Ketika Surga Berbentuk Orang Tua


Surga dibawah telapak kaki ibu. Sebuah ungkapan sederhana namun memberi pengertian amat mendalam. Tidak semua anak dapat memahami secara substansial kandungan mutiara di dalamnya. Ridho Allah itu karena ridho orang tua kita, murka Allah itu pun karena murka orang tua juga. Rasanya tidak pantas kita sebagai anak berkata kasar, ea…oe…upz atau yang lainnya yang dalam tatanan hukum islam secara syar’i kurang sopan, dan tentu menyinggung perasaan beliau. Terus terang saya terketuk hati ini, bahkan menjerit ketika membaca ungkapan hati dari seorang anak terhadap kedua orang tuannya dengan pernyataan seperti di account FB saya. Itu fakta bukan fitnah.
Ternyata memang benar apa yang telah ditulis oleh Ki ronggo Warsito dalam ramalannya yaitu salah satu jaman akhir adalah “wong wedok ilang wirange” (orang perempuan sudah hilang rasa malunya). Saya menulis ini berdasarkan hati nurani bukan nafsu belaka. Perspektif anak hanya melihat persoalan dari satu sisi saja yaitu kepentingan pribadinya, sementara dia tidak bisa melihat sisi baiknya yang telah direncanakan Allah melaluhi kedua orang tuanya. Antara bisikan malaikat dan setan tidak dapat disatukan, karena memang itu dua hal yang berlainan dan saling bertolak belakang.
Derita orang tua kita sudah dirasakan semenjak kita dalam kandungan beliau. Bahkan ketika kita masih berumur satu bulan ibu sudah disiksa dengan mual dan muntah sampai-sampai melihat nasipun jadi alergi, padahal nasi adalah kebutuhan pokok untuk menciptakan stamina badan. Lihatlah, ibu tidak pernah mengeluh lebih-lebih putus asa. Ketika umur 9 bulan ibu sudah disiksa tidak dapat tidur karena kondisi badan yang membesar. Sampai akhirnya kita lahir di dunia dengan taruhan nyawa beliau. Rasa sakit yang tiada duanya menjadi satu melebur di badan bagai godam yang menghantam tubuh. Namun, semuanya itu hilang ketika ibu melihat kita lahir dengan selamat. Memberinya ASI hingga kita dewasa bahkan ibu pun rela mengantar kita pergi kesekolah hingga kita tumbuh dewasa. Tahukan kamu bahwa ibu kita sering hutang ke tetangga karena tuntutan sekolahmu membanyar SPP pada batas waktunya, padahal ibu tidak punya uang. Tahukah kamu !!! ibu kita sering kelaparan karena tak ingin melihat kita tidak makan. Subhanallah. Apakah pantas pengorbanan yang besar ini kita lukai dengan perkataan kita seperti itu. Walau ibu tidak melihat dan tahu, tetapi Allah, lebih tahu. Saya yakin kita akan sulit mencari berkah hidup jika akhlak kita tidak penah dijaga terhadap kedua orang tua kita. Seandainya semua gunung dimuka bumi ini kita sulap menjadi emas intan permata untuk dipersembahkan buat orang tua kita, rasanya tidak cukup jika dibandingkan dengan pengorbaan beliau.
Perubahan zaman dari waktu ke waktu memang merubah paradigma akhlakul karimah anak terhadap orang tua kita. Pengaruh lingkungan yang sengaja dihembuskan oleh para iblis terhadap anak-anak zaman sekarang memang sudah cukup signifikan. Prilaku anak yang kadang menyimpang dari aturan norma, agama dan sekaligus social masyarakat, sepertinya sudah tidak begitu dihiraukan lagi. Mereka hanya merasa terganggu dengan petuah-petuah orang tuanya yang dianggap telah mengganggu dunia mereka. Padahal tidak, kitalah yang salah dengan cara berusaha memberontak secara prilaku.
Berbuat baik kepada ibu bapak merupakan satu amalan yang besar di dalam Islam. Allah SWT telah meletakkan amalan berbakti kepada ibu bapak sebagai amalan yang kedua tertinggi setelah mentauhidkan Allah. Ini disebutkan di dalam banyak ayat-ayat Quran, salah satu diantaraya adalah
"Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah (beribadah) selain Dia dan HENDAKLAH BERBUAT BAIK KEPADA KEDUA IBU BAPAK. Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya telah sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan "Ah!" dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu kepada keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah "Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku pada waktu kecil" (Surah al-Isra': 23-24)
Dan di dalam hadis lain diceritakan oleh Muawiyyah bin Jahimah r.a:
Bahawasanya Jahimah r.a. datang kepada Rasulullah sallahua'laihiwassalam dan berkata: 'Wahai Rasulullah, aku ingin berperang, dan aku datang kepadamu untuk bermusyawarah'. Maka Beliau sallahua'laihiwassalam bersabda: "Apakah engkau masih mempunyai ibu?" Ia menjawab, "Ya." Beliau sallahua'laihiwassalam bersabda: "Hendaklah engkau tetap berbakti kepada ibumu kerana sesungguhnya syurga berada di bawah telapak kaki ibu"
Dalam penjelasan itu jelas sekali berbakti kepada orang tua adalah jihat fisabilillah, termasuk ketika anak perawan dipihkan jodoh oleh kedua orang tuanya. Begitulah bentuk jalan ke surga bagaikan minum jamu, rasanya pahit sekali. Namun memberikan kesehatan tubuh dihari kemudian. Orang tua adalah simbul jalan menuju surga penuh cobaan dan tantangan. Tersiska batin karena merasa dunia kesenangan kita di campuri dan dihalang-halangi. Hati-hati dengan seorang pacar, mungkin salah satu bentuk iblis yang suatu saat dapat mempengaruhi rasa bakti kita terhadap orang tua. Dia bias berprilaku baik sekaligus juga buruk terhadap akhlakul karimah kita pada orang tua.
Harapan saya, semoga tulisan ini memberikan pencerahan kita semua untuk selalu menjaga perasaan kedua orang tua kita, semoga (WI)


0 komentar:

Memuat...
Loading...
Check Google Page Rank