenjangan informasi deng muridnya, sehingga mereka masih memiliki kewibawaan yang lebih tinggi. Boleh jadi, guru di daerah-daerah terpencil itu mana menjadi figur sentral bagi kemajuan masyarakat, seperti yang terjadi pada guru-guru di Pulau Jawa hingga akhir 1970-an.
Perubahan sistem politik nasional ke arah yang lebih demratis dan terbentuknya masyarakat warga (civil society), sebetulnya membuka peluang bagi perubahan peran guru. Terlebih ketika hal-hal yang dulu dianggap sakral untuk dibicarakan, seperti amandemen UUD 1945, dwifungsi ABRI, multipartai, dan beberapa pengaburan sejarah oleh rezim Orde Baru, sekarang menjadi bagian riil dari hal-hal yang harus direformasi. Bahkan ajaran Marxisme yang semula telah menjadi momok bagi masyarakat sekarang, tetah kembali. dijadikan sebagai kajian knitis terutama di lembaga pendidikan tinggi. Tapi di lain pihak, masih domiannya aparat birokrasi warisan Orde Baru yang anti perubahan dan memakai pola-pola seperti intimidasi, teror, dan kontrademo untuk memaksakan kehendaknya, merupakan tantangan tersendiri sekaligus merupakan tantangan berat bagi guru.
          Demikian pula, tingkat kemakmuran yang tinggi dan membajirinya arus informasi ke hadapan kita. juga ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, ketajaman pisau itu dapat membantu kita mengatasi persoalan, manakala kita mampu memanfaatkannya secara efektif. Tapi di sisi lain, dapat menusuk diri kita sendiri gga bisa menimbulkan kernatian, manakala kita terlena pada kemakmuran dan derasnya arus informasi sehingga malas sekaligus.bingung tentang apa yang harus dilakukan sekarang maupun yang akan datang. Tidak sedikit orang yang mencapai kmuran cukup tinggi dan ditopang oleh arus informasi yang A tidak menghasilkan karya satu pun. Sebaliknya, banyak a-karya besar lahir dari keterbatasan. Tugas guru di sini ah bagaimana membuka pintu kesadaran, sekaligus memberikan motivasi dan inspirasi kepada murid agar mampu memanfaatkan informasi yang berlimpah untuk berkarya.
Guru juga dituntut kernampuannya untuk menjelaskan kakteristik perkembangan daerah yang berbeda-beda dan cenderung timpang yang satu jauh lebih cepat dari pada yang, yang akan menimbulkan masalah ketidakadilan yang cukup menonjol. Hal itu penting, sebab bila pemahaman terhadap salah ini rendah dan ticlak pernah memperoleh perhatian, dapat mendorong munculnya konflik horizontal sekaligus memperkuat gejala disintegrasi bangsa yang sejak dua tahun terakhir menjadi potensi konflik yang termanifestasikan ke permukaan. Masalah ini agak krusial, karena bukan hanya menyangkut soal pilihan sistern negara (kesatuan atau federal), tapi lebih dari itu, menyangkut masalah-masalah kemanusian Sebab, setiap konflik selalu membawa korban jiwa, dan yang menjadi korban adalah masyarakat awam yang tidak mengetahui substansi konfliknya.
          Menyadari begitu beratnya tantangan ke depan Yang harus dihadapi oleh para guru, terutama dalam mempersiapkan remajanya memasuki milenium ketiga, sangat mungkin menimbulkan kegamangan di antara mereka sendiri. Tapi bila yang berhenti pada kegamangan saja, mereka tidak akan mempunyai kontribusi dalam membentuk wajah masa depan. Oleh sebab itu, yang terpenting adalah mencoba memberikan sumbangan semampunya dari pada tidak sama sekali. Simaklah nasihat Bung Karno puluhan tahun silam:

Yang terpenting bagi seseorang
adalah terus dan selalu
mengerjakan
sebaik mungkin segala sesuatu
yang ia anggap benar

Apa dan bagaimanapun hasil akhir
dari pekerjaan itu ...
Serahkanlah pada Tuhan!

Mungkin tercapai 100%,
Mungkin setengah tercapai,
Mungkin pula tidak tercapai
sama sekali menurut
keinginanmu ...
Itu tidak penting!
Engkau harus yakin
telah mengerjakan
dengan sebaik-baiknya

Dengan demikian
engkau tidak menyesal

dan percayalah…
Bahwa keputusan Tuhan adalah
Terbaik untukmu

( Ir. Soekarno )


2 komentar:

Haf Sari mengatakan...

Hilangnya Peran Guru
sebuah judul yang membuat saya ingin membacanya, namun karena terlalu panjang jadi tidak bisa membaca secara seksama dan sepertinya kita berbeda pendapat.
melihat paragraf pertama, tidak setuju jika sekarang orang malas gaji sedikit. Sekarang banyak sekali yang tertarik menjadi guru. Dan yang terjadi sekarang menurutku Hilangnya peran guru karena Tidak semua guru memiliki Jiwa mendidik dan pengabdian.
Salah satunya sering aku lihat tingkah guru memberi contoh tidak baik Contoh menyalakan musik barat dengan keras saat waktu jam pelajaran. Menggunakan perlengkapan sekolah ( komputer ) bukan untuk menyelesaikan pekerjaan tapi untuk main game. DLL

pak say sing ganteng mengatakan...

Terima kasih atas commentnya. Pendapat anda secara komprehensip memang sesuai fakta. namun masih belum mencerminkan substansinya. saudara melihat itu kasus perkasus, padahal secara tidak sengaja anda setuju dengan pendapat saya. anda mengatakan bahwa guru hanya suka main game dengan komputernya dari pada melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi siswanya (desain pembelajaran yang baik). itulah salah satu alasan mengapa guru kehilangan perannya. paradigma yang saudara sampaikan itu memang tidak salah. masalah sekarang banyak yang tertarik dengan gaji guru, penulis melihat dua hal yang esensi yaitu:
1. kondisi ekonomi negara yang menyebabkan alumni sarjana non kependidikan beralih fung si menjadi pendidik, apalagi pada tahun 2009 akhir pemerintah masih memberikan kesempatan untuk mencari akta IV bagi guru yang lulusan non kependidikan.
2. Mengejar nilai nominal. adanya program sertifikasi, dan inpassing itulah yang menjadikan barometer dan mobilitas bagi mereka yang ngangggung dan tidak punya pekerjaan untuk mengejar hal-hal yang bersifat absurd belaka. satu kata bijak guru tidak hanya jabatan profesional namun sebagai amanah. intinya orang menjadi guru sebenarnya bukan panggilan hati (seperti bapak oemar bakri) tetapi hanya panggilan materi. coba anda ingat dulu tahu 70 an orang enggan jadi guru karena gaji guru kecil hingga masa pemerintah habibie dan gus dur. baru nasib guru diperhatikan karena merasa itu adalah amanah UUD 45.jadi secara kesimpulan adalah hilangnya peran guru itu karena guru tidak mempunyai kekuatan untuk melawan birokrasi karena guru tidak mampu secara finansial dan kemampuannya, sehingga dia hanya sebagai boneka di negeri ini.

Memuat...
Loading...
Check Google Page Rank