CABANG-CABANG FILSAFAT


a. logika
Logika mierupakan cabang filsafat yang membicarakan aturan-aturan berpikir agar dengan aturan-aturan tersebut dapat diambil kesimpulan yang benar .6 Dengan kata lain, logika adalah Pengkajian yang sistematis tentang aturan-atura untuk menguatkan premis-premis atau sebab-sebab mcngenai konklusi aturan-a turan itu, sehingga dapat kita pakai untuk membedakan argumen yang baik dari argumen yang tidak baik.
Logika dibagi dalam dua cabang utama, logika deduktif dan logika induktif. Logika deduktif berusaha menemukan aturan-aturan yang dapat dipergunakan untuk menarik kesimpulan-kesimpulan yang bersifat keharusan dari satu premise tertentu atau lebih, sedang logika induktif mencoba menarik kesimpulan tidak dari susunan proposisi-proposisi melainkan dari sifat-sifat seperangkat bahan yang diamati. Logika ini mencoba untuk bergerak dari suatu peranght fakta yang diamati secara khusus menuju kepada pernyataan yang bersifat umum mengenai semua fakta yang bercorak demikian, atau bergerak dari suatu perangkat akibat tertentu. menuju kepada sebab atau sebab-sebab dari akibat-akibat tersebut.
Dalam logika, pertanyaan-pertanyaan fundamental yan,, hendak dijawab adalah: Apakah aturan-aturan bagi penyin pulan yang sah? Apakah ukuran-ukurannya bagi hipotesa yan baik? Apakah corak-corak penalaran yang logis itu? Apakah yang menyebabkan tersusunnya sebuah definisi yang baik. Dan sebagainya.

b. Ontologi
Otologi atau sering Juga disebut metafisika adalah cabang yang membicarakan tentang hakikat segala sesuatu yang ada, atau membahas watak yang sangat mendasar (ultidari benda atau realitas yang berada di belakang pengaalaman yang langsung (immediate experience). Bagi Aristo istilah metafisika berarti filsafat pertama (first philosophy). Istilah "Pertama" tidak berarti bahwa bagian filsafat ini ditempatkan di depan, tetapi merujuk dari kedudukan tingkat pentingnya. Filsafat pertama menyelidiki pengandaian-pengandaian paling mendalam dan paling akhir dalam pengetahuan manusia, yang mendasari segala macam pengetahuan dan segala usaha filsafat lainnya.
Karena ontologi itu berbicara tentang segala hal yang ada, pertanyaan-pertanyaan yang akan dibongkarnya menjadi terbatas, misalnya apakah hakikat ruang, waktu, gerak, materi, dan perubahan itu? Apakah yang merupakan asal mula jagat raya ini? Apakah jiwa dan badan itu? Dan lain sebagainya

c. Epistemologi
Cabang filsafat yang menyelidiki asal mula, susunan, metode, dan sahnya pengetahuan adalah epistemologi. Pertanyaan yang mendasar adalah: Apakah mengetahui itu? yang merupakan asal mula pengetahuan kita? Bagaiah cara kita mengetahui bila kita mempunyai pengetahuan? Bagaimanakah cara kita membeclakan antara pengetadengan pendapat? Apakah yang merupakan bentuk ahuan itu? Corak-corak pengetahuan apakah yang ada? manakah cara kita memperoleh pengetahuan? Apakah kebenaran dan kesesatan itu? Apakah, kesalahan itu? Dan lain sebagainya.

d. Etika
Kata etika digunakan dalam tiga hal yang berbeda tetapi memiliki hubungan antara yang satu dengan lainnya. Pertama, etika berarti suatu pola umum atau way.of life seperti etika Budhist atau etika Kristen. Kedua, etika berarti seperangkat aturan-aturan tingkah laku atau moral code, seperti profesi. Ketiga, etika berarti penyelidikan mengenai way of life atau aliran-aliran tingkah laku. Dalam pengertian yang terakhir inilah etika merupakan cabang filsafat yang biasa disebut sebagai meta-etika."

Sebagai salah satu wilayah kajian filsafat, etika yang juga dipadankan dengan filsafat moral, lebih menekankan pada upaya pemikiran kefilsafatan tentang moralitas, problem moral, dan pertimbangan moral. 13 Dengan demikian, etika sebagai salah satu domain kajian filsafat tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan tentang baik dan buruk atau berkaitan dengan sisi normatif suatu tingkah laku saja, akan tetapi etika juga mencakup analisis-konseptual mengenai hubungan yang dinamis antara manusia sebagai subyek yang aktif dengan pikiran-pikirannya sendiri dengan dorongan dan motivasi dasar tingkah lakunya, maupun dengan cita-cita dan tujuan hidup, serta perbuatan-perbuatannya.

Dalam hal etika ini, pertanyaan-pertanyaan yang hendak dicarikan jawabannya adalah: Apakah yang menyebabkan suatu perbuatan yang baik itu adalah baik? Bagaimana cara kita melakukan pilihan di antara hal-hal yang baik? Apakah yang dimaksud dengan kebaikan, keadilan, kejujuran, dan kebahagiaan? Dan lain sebagainya.

e. Estetika
Estetika merupakan cabang filsafat yang membicarakan definisi, susunan dan peranan keindahan, khususnya di dalam seni. Dalam hal ini, yang menjadi pertanyaan para filsuf adalah: Apakah keindahan itu? Apakah hubungan antara yang indah degan yang benar (epistemologi) dan yang baik (etika)? Apakah ada ukuran yang dapat dipakai untuk menanggapi suatu karya seni dalam arti yang obyektif? Apakah fungsi keindahan dalam
hidup kita? Apakah seni itu sendiri? Apakah seni itu hanya sekedar reproduksi alam, kodrat belaka, ataukah suatu ungkapan perasaan seseorang, ataukah suatu penglihatan ke dalam kenyataan terdalam ?
Masing-masing dari cabang filsafat ini pada dasarnya tidak dapat dipisahkan secara tegas. Pernilahan itu hanya sekedar pemetaan wilayah kajian yang pada intinya, apapuh persoalan yang ada dalam kehidupan ini saling terkait secara ketat dalam lingkaran cabang-cabang filsafat ini. Sebagai contoh, kita mengajukan persoalan yang bersifat kesusilaan sebagai berikut: Apakah manusia bertanggungjawab aras perbuatannya? Dengan segera muncul dihadapan kita sejumlah pertanyaan yang harus dijelaskan terlebih dahulu, bahkan sebelum pertanyaan itu diberi jawaban yang bersifat sementara. Apakah manusia itu? Ini merupakan pertanyaan antropologi kefilsafatan. Apakah perbuatan-perbuatannya itu? Ini menyangkut pertanyaan tentang sebab-akibat dan karenanya merupakan pertanyaan tentang hakikat kenyataan. Bagaimanakah caranya untuk dapat menentukan hal-hal yang merupakan perbuatannya? Pertanyaan ini berkaitan dengan metode. Dernikianlah seterusnya. Dari adanya saling keterhubungan ini, masalah yang memerlukan jawaban secara filosofis tidak serta merta harus dijawab "ya" atau "tidak" dengan tegas. Akan tetapi, pertanyaan-pertanyaan filosofig itu biasanya memerlukan jawaban “ya” atau “tidak” dengan pertimbangan jika, tetapi, barangkali atau sebaiknya.

sumber: Kajiqan Filosofis Pendidikan Barat dan Islam. Dr. Sembodo Ardi Widodo

0 komentar:

Memuat...
Loading...
Check Google Page Rank